Makalah Vulkanisme (Pengertian, Jenis, Fenomena, Gejala, Bentuk)

Makalah tentang vulkanisme (pengertian, jenis, fenomena, dan gejala vulkanisme. Vulkanisme merupakan salah satu kompetensi dasar atau materi yang terdapat pada mata pelajaran IPS, lebih tepatnya mata pelajaran geografi SMA/MA. Ada beberapa sub materi yang akan kami sampaikan pada artikel ini, mulai dari pengertian vulkanisme, gejala vulkanisme, dampak vulkanisme, dan manfaat vulkanisme. Untuk lebih jelasnya lagi tentang sub materi vulkanisme, dapat anda lihat pada artikel di bawah ini.

1. Pengertian Vulkanisme

Yang pertama kita pelajari tentang vulkanisme yaitu pengertian dari vulkanisme. Vulkanisme yaitu semua peristiwa yang berhubungan dengan magma yang keluar mencapai permukaan bumi melalui retakan dalam kerak bumi atau melalui sebuah pita sentral yang disebut terusan kepundan atau diatrema. Magma yang keluar sampai ke permukaan bumi disebut lava.

Tahukah Anda bagaimana magma dapat bergerak naik? Magma dapat bergerak naik karena memiliki suhu yang tinggi dan mengandung gas-gas yang memiliki cukup energi untuk mendorong batuan di atasnya. Di dalam litosfer magma menempati suatu kantong yang disebut dapur magma. Kedalaman dapur magma merupakan penyebab perbedaan kekuatan letusan gunung api yang terjadi. Pada umumnya, semakin dalam dapur magma dari permukaan bumi, maka semakin kuat letusan yang ditimbulkannya. Lamanya aktivitas gunung api yang bersumber dari magıia ditentukan oleh besar atau kecilnya volume dapur magma. Dapur magma inilah yang merupakan sumber utama aktivitas vulkanik .  
Makalah Vulkanisme (Pengertian, Jenis, Fenomena, Gejala, Bentuk)

2. Material Hasil Aktivitas Vulkanisme

Sesuai wujudnya, ada tiga jenis bahan atau material yang dikeluarkan oleh adanya tenaga ulkanisme. Material tersebut adalah material padat, cair, dan gas

a) Benda padat (efflata) adalah debu, pasir, batu-batu besar (bom), lapili (batu kerikil), dan batu apung
b) Benda cair (effusive) adalah bahan cair yang dikeluarkan oleh tenaga vulkanisme, yaitu lava, lahar dingin, dan lahar panas. Lava adalah magma yang keluar ke permukaan bumi. Lahar dingin adalah lahar yang berasal dari bahan letusan yang sudah mengendap, kemudian mengalir deras menuruni lereng gunung. Lahar panas adalah lahar yang berasal dari letusan gunung berapi yang memiliki danau kawah (kaldera), contoh kaldera yang terkenal di Indonesia adalah kawah Bromo.
c) Benda gas (ekshalasi), adalah bahan gas yang dikeluarkan oleh tenaga vulkanisme antara lain fumarol, solfatar, dan mofet. Mofet adalah gas asam arang (CO2), seperti yang terdapat di Gunung Tangkuban Perahu dan Dataran Tinggi Dieng.Solfatar adalah gas hidrogen sulfida (H,S) yang keluar dari suatu lubang yang terdapat di gunung berapi. Sedangkan fumarol adalah uap air panas.

Proses keluarnya magma dinamakan letusan atau erupsi, ada yang berupa erupsi leleran (efusif), dan ada pula erupsi yang berupa ledakan (eksplosif). Berdasarkan banyaknya celah pada permukaan bumi dan waktu keluarnya magma, erupsi dibedakan menjadi empat, yaitu erupsi linear, erupsi campuran, erupsi sentral, dan erupsi areal.

