Monday, April 24

Jasa-Jasa Sunan Kalijaga dan Murid-Muridnya yang Terkenal

A. Jasa Sunan Kalijaga

Sebagai salah seorang walisongo, sunan kalijaga telah memberikan jasa-jasa yang luar biasa khususnya dalam perkembangan agama islam di tanah Jawa. Dalam artikel ini, jasa sunan kalijaga dibagi menjadi dua, yaitu jasa sunan kalijaga sebagai da’i, dan jasa sunan kalijaga dibidang seni dan budaya. Berikut ini penjelasan lengkapnya.

a. Jasa Sunan Kalijaga sebagai Da'i (Muballigh)
Beliau dikenal sebagai seorang yang dapat bergaul dengan segala lapisan masyarakat. Dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Jika para wali lain kebanyakan hanya berda'wah di daerahnya saja dengan cara mendirikan Padepokan atau Pesantren maka sunan Kalijaga dikenal sebagai Muballigh keliling yang kondang.

Dengan memanfaatkan kesenian rakyat yang ada, beliau dapat Bergaul dan mengumpulkan rakyat untuk kemudian diajak mengenal Agama lslam. Beliau ahli menabuh gamelan, pandai mendalang, pandai menciptakan tembang yang kesemuanya itu dipergunakan untuk kepentingan da'wah dan mensyi'arkan agama lslam islam.

Terhadap adat istiadat rakyat beliau tidak langsung menentang secara tajam dan frontal yang akhirnya hanya membuat mereka lari dan enggan belajar dan mengenal agama lslam. Beliau mendekati rakyat yang masih awam, yang masih berpegang pada adat lama dan diberinya adat lama itu warna-warna lslami. Dengan caranya yang luwes tersebut, maka banyaklah orang Jawa yang bersedia masuk agama Islam.

b. Jasa Sunan Kalijaga sebagai Ahli Seni
Sebagai seorang seniman jasa-jasa sunan kalijaga sungguh sangat luar biasa. Di antara jasa-jasa beliau dalam kesenian yang dijadikan sarana untuk perjuangan agama lslam adalah :

1. Dalam bidang seni bangunan. 
Dalam pembangunan masjid Demak beliau membuat tiang dari Tatal (potongon - potongan kayu kecit-kecit) yang disusun rapi sehingga menjadi tiang yang kuat. Ketika ditanya oleh para wali lain mengapa beliau membuat soko (Tiang) dari Tatal beliau menjawab "Kangmas wali yang terhormat, biarpun dari tatal yang kecil kecil ini tapi kalau disatukan maka ia akan memiliki kekuatan seperti kayu Gelondongan" jawab Sunan Kalijaga. Dan kenyataannya Soko buatan Sunan Kalijaga masih ada sampai sekarang. Masyarakat menyebutnya "Soko Tatal".

2. Dalam bidang pakaian atau busana
Sunan Kalijaga yang pertama kali menciptakan baju Taqwa, baju Taqwa ini akhirnya disempurnakan oleh Sultan Agung dengan destar nyamping dan keris serta rangkaian lainya.

3. Dalam bidang Media Dakwah
Sunan Kalijaga yang memprakarsai Grebek Maulud Sekaten yaitu suatu acara semacam pengajian akbar yang diselenggarakan para wali di depan masjid untuk memperingati Maulid Nabi. Dalam kesempatan itu juga diadakan musyawarah tahunan para wali. Di depan masjid itu juga dipasang gamelan dan komplek masjid dirias dengan hiasan-hiasan yang indah.

Setiap penduduk yang ingin masuk diharuskan membaca dua kalimat Syahadat. Sesudah pengunjung melimpah maka gemelan ditabuh disertai tembang tembang keagamaan kemudian diselingi ceramah atau da'wah para wali. Perayaan itu berlangsung seminggu penuh.

Pada Zaman itu belum disebut Gerebeg, kata Gerebeg baru ada dizaman Surakarta dan Yogyakarta. Gerebeg artinya mengikuti Sultan dari Keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan peringatan Maulid Nabi SAW. Adapun arti Sekaten adalah dari Bahasa Arab Syahadatain

Yang dimaksud dengan Sekaten adalah dua buah gamelan yang diciptakan Sunan Kalijaga dan ditabuh pada hari-hari tertentu. Nama Gamelan itu semula adalah Kyai Nagawila dan Kyai Muntur Madu. Sekarang disebut Kyai Sekati dan Nyai Sekati. Gamelan itu misalnya dibunyikan pada hari Jum'at atau hari-hari besar lslam lainnya. Karena rakyat senang mendengar bunyinya maka rnereka berkumpul untuk mendengarkan di depan masjid Denrak, bild mereka sudah berkumpul para Wali memberi ceramah agama lslam.

Jasa sunan kalijaga yang lain antara lain :
1. Sunan kalijaga yang telah menciptakan falsafah Gong Sekaten, menciptakan wayang kulit, karena pada zaman sebelum wali, hanya ada wayang beber yaitu gambarnya setiap adegan dibeber pada sebuah kulit. Gambarnya adalah berupa manusia. Kemudian oleh Sunan Kalijaga dirubah menjadi bentuk wayang kulit seperti sekarang ini.
2. Diantara tembang ciptaan Sunan kalijaga yang masih akrab di kalangan rakyat Jawa hingga sekarang ini adalah Tembang "Lir llir.
3. Beliau juga yang menciptakan Tembang Dandang Gula dan Dandang Gula Semarangan. Sunan Kalijaga juga yang menyuruh Ki Pandanarang untuk membuat bedhuq.

B. Murid Sunan Kaliiaga

Murid Sunan Kalijaga itu banyak Sekali. Di antara murid beliau yang terkenal adalah :
1. Ki Pandanarang
Ki Pandanarang adalah Adipati Semarang yang kaya raya tetapi sangat pelit. Setelah menjadi murid Sunan Kalijaga, ia menjadi seorang yang dermawan, tekun di dalam menjalankan perintah agama islam. Dialah yang membangun Masjid di Semarang dengan Bedhuk dari kayu pilihan dan kulit lembu yang bagus. Ki Pandanarang telah menjadi orang yang sangat tekun dalam menjalankan perintah agama. Masayarakat Semarang sering menyebut Ki Pandanarang sebagai "Sunan Bayat"

