Perekonomian pada Masa Bani Umayyah (Kemajuan-Kemunduran)

     Iklan (Tutup K!k 2x)
     Iklan (Tutup K!k 2x)
Keadaan perekonomian pada masa bani umayyah (faktor kemajuan dan kemunduran). Secara umum, dama sejarah islam kita mengenal beberapa masa pemerintahan, yaitu masa pemerintahan nabi Muhammad Saw, masa khulafaur rasyidin, masa bani umayyah, dan masa bani abbasiah. Dari beberapa masa itu, ad salah satu masa yang dianggap sebagai masa keemasan pencapaian sejarah, yaitu masa dinasni bani umayah.

Kemajuan pemerintahan bani umayah telah terjadi di berbagai bidang, salah satunya yaitu bidang ekonomi. Di bidang perekonomian, selama masa bani umayyah telah melahirkan berbagai kebijakan yang membawanya pada arah kemajuan, namun juga membawa pada arah kemunduran. Untuk lebih mengetahui bagaimana perekonomin bani umayah terutama yang membawanya pada kemajuan dan kemunduran, kali ini kami akan membagikan keadaan ekonomi pada masa bani umayyah

Keadaan Ekonomi Pada Masa Bani Umayyah

Ketika  pemerintahan bani umayyah berada di tangan Khalifah Abdul Malik Ibn Marwan, kondisi dinasti umayah ini relative stabil. Kondisi ini terjadi, karena bani Umayyah mendapatkan dukungan al-hajjaj, seorang panglima penakluk mekah yang bertangan besi, memimpin wilayah sebelah timur yang merupakan propinsi yang sangat berbahaya dari segi keamanan.

Dengan adanya kerjasama tersebut, menghasilkan pemerintahan yang kuat yang ditandai dengan meningkatkan anggaran pemerintahan untuk berbagai macam pekerjaan umum, diantaranya adalah pembangunan prasarana dan masjid-masjid diberbagai propinsi, dan yang terbesar ialah pembangunan Doem of the rock (Qubbah al-Sahra) di atas masjid al-aqsha di Jerusalem.

Upaya pembangunan prasarana di atas, menjadikan pertanian dapat berkembang dengan pesat hasil uang menonjol seperti gandum, padi, tebu, jeruk, kapas, dan sebagainya. Demikian juga, industri kulit, dan tenun mengalami kemajuan yang cukup bagus. Hasil pertanian dan perindrustrian dipasarkan sampai ke india dan Asia Tenggara.

Pengganti khalifah Abd al-Malik adalah anaknya yang bernama Walid ibn Abd al-Malik, yang mewarisi dua hal penting. Pertama, kekayaan yang melimpah dari hasil berbagai penaklukan. Kedua, mata uang arab yang telah dibakukan. Karena itu, masa pemerintahan Walid ini dipandang sebagai puncak kejayaan dinasti umayah, sedangkan pada masa-masa kekalifahan sesudahnya mulai terlihat tanda-tanda kemerosotan dan hampir tak terlihat lagi peristiwa-peristiwa penting yang dapat dikatakan sebagai kemajuan ekonomi. Di zaman walidlah ekspansi pasukan islam ke wilayah barat dilakukan.


Faktor Kemajuan Ekonomi Pada Masa Daulah Bani Umayyah

Selama dinasti bani Umayyah memerintah, kemajuan di bidang ekonomi didukung oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mendukung kemajuan bani Uamyyah antara lain :
1. Kemajuan perekonomian dari sektor perdagangan
setalah daulah Umayyah berhasil menguasai wilayah yang cukup luas, maka lalu lintas perdagangan mendapat jaminan yang layak, baik melalui jalan darat maupun laut. Pada jalan darat umat islam mendapatkan keamanan untuk melewati jalan sutra menuju tiongkok guna memperlancar perdagangan sutra, keramik, obat-obatan, dan wangi-wangian. Pada jalur laut kea rah negeri-negeri belahan timur untuk mencari rempah-rempah, bumbu, kasturi, permata, logam mulia, gading, dan bulu-buluan. Sehingga dengan demikian basrah di teluk Persia pada saat itu menjadi pelabuhan dagang yang cukup ramai.

2. Kemajuan perekonomian dari sektor pertanian dan industri
Dalam bidang pertanian Umayyah telah memberi tumpuan terhadap pembagunan di sector pertanian, beliau telah memperkenalkan sistem irigrasi (pengairan) yang bertujuan meningkatkan hasil pertanian.

3. Kemajuan perekonomian dari sektor reformasi fiskal
Selama pemerintahan Umayyah semua pemilik tanah baik yang muslim dan nonmuslim, diwajibkan membayar pajak tanah, sementara itu pajak kepala tidak berlaku lagi bagi penduduk muslim, sehingga banyak penduduk yang masuk islam secara ekonomi hal ini yang melatar belakangi berkurangnya penghasilan Negara. Namun demikian, dengan keberhasilan Umayyah melakukan penaklukan imperium Persia dan Byzantium maka sesungguhnya kemakmuran daulah ini sudah melimpah ruah.

Pada masa umar bin abdul aziz, beliau memiliki pandangan bahwa menciptakan kesejahteraan masyarakat bukan dengan cara mengumpulkan pajak sebanyak-banyaknya seperti yang dilakukan oleh para khalifah Bani Umayyah sebelum Umar, melainkan dengan mengoptimalkan kekayaan alam yang ada, dan mengelola keuangan Negara dengan efektif dan efisien. Keberhasila dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat inilah yang membuat Umar Bin Abdul Aziz tidak hanya disebut sebagai pemimpin Negara, tetapi juga sebagai fiskalis muslim yang mampu merumuskan, mengelola, dan mengeksekusi kebijakan fiskal pada masa kekhalifahannya.

4. Kemajuan perekonomian dari sektor pembuatan mata uang
Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan (65-86H), beliau membuat kebijakan untu memakai mata uang sendiri. Pemrintah saat itu mendirikan tempat percetakan mata uang di Daar idjard. Mata uang dicetak secara terorganisir dengan control pemerintah, kemudian pada tahun 77H/697M, khalifah Abdul Malik mencetak dinar khusus yang bercorak islam yang khas, berisi teks islam, ditulis dengan tulasan kufi. Gambar-gambar dinar lam diubah dengan lafadz-lafadz islam seperti Allahu Ahad, Allah Baqa’. Sejak saat itulah umat islam memiliki dinar dan dirham islam sebagai mata uangnya dan meninggalkan dinar Bezantium dan dirham Kirsa.


Faktor Kemunduran Ekonomi Pada Masa Daulah Bani Umayyah

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa dinasti bani umayyah telah mengalami kemunduran dan kehancuran. Ada beberapa faktor yang menjadi alasan kemunduran dan kehancuran bani umayyah, antara lain :
1. Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidak jelasan system pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
Perekonomian pada Masa Bani Umayyah (Kemajuan-Kemunduran)

2. Pada masa kekuasaan Bani umayyah, pertentangan etnis antara suku Arab Utara (Bani Qays) dan Arabia selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Di samping itu, sebagian besar golongan mawali (non-Arab), terutama di irak  dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas karena status mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.

3. Latar belakang terbentuknya dinasti umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi yang terjadi dimasa Ali. Sisa-sisa syi’ah (para pengikut Ali) dan khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka, seperti di masa awal dan akhir maupun secara sembunyi seperti dimasa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan gerakan-garakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.

4. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas ibn Abd Al-Almunthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah dan kaum Mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Umayyah

5. Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup yang mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup mewarisi kekuasaan. Di samping itu, golongan agama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.

Silahkan berkomentar . .
EmoticonEmoticon