a) Erupsi Sentral
Erupsi sentral adalah lava yang keluar melalui terusan kepundan
b) Erupsi Linear
Gerakan magma menuju permukaan bumi melalui celah-celah atau retakan-retakan disebut erupsi linear atau erupsi belahan. Erupsi linear menghasilkan lava yang cair dan membentuk plato, contohnya yaitu Columbia (Afrika Selatan), Plato Sukadana (Lampung), serta daerah yang mengelilingi Kutub Utara, seperti Asia Utara, Iceland, Tanah Hijau, dan Spitsbergen.
c) Erupsi Areal
Erupsi areal, yaitu letusan yang terjadi melalui lubang yang sangat luas. Sampai saat ini erupsi areal masih diragukan kejadiannya di bumi.
d) Erupsi Campuran
Erupsi campuran menghasilkan gunung berapi strato atau gunung berapi berlapis. Erupsi ini terdiri atas bahan-bahan lepas dan lava. Sebagian besar gunung api di Indonesia termasuk jenis gunung api strato.
Makalah Vulkanisme (Pengertian, Jenis, Fenomena, Gejala, Bentuk)

3. Intrusi Magma

Mungkin sebagian pembaca baru mendengar istilah intrusi magma. Intrusi magma adalah penerobosan magma ke permukaan bumi tetapi belum sampai ke permukaan. Ada 5 bentukan yang dihasilkan oleh intrusi magma, antara lain :
a) Diatrema, yaitu batuan pengisi pipa letusan, berbentuk silinder mulai dari dapur magma sampai ke permukaan bumi
b) Keping intrusi atau sills, yaitu sisipan magma yang membeku di antara dua lapisan litosfer, relatif tipis, dan melebar
c) Lakolit, yaitu batuan beku yang berasal dari resapan magma di antara dua lapisan litosfer dan membentuk bentukan seperti lensa cembung
d) Batolit, yaitu batuan beku yang terbentuk di dalam dapur magma, karena penurunan suhu yang sangat lambat
e) Gang atau dikes, yaitu batuan hasil intrusi magma yang memotong lapisan- lapisan litosfer dengan bentuk pipih atau lempeng

4. Bentuk/ Jenis-Jenis Letusan Gunung Api

Gunung api adalah jenis gunung yang masih aktif mengeluarkan letusan. Nah, berkaitan dengan sebutan ini, gunung api dibagi menjadi beberapa bentuk atau jenis. Setidaknya ada 6 jenis gunung api yang ada di dunia. Apa saja jenis gunung api tersebut, mari kita simak penjelasannya di bawah ini.
Makalah Vulkanisme (Pengertian, Jenis, Fenomena, Gejala, Bentuk)

a) Jenis letusan Stromboli
Jenis gunung api ini sangat khas untuk gunung Stromboli dan beberapa gunung api lainnya yang sedang meningkat kegiatannya. Magmanya sangat cair ke arah permukaan sering dijumpai letusan pendek yang disertai ledakan. Bahan yang dikeluarkan berupa abu, bom, lapilli dan setengah padatan bongkah lava. Di Indonesia, Contoh gunung api dengan letusan tipe stromboli adalah Gunung Raung di Jawa. Sifat semburan Gunung Raung menyemburkan lava tipe baraltik, namun terdapat erupsi erupsi pendek yang bersifat eksplosif menyemburkan batuan batuan piroklastik tipe bom dan lapili.

b) Jenis letusan Hawaii
Jenis gunung api ini dicirikan dengan lavanya yang cair dan tipis, dan dalam perkembangannya akan membentuk tipe gunung api perisai. Jenis gunung api ini banyak ditemukan pada gunung api perisai di Hawaii seperti di Maunaloa dan Kilauea. Sedangkan di Indonesia, contoh letusan tipe hawai adalah pembentukan plato lava di kawasan Dieng, Jawa Tengah.

c) Jenis letusan Merapi
Jenis letusan gunung api yang ketiga yaitu gunung api dengan letusan merapi. Jenis gunung api ini mempunyai ciri yaitu lavanya yang cair-kental. Dapur magmanya relatif dangkal dan tekanan gas yang agak rendah. Contoh letusan tipe Merapi di Indonesia adalah Gunung Merapi di Jawa Tengah dengan awan pijarnya yang tertimbun di lerengnya menyebabkan aliran Iahar dingin setiap tahun. Contoh yang lain adalah Gunung Galunggung di Jawa Barat.