Jasa Sunan Kalijaga dan Murid-Muridnya

b. Ki Cokrojoyo
Ki cokrojoyo adalah seorang lelaki miskin yang kerjanya tiap hari membuat gula nira sebagai mata pencahaiiannya. Biasanya setelah membuat gula nira dia metagukan tembang ciptaannya sendiri. suatu hari datanglah sunan Kalijaga mengajarkan tembang yang berisikan Dzikir kepada Kicokrojoyo. Dengan suara merdu Ki cokrojoyo tiap hari melagukan tembang ajaran-sunan Kalijaga itu. Akhirnya ia menjadi murid Kanjeng sunan Kalijaga dan beigelar "Sunan Geseng"

c. Ki Ageng Selo
Menurut cerita, Ki Ageng seto adalah murid sunan Kalijaga. Ki Ageng selo memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Di antira kesaktianya adalah konon beliau dapat menangkap petir. Itulah diantara murid-murid sunan Kalijaga, sebenarnya Murid sunan kalijaga itu cukup banyak, juga  kisahnya juga cukup panlang, namun tidak bisa disebutkan semuanya di sini.
Sunday, April 23

Kisah Sunan Kalijaga Berguru Kepada Sunan Bonang

Kisah Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang - Sunan Kalijaga merupakan salah satu walisongo yang ada di pulau jawa. Pada artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa sunan kalijaga (nama aslinya Raden Syahid atau Raden Said) pernah menjadi perampok. Tentu tujuan sunan kalijaga merampok tidak untuk memperkaya diri sendiri, akan tetapi untuk membantu fakir miskin, khususnya disekitar daerah Tuban. Singkat cerita, pada akhirnya sunan kalijaga merampok orang berjubah yang ternyata adalah Sunan Bonang. Berkat kemampuan dari Sunan Bonang, Raden Syahid akhirnya sadar untuk tidak merampok lagi dan ingin berguru kepada Sunan Bonang. Kisah sunan kalijaga yang berguru kepada sunan bonang adalah tema yang akan dibahas dalam artikel ini.

Dalam kisah sunan kalijaga yang ingin berguru kepada sunan bonang, sunan Bonang sanggup menerima Raden Syahid sebagai muridnya asalkan dia sanggup pula menerima ujian kesabaran. Di samping harus terlebih dahulu membersihkan diri, suci, lahir maupun batin. Namun sebelum ilmu itu diberikan, Sunan Bonang menguji kesetiaan dan kesungguhan Raden Syahid, beliau menancapkan tongkatnya di pinggir kali.

Tolong kau jaga tongkatku ini, jangan disentuh. Tunggu aku sampai aku kembali untuk mengajarkan ilmu kepadamu. Kanjeng Sunan kepada Raden Syahid. Sambil berkata begitu, Kanjeng sunan pergi meninggalkan Raden Syahid di tepi kali. Dengan setia Raden Syahid duduk bersila menunggu tongkat itu sambil menantikan kedatangan Kanjeng Sunan kembali.

Beberapa hari telah terlalu namun kanjeng sunan belum juga muncul. Raden Syahid yang sudah bertekad bulat ingin menuntut ilmu tetap menanti dengan setia. la lebih baik mati dari pada tidak menjadi murid Kanjeng Sunan,

Perputaran waktu telah berjalan begitu cepat. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Raden syahid tetap duduk bersila tanpa mengenal panas, hujan dan angin dan entah sudah berapa lama ia duduk di situ tanpa makan dan minum hingga tak terasa semak belukar di sekitarnya tumbuh menjadi hutan kecil. Apabila musim kering tiba, maka ia terkena panas matahari, dan apabila musim hujan tiba, ia terendam air di kali. Tubuhnya yang semula segar, kini menjadi kering. Wajahnya yang bersih, kini tumbuh kumis dan jenggot. Dan tidak terasa sekujur tubuhnya dilingkari akar tumbuh-tumbuhan liar. Begitu tekun dan setianya Raden Syahid di tepi kali sebagai pertapa hingga tanpa terasa di kepalanya ada burung yang sedang bersarang.

Orang-orang yang melewati tempat tersebut mula-mula merasa aneh melihat seorang laki-laki muda duduk bersila. mereka menamakan pemuda itu sebagai penjaga kali.

Setelah beberapa tahun lamanya, kanjeng Sunan Bonang teringat pada Raden Syahid yang menjaga tongkatnya di pinggir kali itu, lalu beliau kembali menemui Raden Syahid. Ternyata pemuda itu masih duduk bersila sebagaimana ketika ditinggalkan. Kanjeng Sunan diam-diam memuji ketabahan Raden Syahid, dan yang paling menyedihkan adalah sekujur tubuhnya dilingkari tetumbuhan liar. Dengan langkah pasti, Kanjeng Sunen menghampirinya seraya mengucapkan salam.

"Assalamu'alaikum!" berkali-kali Kanieng sunan Bonang memberi salam kepada Raden syahid. Tetapi Raden syahid tak menjawabnya seolah-olah telah mati. Dengan penuh kasih sayang Kanjeng sunan membersihkan tubuh Raden syahid, namun Raden Syahid hanya diam saja. Pemuda itu tampak semakin tua, kumis dan jenggotnya tumbuh memanjang di wajah.

"Baru kali ini aku menemukan murid yang setabah ini, sekian tahun kutinggalkan di tempat ini, namun tetap duduk tanpa berubah sedikitpun. lni adalah muridku yang seiati dengan berkat tuhan yang maha pengasih sadarlah kamu". gumam Kanjeng sunan Bonang. Perlahan-lahan pemuda yang pucat itu mulai bergerak-gerak Raden syahid masih hidup meskipun sudah sekian tahun tidak makan dan tidak minum. semua itu berkat kekuasaan Tuhan.

Bagaikan sadar dari mimpi, Raden Syahid merasa sangat terkejut melihat keadaan dirinya sendiri. Dia telah menjadi laki-laki berkumis dan berjenggot. tetapi ia tidak lupa orang berjubah dihadapannya itu adalih gurunya.

"Sudah waktunya anak muda, sudah waktunya kamu menerima ilmu sejatinya hidup ini, bersihkan tubuhmu dan jauhkan dari sifat iri dan dengki", kata Kanjeng sunan dengan nada kasihan. "Terima kasih", jawab Raden Syahid lemah.

Demikianlah, akhirnya Raden syahid benar-benar menjadi murid sunan Bonang, karena ia lulus dalam menghadapi ujian, Beliau diajarkan ilmu syari'at, Haqiqot dan Thoriqoh yang bisa menyelamatkan umat manusia didunia dan di akhirat, akhirnya beliau menjadi seorang salah seorang wali Allah yang bergelar "sunan Kalijaga".

Sunan Kalijaga Berguru Kepada Sunan Bonang

Nama Kalijaga sendiri diambil dari peristiwa Raden syahid yang menjaga tongkat Sunan Bonang di tepi sungai. Kalijaga artinya adalah yang menjaga kali (sungai). Ada juga yang mengartikan Kalijaga sebagai orang yang menjaga aliran kepercayaan masyarakat terdahulu. Karena Sunan Kalijaga sangat halus dalam berdakwah. Beliau tidak langsung menunjukkan sikap anti pati terhadap kepercayaan masyarakat pada zaman itu, semua aliran didekati yang kemudian pada akhirnya diarahkan kepada Agama lslam.

Demikian artikel yang membahas tentang kisah sunan kalijaga yang berguru kepada sunan bonang. Semoga bermanfaat kepada para pembaca.

Kisah Sunan Kalijaga Menjadi Perampok Sampai Tobat

Kisah sunan kalijaga menjadi perampok sampai tobat - Nama asli Sunan Kalijaga adalah Raden Syahid, dalam riwayat yang lain ada yang menyebutnya Raden Said. Dia adalah putra Tumenggung Wilatikta yang menjabat sebagai Bupati Tuban. Tumenggung Wilatikta ini masih keturunan Adipati Ronggolowe, teman seperjuangan Raden wijaya ketika mendirikan Kerajaan Majapahit. Jadi, keturunan Raden Syahid bermula dari Adipati Ronggolawe berputra Aria Teja l, berputra Aria Teja II, berputra Aria Teja lll, berputra Aria Teja lV, berputra Raden Tumenggung Wilatikta, kemudian berputra Raden Syahid atau Raden Sa'id

Konon, satu-satunya keturunan Ranggalawe yang masuk lslam hanyalah Raden Tumenggung Wilatikta (Adipati Tuban) ayah Raden Syahid. Semenjak kecil, Raden Syahid menunjukkan kecakapannya dalam berfikir dan berbuat sesuatu demi kepentingan orang banyak. Sementara ayah Raden Syahid, pada mulanya seorang pemeluk agama Buddha. Sesuai dengan agama kerajaan pada masa itu. Tetapi setelah agama lslam masuk, ia beralih memeluk agama lslam, kemudian memberikan ajaran lslam kepada putra-putranya termasuk kepada Raden Syahid.

Sejak kanak-kanak Raden Syahid telah dianggap sebagai anak seorang Bupati tidak boleh tidak diperbolehkan keluar dari lstana dan bersahabat dengan rakyat jelata. Anak seorang Bupati paling tidak harus bergaul dengan anak pembesar kerajaan. Semua peraturan tersebut banyak yang dilanggar oleh Raden Syahid, karena bertentangan dengan isi hatinya. la berpendapat bahwa setiap orang memiliki hak yang sama dan dimata Tuhan derajat manusia itu juga sama, miskin atau kaya sama-sama makhluk tuhan, karena itu patut dihargai dan saling menghargai antar sesama.

Demikianlah asal usul dan budi pekerti Raden Syahid yang tertanam semenjak dia masih kanak-kanak, dan budi baiknya itu tetap dibawanya sampai dia berusia dewasa. Sebelum menjadi salah satu walisongo, sunan Kalijaga pernah menjadi seorang perampok. Keadaan rakyat Tuban yang saat itu memprihatinkan terpaksa membuat Raden Syahid (Sunan Kalijaga) untuk merampok demi kepentingan rakyat. Akan tetapi, pada akhirnya Raden Syahid berhenti merampok dan berguru kepada sunan bonang untuk. Adapun kisah lengkap tentang sunan kalijaga yang pernah menjadi perampok dan berguru kepada sunan bonang, berikut ini kisah lengkapnya.


1. Situasi Daerah Tuban dan Sekitarnya Mendorong Sunan Kalijaga Merampok

Ketika Raden Syahid menginjak umur dewasa, beliau mengerti maksud orang tuanya melarang dirinya keluar dari Kadipaten. Sebab dengan berdiam diri di Kadipaten maka ia tidak dapat melihat berbagai kepincangan hidup dan penderitaan rakyat. Padahal daerah Tuban dan sekitarnya pada saat itu di bawah kekuasaan Majapahit, sementara Majapahit sendiri pada waktu mengalami penurunan yang drastis, banyak rakylat yang menderita, Namun keadaan seperti ini tidak memperoleh perhatian yang serius dari para penguasa, bahkan mereka semakin memperberat rakyayt dengan kewajiban membayar pajak.

Pada suatu hari Raden Syahid melihat searang laki-laki tua sedang memakan pucuk daun pisang. Melihat itu, Raden Syahid menghentikan langkahnya dan menghampiri leki-laki tua itu seraya bertanya, “Apa yang bapak lakukan? Mengapa bapak makan daun daunan?”
Laki-laki tua itu berhenti sejenak, dipandanginya Raden Syahid dengan mata nanar. "Mengapa bapak rnemandangiku, jawablah pertanyaanku". tanya Raden Sy'ahid sekali lagi.

Orang tua tersebut tidak menjawab pertanyaan Raden Syahid, namun Raden Syahid tidak marah kepadanya, diulanginya sekali lagi pertanyaannya : "Mengapa bapak makan daun daunan ?". Orang tua tersebutpun dengan gemetar menjawab "Jika aku adalah seorang yang kaya dan tidak kelaparan sepertimu, tak mungkin aku makan daun daunan ini".
Setelah berkata begitu, orang tua itupun ambruk ke tanah. Sementara Raden Syahid terkejut lalu menghampirinya tetapi apa yang terjadi, orang tua tidak berkutik lagi. Dia telah mati karena kelaparan.

Begitulah Raden Syahid, beliau sangat perhatian dengan keadaan yang menimpa rakyatnya, berulangkali ia menemui kejadian seperti itu yang membuat mata beliau mengeluarkan air mata, ia selalu membantu orang yang membutuhkan apalagi pada saat itu Kadipaten Tuban dalam keadaan gersang dan tandus karena kekeringan.

Setibanya di rumah beliau menceritakan kejadian yang dialaminya pada ibunya, namun ibunya tidak peduli dengan kenyataan itu bahkan marah kepada Raden Syahid seraya berkata "Apa urusanmu dengan mereka ? ltu bukan urusanmu I" "Maaf bu, aku senang melihat-lihat keadaan rakyat di desa-desa yang mengalami penderitaan. Tidak bolehkah aku melihat keadaan rakyat ayahku?". tanya Raden Syahid. Mendengar jawaban Raden Syahid ibunya menjadi marah seraya berkata : "Kau mau mengajari orang tua ? semua kebijakan ayahmu adalah baik. Siapapun tidak boleh menentangnya. "Baik menurut ayah, belum tentu baik menurut rakyat" jawab Raden Syahid lancang kamu, kulaporkan kamu kepada ayahmu". bentak ibunya dengan nada marah danmuka merah padam. Kemudian ibunya melaporkan perkataan Raden Syahid kepada ayah Raden Syahid, maka pada waktu juga Raden Syahid dipanggil menghadap.