d) Jenis letusan Vulkano
Tipe ini mempunyai ciri khas yaitu pembentukan awan debu berbentuk bunga kol, karena gas yang ditembakkan ke atas meluas hingga jauh di atas kawah. Tipe ini mempunyai tekanan gas sedang dan lavanya kurang begitu cair. Di samping mengeluarkan awan debu, tipe ini jiuga menghasilkan lava. Berdasarkan kekuatan letusannya tipe ini dibedakan menjadi tipe vulkano kuat (Gunung Vesuvius dan Gunung Etna) dan tipe Vulkano lemah (Gunung Bromo dan Gunung Raung). Peralihan antara kedua tipe ini juga dijumpai di Indonesia misalnya Gunung Kelud dan Anak Gunung Bromo.

e) Jenis letusan Pelle
Gunung api tipe ini menyemburkan lava kental yang menguras di leher, menahan lalu lintas gas dan uap. Hal itulah yang menyebabkan mengapa letusan pada gunung api tipe ini disertai dengan guncangan-guncangan bawah tanah dengan dahsyat untuk menyemburkan uap-uap gas, abu vulkanik, lapili, dan bom. Contoh letusan gunung api tipe pelle di Indonesia adalah Gunung Kelud di Jawa Timur.

f) Jenis letusan Perret (Tipe Plinian)
Letusan gunung api tipe perret adalah mengeluarkan lava cair dengan tekanan gas yang tinggi. Kadang-kadang lubang kepundan tersumbat, yang menyebabkan terkumpulnya gas dan uap di dalam tubuh bumi, akibatnya sering timbul getaran sebelum terjadinya letusan. Setelah meletus material-material seperti abu, lapili, dan bom terlempar dengan dahsyat ke angkasa.

Contoh letusan gunung api tipe perret di Indonesia adalah Gunung Krakatau yang meletus sangat dahsyat pada tahun 1873, sehingga gunung Krakatau (tua) itu sendiri lenyap dari permukaan laut, dan mengeluarkan semburan abu vulkanik setinggi 5 km.

5. Gejala Pravulkanik

Gejala pravulkanik adalah sebutan untuk gunung api yang akan meletus. Ada beberapa gejala atau ciri gunung api yang akan meletus. Dengan mengetahui ciri-ciri ini, kami harap anda semakin waspada, khususnya yang tinggal di sekitar gunung api yang masih aktif.
a) Adanya suara gemuruh dari dalam gunung
b) Temperatur di area sekitar kawah mengalami peningkatan
c) Sering terjadi adanya gempa
d) Banyak sumber-sumber air atau mata air yang mulai mengering
e) Banyak binatang-binatang dari puncak gunung yang turun ke daerah kaki gunung

6. Gejala Pascavulkanik

Setelah gunung api beristirahat atau bahkan mati, kadang-kadang masih terdapat gejala yang menunjukkan sisa aktivitas vulkanisme. Gejala itu dinamakan gejala pascavulkanik. Gejala tersebut antara lain :
a) munculnya sumber gas (ekhalasi) antara lain sumber gas belerang yang disebut solfatara yang terdapat di Dataran Tinggi Dieng Jawa Tengah. Sumber gas uap air atau zat lemas (N2) disebut fumarol antara lain terdapat di Kamojang Jawa Barat, dan Dataran Tinggi Dieng Jawa Tengah. Sumber gas asam arang (CO2 atau CO) yang disebut mofet.
b) munculnya sumber air mineral, yaitu sumber air yang mengandung larutan mineral. Air dari tempat ini seringkali dijadikan obat karena mengandung belerang, Contohnya Sangkanurip dan Maribaya di Jawa Barat,
c) munculnya sumber air panas, seperti yang terdapat di Baturaden di Jawa Tengah, dan  Ciater dan Cipanas di Jawa Barat
d) munculnya geiser, yaitu sumber air panas yang memancar berkala, seperti yang ditemukan di Cisolok dan Kamojang Jawa Barat dan The Old Faithful (Yellowstone National Park Amerika Serikat)

7. Bencana dan Manfaat Keberadaan Gunung Api

Keberadaan gunung api menimbulkan berbagai dampak negatif dan dampak positif (bencana dan manfaat). Bencana yang ditimbulkan gunung api antara lain sebagai berikut.
a) Bahaya tidak langsung, merupakan bencana yang terjadi karena adanya aktivitas gunung api, misalnya gelombang pasang (tsunami), gempa vulkanik, perubahan muka tanah, hilangnya sumber air tanah dan sebagainya
b) Bahaya langsung, berupa letusan yang disertai hamburan abu, bom, batu apung, prioklastika, aliran lumpur, dan lava
c) Bahaya lanjutan seperti perubahan mutu lingkungan fisik (gerakan tanah, longsoran, guguran batuan dan sebagainya)
d) Munculnya gas-gas yang berbahaya seperti asam sulfida (H,S), sulfur dioksida (SO2), dan monoksida (CO)
e) Letusan gunung berapi dapat menimbulkan banjir lahar, baik lahar panas maupun lahar dingin. Lahar ini dapat merusak semua benda di sekitar daerah yang dilaluinya.
f) Letusan besar sebuah gunung berapi dapat menyebabkan jatuhnya korban jiwa, dan hilangnya harta benda bagi penduduk daerah di sekitarnya.

Orang lain juga membuka :
1. 3 Jenis Batuan Pembentuk Litosfer (Beku, Sedimen, Malihan) + Gambar
2. 8 Macam Erosi Tanah, Penyebab, Cara Mencegah, dan Dampaknya
3. 8 Dampak Positif dan Negatif Gunung Berapi Meletus

Selain dampak negatif di atas, adanya gunung api juga memberikan dampak positif (manfaat). Apa saja manfaat adanya gunung api? Manfaat dari gunung api antara lain sebagai berikut.
a) Sumber energi, tenaga panas bumi yang dihasilkan dari aktivitas gunung api dapat diubah menjadi pembangkit tenaga listrik
b) Sumber mineral, daerah mineralisasi dan potensi air tanah merupakan aspek-aspek positif yang dapat dimanfaatkan dari adanya aktivitas gunung api
c) Daerah pertanian yang subur, kesuburan tanah di daerah tersebut diperoleh dari produk gunung api yang telah mengalami pelapukan. Bermacam-macam perkebunan dibuka di lereng gunung api yang subur dengan iklim yang sejuk. Antara lain kina, kol, wortel, teh, dan berbagai hortikultura diusahakan di lereng gunung api
d) Daerah tangkapan hujan.
e) Daerah objek wisata, keindahan panorama gunung api dengan kepundan yang aktif dengan lembah-lembah yang curam, fumarol serta danau kepundan menarik bagi para wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Demikian bahan makalah tentang gunung api yang terdiri dari pengertian gunung api, gejala, bentuk/ jenis, dampak negatif (bahaya), manfaat (dampak positif), dan sebagainya. Nah, link download materi sudah kami sediakan jika anda ingin mendownload materi di atas. Semoga bahan makalah tentang aktivitas vulkanis di atas bermanfaat.

Perbedaan Gerak Epirogenetik & Orogenetik (Tektonisme) + Gambar

Jelaskan tentang gerak epirogenetik dan orogenetik (tektonisme)! Apakah anda sedang mencari tentang apa yang dimaksud dengan gerak orogenetik dan gerak epirogenetik dalam tektonisme? Jika iya, maka anda pada artikel yang tepat. Mengapa kami sebut tepat? Ya ini karena dalam artikel ini akan kita bahas tentang gerak epirogenetik dan orogenetik secara lengkap, mulai dari pengertian, hingga contoh gambar, pulau, pegunungan, dan lain sebagainya, terkait 2 jenis gerak tektonisme ini.