"Duduklah Syahid !" ujar ayahnya dengan wajah muram
"Ada perlu apa ayah memanggilku?". tanya Raden Syahid dengan sopan
"Aku sudah mendengar semuanya dari ibumu". ujar ayahnya tanpa ragu.
“Tentang apa ayah?”, tanya Raden Syahid kalem
"Tentang keadaan rakyat Tuban ini". jawab ayahnya
"Benar ayah, aku telah melihat sendiri, rakyat ayah yang menderita kelaparan. Bukankah ayah selaku penguasa di Tuban ini yang menjadi tanggung jawab 
bagi mereka?" tanya Raden Syahid.
"Diam !", bentak ayahnya dengan keras.
Dengan tenang Raden syahid berkata "Ma'afkan atas kelancanganku ayah".
“Kuperingatkan! Jangan sekali-kali kamu berkata begitu lagi, kali ini kuampuni kau", ujar ayahnya.

Tentunya kamu tahu bukan, kedudukanku ini hanyalah sebagai Adipati yang berada di bawah kekuasaan Raja Majapahit. Kebijakan yang ayah jalankan selama ini atas perintah Raja. Ayah tidak bisa mengambil kebijakan yang bertentangan dengan apa yang telah ditentukan oleh kerajaan. Dan kali ini kamu kuperingatkan, jangan keluar dari Kadipaten untuk melihat keadaan desa-desa di sekitar daerah Tuban ini", ujar ayah Baden Syahid meyakinkan.

Mendengar penuturan ayahnya itu Raden syahid terdiam. Namun dalam hatinya ia menentang pendapat ayahnya yang bertindak masa bodoh terhadap rakyat. Jika kebijakan ayah begitu, lantas apa artinya dia sebagai Adipati ? dan yang paling memprihatinkan adalah nasib para petani yang setiap tahunnya diberi kewajiban membayar upeti yang begitu besar dari kerajaan maupun kadipaten, namun kadipaten atau kerajaan sendiri tidak memperdulikan neisib mereka.

Demikianlah hal-hal yang selalu menghantui pikiran Raden Syahid yaitu suasana penderitaan Rakyat Tuban di bawah kekuasaan ayahnya.


2. Kisah Raden Syahid (Sunan Kalijaga) Merampok

Saking tidak kuatnya Raden Syahid melihat penderitaan rakyat dari bahaya kelaparan yang mencekam. Sementara para penguasa enak-enak tenang. Tuan-tuan tanah dan orang kaya enak-enak menikmati kekayaannya. Tidak memperdulikan nasib fakir miskin dan rakyat jelata yang mati kelaparan. Akhirnya Raden Syahid yang masih berjiwa bersih itu memberanikan diri untuk setiap malam hari mengambil padi, jagung serta bahan makanan lainnya di gudang kadipatan dan diberikan kepada fakir miskin yang membutuhkan, beliau melakukan aksi ini dengan menggunakan penutup (semacam
topeng) sehingga tidak ada seorang pun yang mengenalinya.

Tetapi perbuatan Raden Syahid itu tidak berlangsung lama. Salah seorang punggawa Kadipaten telah memergokinya dan melaporkan pada ayahnya. Beliau sangat marah begitu tahu bahwa pencuri yang selama ini berkeliaran adalah putranya sendiri. Raden Syahid dihukum oleh ayahnya dengan hukuman yang sangat berat.

Setelah menerima hukuman, Haden Syahid tidak kapok. Malah semakin menjadi-jadi. Tetapi kali ini beliau tidak mengambii bahan-bahan makanan yang berada dikadipaten tetapi ia mengambil dari para saudagar dan pedagang kaya, tuan tanah yang suka memeras rakyat miskin. Harta hasil rampokan tersebut diberikan kepada rakyat miskin yang sering dilanda kelaparan. Namun hal ini tidak bisa berlangung lama. Sebab, ada perampok lain yang menggunakan kesempatan ini. Perampok itu menyamar seperti Raden Syahid. Pakaian dan topenenya persis dengan apa yang dipakai Raden Syahid ketika melakukan aksinya.

Sudah barang tentu perampok yang menyamar Raden Syahid itu tidak membagi-bagikan hasil rampokannya kepada fakir miskin, melainkan dinikmatinya sendiri bersama anak buahnya. Bahkan kadangkala memperkosa wanita-wanita yang dijumpainya.

Alkisah, Suatu ketika Raden Syahid memergoki sebuah rumah penduduk yang dijarah perampok. Penghuni rumah itu menjerit histeris meminta tolong, Raden Syahid segera memakai topeng dan masuk untuk memberi pertolongan. Tapi apa yang terjadi, perampok itu kabur. Sementara tangan Raden Syahid dipegang erat-erat oleh si penghuni rumah karena mengira perampok itu adalah Raden Syahid seraya menjerit rneminta tolong kepada penduduk. Raden Syahid terjebak, beramai-ramai penduduk kampung menangkap Raden Syahid dan dibawanya ke Balai Desa. Kepala Desa segera ingin tahu, lalu dibukanya topeng itu, namun betapa kagetnya sang Kepala Desa setelah rnengetahui bahwa perampok itu adalah Raden Syahid putra Adipati Tuban sendiri.

Karuan saja sang Adipati sangat marah, setelah mendengar bahwa Raden Syahid merampok dan memperkosa. lbunya sendiri yang biasanya selalu membela Raden Syahid tiap ada persoalan dengan ayahnya. Kini marahnya bukan kepalang ketika meiihat Raden Syahid datang, spontan ia berkata : "Pergi kamu dari sini! Jangan coba-coba kau injakkan kakimu di Kadipaten ini. Aku tidak sudi mempunyai anak sepertimu, bikin malu orang tua !",

Sejak peristiwa itu terjadi, nama Raden Syahid dan orang tuanya selaku Adipati tercoreng. Di sana-sini penduduk membicarakan masalah Raden Syahid yang suka merampok dan memperkosa. Di mana Raden Syahid bermaksud menolong para penduduk yang menderita, tapi akhirnya malah dia dituduh sebagai pembunuh dan perusak pagar ayu. Karena kehadirannya tidak lagi di terima, Raden syahid pergi meninggalkan kadipaten Tuban dan pergi jauh meninggalkan wilayah kadipaten, beiiau mengembara tanpa tujuan yang jelas.