Tidak lengkap, jika anda mempelajari tentang epirogenetik dan orogenetik tanpa mengetahui tentang pengertian tenaga tektonisme. Jadi begini, tektonisme merupakan satu dari 3 tenaga endogen, yaitu tenaga yang berasal dari dalam bumi bersifat konstruktif atau membangun. Selain tektonisme, ada tenaga lain yang termasuk tenaga endogen, yaitu vulkanisme, dan gempa bumi. Jadi, total ada 3 jenis tenaga endogen (tektonisme, vulkanisme, dan gempa bumi)

Gerak Epirogenetik & Orogenetik (Tektonisme)

Sudah paham ya, tentang tenaga endogen? Nah dikarenakan akan kita bahas tentang 2 jenis gerak tektonisme, yaitu gerak epirogenetik dan gerak orogenetik, maka akan kami sampaikan terlebih dahulu tentang pengertian tektonisme.

Tektonisme atau tenaga tektonik adalah tenaga geologi yang berasal dari dalam bumi dengan arah vertikal atau horizontal yang mengakibatkan perubahan letak lapisan batuan yang membentuk permukaan bumi. Proses ini menghasilkan lipatan dan patahan, baik dalam ukuran besar maupun ukuran kecil. Gerakan tektonisme juga disebut dengan istilah dislokasi.

Berdasarkan kecepatan gerak dan luas daerahnya, tektonisme dibedakan menjadi dua yaitu gerak epirogenetik dan gerak orogenetik.

1. Gerak Epirogenetik Tektonisme

Gerak tektonisme yang pertama yaitu gerak epirogenetik. Gerak epirogenetik (gerak pembentuk kontinen atau benua) adalah gerakan yang mengakibatkan turun naiknya lapisan kulit bumi yang relatif lambat dan berlangsung lama di suatu daerah yang luas. Gerak epirogenetik dibedakan menjadi dua yaitu epirogenetik positif dan epirogenetik negatif.

a) Epirogenetik positif yaitu gerak penurunan suatu daratan, sehingga kelihatannya permukaan air laut naik.
b) Epirogenetik negatif yaitu gerak naiknya suatu daratan, sehingga kelihatannya permukaan air laut turun.

Untuk lebih jelasnya lagi tentang 2 gerak epirogenetik ini, para pembaca dapat melihat pada gambar yang telah di sediakan (di bawah). Dalam gambar tersebut, terlihat bagaimana perbedaan daratan. Pada epirogenetik positif, daratan menurun sehingga permukaan air laut seolah naik. Sedangkan pada gambar yang satunya lagi (sebelah kanan), terlihat daratan naik sehingga permukaan air laut seolah-olah turun.
Perbedaan Gerak Epirogenetik & Orogenetik (Tektonisme) + Gambar

2. Gerak Orogenetik Tektonisme

Gerak tektonisme yang kedua yaitu gerak orogenetik. Gerak orogenetik adalah gerakan kulit bumi yang lebih cepat dan mencakup wilayah yang lebih sempit. Proses ini dapat menghasilkan pegunungan lipatan dan pegunungan patahan.

a) Lipatan (Fold)
Lipatan adalah suatu ketampakan yang diakibatkan oleh tekanan horizontal dan tekanan vertikal pada kulit bumi yang sifatnya elastis. Pada lipatan terdapat bagian yang turun dinamakan sinklinal dan yang terangkat dinamakan antiklinal.

Untuk lebih jelasnya lagi tentang lipatan, anda dapat melihat gambar di bawah. Setidaknya ada 6 jenis lipatan, antara lain lipatan tegak, lipatan miring, lipatan menggantung, lipatan isoklinal, dan lipatan rebah. Kami pikir anda dapat dengan mudah membedakan keenam jenis lipatan dengan melihat gambar.
Perbedaan Gerak Epirogenetik & Orogenetik (Tektonisme) + Gambar

b) Patahan/ Sesar (Faoult)
Patahan adalah kulit bumi yang patah atau retak karena adanya pengaruh tenaga horizontal atau tenaga vertikal pada kulit bumi yang tidak elastis. Bidang yang mengalami keretakan atau patahnya kulit bumi disebut bidang patahan. Bidang patahan yang telah mengalami pergeseran disebut faoult atau sesar. Pergeseran tersebut terjadi secara vertikal atau horizontal. Macam-macam patahan/ sesar berdasarkan arah geraknya adalah sebagai berikut.