4. Taubatnya Raden Syahid (Sunan Kalijaga) dalam Merampok

Selama bertahun-tahun, Raden Syahid mengembara hingga sampai di sebuah hutan bernama Jiatiwangi. Di hutan itulah Raden syahid membegal dan rnerampok para pedagang kaya yang melawati hutan itu. Dan hasil rampokannya kembali dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Raden syahid dikenal dengan sebutan Lokijaya Alkisah, pada suatu hari ada seorang laki berjubah berjalan melewati hutan tersebut. Ditempat itu pula laki-laki tersebut dicegat oleh Raden Syahid.

Hendak kemana engkau kisanak ?". tanya Raden Syahid serava memandang gagang tongkat yang dibawa orang berjubah itu.
Mau ke suatu tempat, jawab orang berjubah kalem.
Raden syahid tertarik gagang tongkat orang berjubah itu karena berkilauan laksana emas. la bermaksud merebut tongkat tersebut dari tangan orang berjubah itu.

Melihat langkah kisanak yang begitu gesit, tanpa tongkat pun kisanak mampu berjalan". ujar Raden Syahid
"Anak muda, Tongkat itu adalah pegangan, bukan sekedar untuk berjalan ". ujar orang berjubah.
"Nisbatnya orang hidup atau berjalan haruslah punya pegangan agar tidak tersesat jaian ". Sambung orang berjubah itu.
"Coba aku lihat tongkat kisanak". kata Raden Syahid tidak serantan
"Mulanya ingin melihat, tapi pada akhirnya ingin memiliki itu tak baik anak muda sama dengan merampok". ujar orang berjubah itu lagi. Tanpa menunggu lebih lama, direbutnya tongkat itu oleh Raden Syahid, sehingga laki-laki berjubah itu pun jatuh tersungkur.

Dari wajahnya tampak rasa sedih yang mendalam, dari matanya terlihat tetesan air mata. Anehnya, setelah tongkat itu berpindah tangan, secara tiba-tiba tongkat itu berubah seperti tongkat kayu biasa, tidak berkilau seperti tadi. Sementara laki-laki berjubah tersebut berusaha untuk bangkit.

Melihat perubahan tongkat tersebut ia segera mengembalikan tongkat itu kepada laki-laki berjubah sambil berkata : "Jangan bersedih dan menangis kisanak, Nih aku kembalikan tongkatmu". Aku tidak bersedih dan menangis karena tongkat yang kau rebut, tapi aku bersedih dan menangis karena melihat seorang pemuda yang kuat menendang seorang laki-laki yang lebih tua, hanya karena memperebutkan tongkat kayu yang tidak berharga ini". sahud laki-laki berjubah

"Kisanak, sebenarnya yang kuinginkan adalah harta benda"' kata Raden Syahid.
"Buat apa?". tanya orang berjubah. Akan kuberikan kepada fakir miskin yang menderita". jawab Raden Syahid.
Sungguh mulia niatmu anak muda, namun sayang cara yang kamu pergunakan sangat keliru ". ujar lelaki berjubah menasehati.

"Apa maksud kisanak ?". tanya Raden Syahid'
"sesungguhnya Allah itu baik, suka kepada yang baik dan hanya menerima amal baik dari yang baik pula". jawab orang berjubah menjelaskan.
Mendengar ucapan orang berjubah itu, Raden syahid jadi tercengang. 
"Jadi jelasnya". sambung orang berjubah. 

"Tuhan tidak menerima sedekah dari barang yang didapat secara haram, karena itu, sia-sialah sedekah yang kau berikan dari hasil merampok selama ini. Jika engkau menginginkan harta. Ambillah itu! itu harta halal. Sambil berkata begitu, orang berjubah mengisyaratkan tongkatnya pada sebuah pohon aren. Dengan idzin Allah seketika pohon, buah, daun, dahan dan rantingnya semua menjadi emas yang berkilauan.
Raden Syahid mengira bahwa kejadian itu adalah sihir maka dikerahkanlah ilmunya untuk menanggulangi sihir orang berjubah, namun hasilnya sia-sia. ternyata orang yang berjubah tidak menggunakan ilmu sihir. Tanpa menunggu kesempatan, Raden Syahid langsung saja memanjat pohon itu untuk mengambil beberapa buahnya. Tapi apa yang terjadi, sebelum memetik buah itu Raden Syahid terjatuh dan pingsan.

Setelah Raden Syahid sadar, pohon aren itu kembali berubah menjadi pohon aren seperti semula, begitu pula buahnya yang jatuh berwarna hijau sebagaimana biasa. Dari kejadian itu Raden Syahid menyadari bahwa laki-laki tua yang dihadapi bukanlah orang sembarangan.

Ketika Raden Syahid sedang mengamati keanehan-keanehan itu, orang berjubah itu pergi, Raden Syahid segera mengejarnya serta mengikuti jejaknya karena ia beniat berguru pada laki-laki tersebut.

Kisah Sunan Kalijaga Menjadi Perampok

Sesampainya di pinggir kali, Raden Syahid berhasil menyusul orang berjubah itu dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Ada apa kau menyusulku anak muda?". tanya laki-laki berjubah itu.
"Aku ingin sekali menjadi muridmu, kisanak" pinta Raden Syahid pada laki-laki berjubah itu dengan kepala tertunduk. Demikianlah, berkat ketinggian ilmu orang berjubah yang membuat Raden Syahid ingin sekali menjadi muridnya dan berjanji sanggup meninggalkan perbuatannya yang keliru. 

Orang berjubah tersebut adalah sunan bonang, beliau mau menerima Raden Syahid untuk menjadi muridnya akan tetapi Raden Syahid harus diuji terlebih dahulu. Ujian yang diberikan Sunan bonang kepada Raden Syahid adalah menjaga tongkat yang ditancapkan oleh sunan bonang ditepi sungai (kali).

Demikianlah kisah singkat tentang sunan kalijaga yang pernah menjadi perampok, mulai dari penyebab sunan kalijaga merampok sampai pada taubatnya sunan kalijaga menjadi perampok dan berguru kepada sunan bonang.
Friday, April 21

Kisah Sunan Drajat yang Ditolong Ikan Talang

Kisah sunan drajat dan ikan talang – Sunan Drajat merupakan salah satu walisongo yang terkenal dengan kebaikan hatinya. Menurut cerita Sunan Drajat pada waktu kecilnya bernama Masih Munat, kemudian diganti dengan nama Raden Syarifuddin. Tetapi menurut sumber cerita yang lain diganti dengan nama Raden Qosim. Dia adalah putra ketiga Sunan Ampel. Dengan demikian Raden Qasim adalah adik kandung Sunan Bonang. Dalam menjalankan dakwahnya, beliau mempunyai pengalaman unik, yaitu pernah ditolong oleh ikan Talang. Bagaimana kisah Sunan Drajat sampai ditolong oleh ikan, berikut ini kami sampaikan kisah sunan drajat yang terdiri dari budi pekerti sunan drajat, dan metode dakwah sunan drajat.