Perbedaan Gerak Epirogenetik & Orogenetik (Tektonisme) + Gambar
(1) Patahan/ Sesar Naik dan Sesar Turun
Bidang patahan yang atap sesarnya bergeser turun terhadap alas sesar disebut sesar turun, sedangkan yang atap sesarnya seakan-akan bergerak ke atas disebut sesar naik. Sesar naik disebut sesar sungkup apabila jarak pergeserannya sampai beberapa KM dan bagian yang satu menutup bagian yang lain. Contoh sesar di Indonesia adalah sistem patahan di Bukit Barisan (dari Sumatra Utara sampai ke Teluk Semangko di Sumatra Selatan). Daerah patahan ini dikenal dengan nama zone patahan Semangko.

Orang lain juga membuka :
1. 3 Jenis Batuan Pembentuk Litosfer (Beku, Sedimen, Malihan) + Gambar
2. 4 Potensi dan Pelestarian Lahan Potensial & Lahan Kritis
3. 8 Macam Erosi Tanah, Penyebab, Cara Mencegah, dan Dampaknya

(2) Graben dan Horst
Graben/slenk adalah sebuah jalur batuan yang terletak di antara dua bidang sesar yang hampir sejajar, sempit, dan panjang. Bagian yang meninggi atau muncul terhadap daerah sekitarnya disebut horst. Step faulting ialah sesar bentuk tangga. Gambar yang terlampir adalah bagan graben, horst dan sesar bentuk tangga. Sebuah pegunungan yang mengandung banyak patahan disebut kompleks pegunungan patahan.
Perbedaan Gerak Epirogenetik & Orogenetik (Tektonisme) + Gambar

(3) Patahan/ Sesar Mendatar
Sesar mendatar adalah sesar yang tegak lurus dan bergeser secara horizontal walaupun ada sedikit gerak vertikal. Sesar jenis ini umumnya ditemui di daerah-daerah yang mengalami perlipatan dan pensesaran naik. Sesar mendafar yang ukurannya besar terdapat di San Andreas (Californial), Filpina, dan Taiwan. Di Indonesla, sesar mendatar terdapat dalam lapisan neogen muda di daerah Kefamenanu, Timor.

Demikian perbedaan tentang gerak epirogenetik dan gerak orogenetik dalam tektonisme. Link download materi/ artikel sudah tersedia jika anda ingin mendownload artikel IPS geografi di atas.

3 Jenis Batuan Pembentuk Litosfer (Beku, Sedimen, Malihan) + Gambar

Jenis batuan pembentuk litosfer (proses pembentukan, mineral). Mungkin sebagian dari pembaca ada yang masih bingng tentang litosfer. Jadi begini, bumi kita itu terdiri dari 2 lapisan utama, yaitu lapisan dalam (lapisan pembantuk bumi), dan lapisan luar bumi (lapisan yang melindungi bumi dari benda-benda angkasa yang akan ke bumi).

Nah, lapisan dalam bumi terbagi menjadi 3 lapisan, mulai dari kerak bumi, selimut, hingga inti bumi (core). Adapun lapisan litosfer masuk dalam lapisan kerak bumi. Sudah mulai paham ya tentang konsep lapisan bumi. Jangan sampai, anda selaku penduduk bumi tidak mengenal atau tidak mengetahui tentang lapisan-lapisan bumi. Ya minimal anda sudah tahu, bahwa litosfer merupakan salah satu dari lapisan bumi yang terdapat dalam kerak bumi.

3 Jenis Batuan Pembentuk Litosfer (Batuan Beku, Sedimen, Malihan)

Sebelum kami sampaikan tentang 3 jenis batuan pembentuk litosfer, akan kami sampaikan terlebih dahulu tentang pengertian litosfer secara bahasa dan pengertian litosfer secara istilah. Jadi begini, secara bahasa litosfer berasal dari kata lithos artinya batuan, dan sphere artinya lapisan. Berdasarkan pengertian litosfer secara bahasa tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa litosfer adalah lapisan bumi yang paling luar atau biasa disebut dengan kulit bumi.

Lapisan litosfer pada umumnya terjadi dari senyawa kimia yang kaya akan Silikon dioksida (SiO2), itulah sebabnya lapisan litosfer sering dinamakan lapisan silikat. Litosfer memiliki ketebalan rata-rata 30 km dan terdiri atas dua bagian, yaitu sebagai berikut.
a. Litosfer atas, merupakan daratan, kira-kira 35% atau 1/3 bagian
b. Litosfer bawah, merupakan lautan, kira-kira 65% atau 2/3 bagian.

Lapisan litosfer tersusun dari tiga macam batuan, yaitu batuan beku, sedimen, dan metamorf atau malihan. Proses terbentuknya ketiga macam batuan tersebut berbeda-beda. Yang jelas ada satu persamaan dari ketiga jenis batuan pembentuk litosfer tersebut, yaitu induk dari ketiga macam batuan pembentuk litosfer adalah magma. Jika kalian belum mengetahui magma, magma merupakan batu-batuan cair yang terletak di dalam kamar magma di bawah permukaan bumi. Magma di bumi merupakan larutan silika bersuhu tinggi yang kompleks dan merupakan asal semua batuan beku.
Jenis Batuan Pembentuk Litosfer (Beku, Sedimen, Malihan) + Gambar

Batuan Pembentuk Litosfer 1 : Batuan Beku (Igneous Rock)

Batuan beku merupakan jenis batuan pembentuk litosfer yang pertama kita bahasa. Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dan magma pijar yang membeku menjadi padat. Menurut beberapa teori tentang terjadinya bumi, pada suatu waktu bumi berupa massa cair yang dinamakan magma. Magma ini selanjutnya membeku dan membentuk lapisan kerak bumi, dan sebagian besar batuan kerak bumi menjadi jenis batuan beku. Pada kenyataannya, 80% batuan yang menyusun batuan kerak bumi adalah batuan beku.

Berdasarkan tempat terbentuknya magma beku, batuan beku dibagi menjadi 3 macam, antara lain batuan beku dalam, batuan beku gang, dan batuan beku luar. Berikut ini penjelasan satu persatu tentang macam-macam batuan beku.

a. Batuan Beku Dalam (Plutonik/ Abisik)
Batuan beku dalam, terjadi dari pembekuan magma yang berlangsung perlahan-lahan ketika masih berada jauh di dalam kulit bumi. Contoh batuan beku dalam adalah diotit, granit, dan gabbro.
Jenis Batuan Pembentuk Litosfer (Beku, Sedimen, Malihan) + Gambar

b. Batuan Beku Gang/Korok
Batuan beku korok, terjadi dari magma yang membeku di lorong antara sarang magma dan permukaan bumi. Magma yang meresap di antara lapisan-lapisan litosfer mengalami proses pembekuan yang berlangsung lebih cepat, sehingga kristal mineral yang terbentuk tidak semua besar. Campuran kristal mineral yang besarnya tidak sama merupakan ciri batuan beku korok.

c. Batuan Beku Luar/Lelehan
Batuan beku luar atau batuan beku lelehan terjadi dari sebagian magma yang membeku setelah sampai di permukaan buni. Contoh batuan beku luar adalah basalt, diorit, andesit, obsidin, scoria, dan bumice atau batu apung.

Batuan Pembentuk Litosfer 2 : Batuan Sedimen (Sedimentary Rock)

Batuan beku yang telah terbentuk pada permukaan bumi mengalami pelapukan. Bagian bagian yang lepas diangkut oleh aliran air, angin atau cairan gletser, dan kemudian diendapkan. Endapan tersebut disebut sedimen dan masih lunak, karena proses diagenesis, sedimen menjadi keras dan disebut batuan sedimen.

1. Jenis Batuan Sedimen Berdasarkan Proses Pembentukannya
Berdasarkan proses pembentukannya, batuan sedimen dapat dikelompokkan menjadi tiga macam. Apa saja macam-macam batuan sedimen, simak saja penjelasan di bawah ini.

a. Batuan sedimen klastik 
Batuan sedimen klastik yaitu batuan asal yang mengalami penghancuran secara mekanis dari ukuran besar menjadi ukuran kecil, kemudian mengendap membentuk batuan endapan klastik. Contoh umum batuan endapan klastik adalah batuan pasir dan batu lempung (Shale).