1. Budi Pekerti Sunan Drajat (Raden Qasim)

Menurut satu cerita, Semasa kanak-kanak, Raden Qasim terkenal sebagai anak pendiam, namun memiliki kecerdasan otak yang sangat luar biasa melebihi dari anak yang lain yang sebaya. Karena sikapnya yang pendiam itulah, kawan-kawannya sering memperolok-olok Raden Qasim, beliau sering dikucilkan dari pergaulan dan tidak diajak bermain teman-temannya, ia terpaksa menyendiri dan hanya melihat saja dari jauh.

Pada suatu hari, Raden Qasim melihat kawan-kawannya menggoda seorang pengemis tua, namun pengemis itu diam saja tak berkata sekatapun, karena pengemis itu hanya diam saja anak-anak itu semakin berani dan bahkan melemparinya dengan batu, hingga mengenai pelipisnya sampai mengeluarkan darah. Melihat perbuatan kawan-kawannya itu, Raden Qasirn merasa kasihan, lalu dia menghampiri si pengernis tua itu. Akan tetapi kawan-kawannya malah melempari Raden Qasim sambil mencaci-maki. Hal itu tentu saja membuat Haden Qasim menjadi marah, Melihat Raden Qasim marah, kawan-kawannya malah menertawakannya.

"Anak ingusan bisa marah !". cerca mereka.
"Perbuatan kalian ini sungguh sangat memalukan dan jahat!
Mengapa kalian lempari pengemis yang tidak berdosa ini ?" bentak Raden Qasim 

"Alaah, jangan sok jagoan kamu, kalau mau, ini batu buat kamu !" ujar salah seorang kawannya sambir melemparkan batu itu kepadanya. Karuan saja, lemparan batu itu mengenai perutnya Raden Qasim mengaduh kesakitan, sementara kawan-kawannya bersorak kegirangan. Karena merasa perutnya sakit maka membuat Raden Qasirn menjadi berani menghadapi kawan-kawannya yang nakal itu. maka dtantanglah mereka untuk berkelahi.

"Anak ingusan itu biar bagianku", kata salah seorang kawannya. "Dengan tangan kiriku saja pasti dia menangis". Sambil berkata begitu, kawannya langsung menyerang Raden Qasim. Namun Raden Qasim tidak tinggal diam. Dengan gesit ditendangnya kawannya itu hingga jatuh terjerambab. Melihat salah satu kawannya yang merupakan jagoan berhasil dikalahkan Raden Qasim, mereka semua lari terbirit-birit ketakutan. "Maafkan kawan-kawan saya itu pak". kata Raden Qasim seraya membantu pengemis itu berdiri dan mengambilkan tongkatnya yang terlempar

Demikianlah budi pekerti Raden Qasim semasa dia masih kanak-kanak. Budi baik itu dibawanya sampai dia berusia dewasa, dia suka menolong kepada temannya, terutama kepada orang yang menderita. Segala penderitaan hidup yang pernah dialami kini membuatnya menjadi manusia yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesamanya, terutama pada kaum fakir miskin, anak yatim, orang jompo dan orang sakit.


2. Metode Dakwah Sunan Drajat

Setelah Raden Qasim sudah cukup dewasa dan ilmu yang di miliki sudah cukup mumpuni, sunan Ampel menugaskannya untuk berdakwah di sebelah barat Surabaya. Kemudian Raden Qasim naik perahu melalui Gresik menuju ke arah barat. Dalam perjalanan melalui laut itu perahu Raden Qasim diserang badai sehingga perahunya hancur dan karam. Dalam keadaan kritis tersebut Raden Qasinr ditolong oleh ikan "Talang".

Dengan naik punggung ikan tersebut maka Raden Qasim dapat selamat dari keganasan ombak dan badai laut utara. lkan itu membawanya ke tepi pantai yang terletak di dusun Jelag (termasuk wilayah Banjarwati), kecamatan Paciran. Di tempai itu Raden Qasim membuka Pesantren baru dan banyak orang-orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya, karena cara berda'wah Raden Qasim sangat lunak, mampu mendekati rakyat awam dengan tutur kata dan budi bahasa yang halus, serta sikapnya yang sopan dan ramah tamah.

Selama satu tahun di Jelag, Raden Qasim mendapat petunjuk agar menuju ke selatan, kira-kira berjarak satu kilometer. Di sana beliau mendirikan langgar atau surau yang dipergunakan untuk berda'wah Tiga tahun kemudian Raden Qasim mendapat petunjuk dari Allah agar mencari tempat yang strategis untuk berda'wah yaitu di sebuah bukit yang kemudian dinamakan "Dalem Duwur". Di tempat tersebut sekarang didirikan museum yang cukup megah dengan biaya Rp. 60 Juta. Museum tersebut letaknya tidak jauh dengan makam Sunan Drajad.

Di tempat yang disebut Dalem Duwur tersebut pengikut Raden Qasim semakin banyak, karena cara menyiarkan agama Islam yang dilakukannya adalah dengan jalan damai. Orang-orang dikumpulkan dengan cara menabuh seperangkat gamelan, gending-gending dan tembang macapot, sesudah itu baru diberi ceramah agama lslam.

Makin hari nama Raden Qasim makin terkenal, orang makin menaruh hormat padanya, derajatnya makin tinggi apalagi beliau tinggal di bukit bernama Drajat sehingga masyarakat di sekitar tempat tersebut menyebutnya sebagai Sunan Drajat. Di antara ajaran Raden Qasim yang terkenal untuk menganjurkan orang-orang agar berjiwa sosial adalah aiaran sebagai berikut:

a. Menehono teken marang wong kang wuto
b. Menehono mangan marang wong kang luwe
c. Menehono busono marang wong kang mudo
d. Menehono ngiyup marang wong kang kudanan
Petuah-petuah Sunan Drajat kalau diterjemahkan dalam Bahasa lndonesia kurang lebih sebagai berikut :
a. Berikan tongkat pada orang yang buta
b. Berikan makan pada orang yang lapar
c. Berikan pakaian pada orang telanjang
d. Berikan tempat berteduh kepada orang yang kehujanan

Ajaran tersebut sangat supel, artinya siapa saja bisa melaksanakannya. Orang awampun dapat melaksanakannya sehingga memiliki jiwa sosial. Namun bila dikupas lebih lanjut maka ajaran tersebut mempunyai makna yang sangat dalam, terutama bagi mereka yang berilmu tinggi yaitu :
a. Berilah petunjuk (ilmu) kepada orang yang bodoh. 
b. Sejahterakanlah kehidupan para kaum fakir miskin
c. Ajarkanlah budi pekerti atau susila kepada orang yang tidak tahu malu atau belum mempunyai budaya tinggi.
d. Berilah perlindungan kepada orang-orang yang menderita dan menderita

Kisah Sunan Drajat yang Ditolong Ikan Talang

Demikianlah ajaran mulia Sunan Drajat yang sangat terkenal dikalangan rakyat, terutama bagi masyarakat Lamongan dan sekitarnya, ia juga dikenal sebagai salah satu anggota Walisanga, dan ikut juga mendirikan kerajaan lslam Demak.

Konon, menurut satu sumber cerita Raden Qosim menikah dengan Sayyidah Sufiyah putri Sunan Gunung Jati, beliau dikaruniai tiga putra :
a. Pangeran Rekya
b. Pangeran Sandi
c. Sayyidah Wuriyan
Makam beliau terletak di desa Drajat, kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.
Thursday, April 20

Kisah Sunan Bonang, Metode Dakwah, dan Kerahmatannya Lengkap

Kisah sunan bonang – Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim merupakan sosok walisongo yang akan kita bahas dalam artikel ini. Kita akan membahas tentang asal usul sunan bonang, metode dakwah sunan bonang, kerahmatan sunan bonang, dan kontroversi makam sunan bonang. Berikut ini kisah lengkapnya tentang sunan bonang.

1. Asal Usul Sunan Bonang

Nama asli Sunan Bonang adalah Raden Makdum lbrahim, beliau adalah salah satu putra dari Raden Rahmat (Sunan Ampel) dari Dewi Candrawulan, istri pertama Sunan Ampel. Sementara menurut satu riwayat, Dewi Candrawulan adalah putri Prabu Brawijaya. Tetapi dalam riwayat yang lain seperti yang sudah tertulis dalam kisah Sunan Ampel, Dewi Candrawulan adalah putri Haden Arya Teja dari kerajaan Pajajaran. Jadi meski ada riwayat yang berbeda tentang asal usul ibunya" Sunan Bonang adalah percampuran dua garis keturunan, dari ibunya Sunan Bonang berdarah bangsawan, sementara dari ayahnya heliau berdarah Arab, bergaris keturunan Nabi Muharnmad Saw. Menurut satu riwayat, Sunan Bonang menikah dengan Dewi lrah putri Raden Jaka Kendar dan di karuniai seorang putri bernama Rahil.

2. Metode Sunan Bonang Dalam Berdakwah (Gending dan Tembang)

Pada saat Sunan Bonang belajar ilmu Syari'at islam pada ayahnya, banyak sekali teman atau sahabat dari Sunan Bonang, di antaranya adalah Raden Paku. Setelah belajar cukup lama di Ampel mereka berangkat ke Samudera Pasai berguru pada ayah Raden Paku yang bernama Syech Maulana lshaq, juga berguru pada beberapa ulama dari Jazirah Arab. Sekembali dari perjaianannya menuntut ilmu, beliau berdakwah di daerah Tuban, caranya beliau berdakwah cukup cerdik dan unik. Beliau dapat mengambil hati masyarakat setempat agar mereka mau datang ke Masjid. Setelah mereka datang ke Masjid barulah Sunan Bonang memperkenalkan sedikit demi sedikit ajaran lslam, sehingga sedikit demi sedikit hati masyarakat mulai menerima kehadiran lslam ditengah-tengah mereka.

Keunikan dan kecerdikan beliau dalam berdakwah serta metode beliau dalam menyebarkan lslam, di antaranya adalah beliau menciptakan gending dan tembang. Di mana masyarakat Tuban pada saat itu sangat senang sekali mendengarkan gending atau tembang. Selain itu beliau juga sangat mahir dalam permainan gending atu bonang. Nah itulah sebabnya beliau disebut Sunan Bonang oleh masyarakat Bonang.

Bila beliau membunyikan bonang atau gending rakyat yang mendengar akan berbondong untuk mendengarkan lebih dekat, mereka sangat terpesona seperti terkena pesona gaib. Sunan Bonang pun sudah memperhitungkan hal itu, sebelumnya beliau sudah membuat kolam di depan masjid, siapa yang masuk masjid harus membasuh kakinya terlebih dahulu. setelah orang-orang berkumpul di dalam Masiid, beliau mengalunkan suara tembang-tembang yang bernalaskan ajaran Islam. Anehnya, sepulang dari Masjid tembang-tembang itu mereka hafalkan serta memahami artinya. Akhirnya, sedikit demi sedikit mereka mengenal dan bersimpati kepada agama lslam. Kemudian baru beliau menanamkan pengertian yang sebenarnya tentang lslam. Dengan demikian agama lslam cepat tersebar di kalangan masyarakat Tuban dan sekitarnya. Demikianlah kecerdikan dan keunikan metode Sunan Bonang dalam berdakwah menyebarkan agama lslam. Di samping itu beliau mendirikan pesantren yang bisa menampung beberapa murid yang berdatangan dari berbagai penjuru daerah, seperti dari daerah Bojonegoro, Jepara, Pati dan bahkan datang dari antar pulau yaitu Bawean dan Madura.

3. Kekeramatan Sunan Bonang

Sunan bonang sebagai seorang wali mempunyai banyak kemampuan yang digunakan untuk menyadarkan orang lain, diantaranya yaitu kerahmatan sunan bonang dalam membuat sumbur srumbung, kerahmatan sunan bonang dalam batu pasujudan, dan kerahmatan sunan bonang dalam legenda batu celeng.

a. Legenda Sumur Srumbung Sunan Bonang
Dalam waktu yang tidak beberapa lama Tuban menjadi pusat perhatian agama lslam dengan banyaknya murid yang berdatangan. Sehingga nama Sunan Bonang terkenal sampai pelosok tanah Jawa.

Karena itu jugalah, seorang Brahmana Sakti yang datang dari negeri Hindustan sangat merasa penasaran dengan Sunan Bonang. Dia ingin sekali menjajaki kesaktian Sunan Bonang. Dengan menumpang perahu menelusuri pantai, Brahmana itu pergi ke kota Tuban, tetapi belum sampai di Tuban. Di tengah lautan perahunya dihantam badai, sementara sang Brahmana sendiri hanyut terbawa arus beserta kitab-kitabnya yang berisikan ilmu gaib, yang tujuannya untuk dibuat berdebat dengan Sunan Bonang Setelah sang Brahmana dibawa ombak ke pinggir pantai dalam keadaan pingsan, akhirnya ia sadar dan tahu betul bahwa dirinya berada di tepi pantai. Dengan tenaga yang tersisa, dikuat-kuatkan dirinya untuk bangkit berdiri seraya melihat ke atas. Sang Brahmana terkejut ketika di hadapannya ada seorang berjubah putih, iapun bertanya pada "Kisanak, apa nama daerah ini?".

Orang berjubah tidak menjawab, malah menancapkan tongkatnya di dekat kaki sang Brahmana dan balik bertanya. "Apa yang tuan cari di daerah kami?" Sang Brahmana menjawab "Aku datang ke tempat ini untuk mencari Sunan Bonang". Orang berjubah putih itu bertanya lagi : Ada perlu apa Tuan mencari sunan Bonang?"

Dengan tegas sang Brahmana menjawab : "Sebenarnya, aku datang ke sini untuk menantangnya dengan adu kesaktian. Tapi sayang, kitab-kitabku yang berisi catatan-catatan ilmu gaib itu telah hilang tenggelam di dasar laut"

Mendengar jawaban sang Brahmana, orang berjubah itu lalu mencabut tongkatnya. Tiba-tiba lobang bakas tancapan tongkat itu mengeluarkan air jernih yang sangat deras. Hal itu membuat sang Brahmana kaget apalagi ketika ia tahu luapan air itu beriringan dengan kitab-kitab ilmu gaib miliknya.

"Bukankah itu kitab kisanak yang tenggelam di laut?" tanya orang berjubah.
"Be ... be ... betul, itu adalah kitabku yang hilang tenggelam di dasar laut". jawab sang Brahmana gugup.

Dalam pada itu sang Brahmana berkata dalam hati : "Alangkah hebatnya ilmu yang dimiliki orang berjubah itu, jika dibandingkan dengan aku, dengan segala ilmu kesaktian yang kumiliki tentu aku tidak ada apa-apanya. Bahkan sepengetahuanku tidak ada ilmu sehebat itu. Seandannya ada sejuta Brahmanana yang membantu aku sekalipun, aku tak akan mungkin bisa melakukannya seperti itu".

Membanding-bandingkan ilmu yang dimiiikinya dengan ilmu orang berjubah yang berada di depannya itu, sang Brahmana itu akhirnya sadar, lalu ia bersimpuh di hadapan orang berjubah seraya menyatakan ersedia menjadi muridnya.

Sementara air yang memancar pada lobang bekas tancapan tongkat sunan Bonang konon menurut cerita masih ada sampai sekarang, masyarakat sekitar menamakannya Sumur Srumbung. sekarang sumur itu agak ke tengah laut karena selama ratusan tahun pantai Tuban sedikit demi sedikit habis dikikis air laut, Meskipun sumur itu berada di tengah laut, namun airnya tetap jernih, tidak asin serta terasa nikmat bila diminum.

b. Legenda Pasujudan Sunan Bonang
Termasuk salah satu keramat sunan Bonang adalah adanya adanya Pasujudan. Alkisah dalam masa hidupnya, beliau biasanya menyepi, beribadah melaksanakan sholat, puasa memerangi nafsu dan syeitan di puncak bukit Gading dekat pantai Tuban. Sehingga ia diangkat oleh Allah menjadi salah seorang wali agung yang terkenal dengan sebutan Sunan Bonang. saking seringnya beliau melaksanakan sholat di sana, dahi, hidung, lutut serla jari-jari kaki sunan Bonang membekas pada sebuah batu yang berada di bukit tersebut. pada batu tersebut seperti ada gambar orang yang sedang bersujud. Batu tersebut masih ada sampai sekarang dan banyak pula masyarakat yang datang ke tempat itu. Mereka menamakan pasujudan pada batu tersebut.

Kisah Sunan Bonang, Metode Dakwah, dan Kerahmatannya

c. Legenda Watu Celeng
Termasuk keramatnya lagi adalah adanya batu yang berbentuk anjing. Peristiwa itu terjadi ketika sunan Bonang bersama santrinya sedang berjalan-jalan. Tiba-tiba di depan mereka ada dua ekor anjing yang sedang bersebadan. Kemudian salah seorang muridnya berkata pada sunan Boanang mengira Sunan Bonang tidak tahu.

"Kanjeng sunan, di depan ada dua ekor anjing sedang bersebadan". Sunan Bonang pun menjawab, "Di mana, aku tidak melihat, aku hanya melihat dua ekor anjing dari batu saja". dengan seketika dua ekor anjing itu berubah menjadi batu dan ada sampain sekarang. Dua batu tersebut berada di desa Karas sedan Rembang disebut dengan sebutan "watu Celeng".

3. Kontroversl Jenazah Sunan Bonang
Sebelumnya sudah diterangkan, bahwa hanyak murid sunan Bonang yang datang dari Bawean dan Madura. Seperti biasa beliau dakwah dengan berkeliling, dari satu daerah ke daerah lain, hingga tibalah beliau di Bawean dan wafat di sana. Hal ini membuat santri beliau yang tinggal di Tuban menjadi terkejut dan heboh, kemudian mereka bersepakat mengambil jenazah Sunan Bonang untuk imakamkan di Tuban. Namun murid-murid Bawean mempertahankan.

Begitu tahu tujuan mereka ditolak, murid-murid dari Tuban tidak kehabisan akal, mereka datahg ke Bawean dan menyirep murid-murid Bawean yang sedang menunggu jenazah sunan Bonang, kemudian mereka membawa jenazah tersebut ke Tuban dengan naik perahu. Setibanya di Tuban jenazah sunan bonang dimakamkan di sebeiah barat Masjid Agung Tuban, yang sekarang berada di sebelah barat alun-alun Tuban.

Konon menurut cerita (entah benar atau tidak, wallahu A'lam) kuburan sunan Bonang itu ada dua, di Tuban dan di Bawean. Letak makam beliau Di Bawean berada di Kampung Tegal Grubuk sebelah barat tambak Bawean. Ada yang mengatakan makam sunan bonang yang ada di Bawean itu hanya kainnya saja, ketika murid Tuban membawa Jenazah sunan Bonang ke Tuban, kain kafannya jatuh satu yang kemudian oleh murid-murid Bawean dikuburkan di tempat tersebut.