Jenis Batuan Pembentuk Litosfer (Beku, Sedimen, Malihan) + Gambar

b. Batuan sedimen kimiawi 
Batuan sedimen kimiawi yaitu batuan yang terjadi karena proses kimiawi, seperti penguapan, pelarutan, dehidrasi, dan sebagainya. Contoh batuan sedimen kimiawi yang terjadi secara tidak langsung adalah batuan sedimen kapur yang dinamakan stalaktit dan stalagmit yang terdapat di gua-gua kapur.

c. Batuan sedimen organik 
Batuan sedimen organik yaitu batuan yang terjadi karena selama proses pengendapannya mendapat bantuan dari organisme, yaitu sisa-sisa rumah atau bangkai binatang laut yang tertimbun di dasar laut
seperti kerang, dan terumbu karang

2. Jenis Batuan Sedimen Berdasarkan Tenaga Yang Mengangkut
Sedangkan berdasarkan tenaga yang mengangkut, batuan sedimen dibedakan menjadi 4 macam. Apa saja ya? Silahkan simak penjelasan berikut.
a. Batuan sedimen aeris 
Batuan sedimen aeris atau aeolis terbentuk oleh tenaga angin, contoh jenis batuan ini yaitu tanah los
b. Batuan sedimen glasial 
Batuan sedimen glasial terbentuk oleh tenaga es, contoh jenis batuan ini yaitu morena;
c. Batuan sedimen aquatis 
Batuan sedimen aquatis terbentuk oleh tenaga air, contoh jenis batuan ini yaitu breksi dan konglomerat
d. Batuan sedimen marine 
Batuan sedimen marine terbentuk oleh tenaga air laut, contoh jenis batuan ini yaitu batu karang

Batuan Pembentuk Litosfer 3 : Batuan Malihan (Metamorphic Rock)

Batuan malihan terbentuk karena adanya penambahan suhu atau penambahan tekanan yang terjadi secara bersamaan pada batuan sedimen. Contoh batuan malihan adalah marmer dari batu kapur dan antrasit dari batu bara.
Jenis Batuan Pembentuk Litosfer (Beku, Sedimen, Malihan) + Gambar


Kesimpulan Akhir
Demikian artikel tentang proses pembentukan jenis batuan pembentuk litosfer (mineral) yang terdiri dari batuan beku, sedimen, malihan. Link Download Materi sudah kami sediakan jika anda membutuhkan artikel di atas. Semoga artikel kami tentang lapisan litosfer bumi di atas bermanfaat.

4 Potensi dan Pelestarian Lahan Potensial & Lahan Kritis

Potensi lahan potensial dan lahan kritis dan pelestarian lahan potensial dan lahan kritis. Masih pada pembahasan seputar tanah, kali ini kami akan membagikan artikel tentang lahan kritis dan lahan potensial. Sebelum pada pembahasan potensi dan pelestarian tanah, alangkah baiknya, jika kami membagikan tentang pengertian tanah.

Jadi, pengertian tanah secara umum dapat dimaknai sebagai akumulasi tubuh alam yang bebas dan menduduki sebagian besar permukaan bumi. Tanah mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat-sifat tertentu, sebagai akibat dari pengaruh iklim dan jasad-jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Sebagai sumber daya alam fisik, tanah berperan penting bagi kehidupan manusia, salah satunya adalah fungsi tanah sebagai lahan potensial untuk mendukung kehidupan manusia.

Potensi dan Pelestarian Lahan Potensial & Lahan Kritis

Ada 2 jenis tanah yang ada di sekitar kita, yaitu tanah potensial dan tanah kritis. Kedua jenis tanah ini mempunyai karakteristik yang bertolak belakang. Singkatnya, lahan potensial merupakan lahan dengan tanah subur, sedangkan lahan kritis adalah lahan dengan tanah kurang subur.

1. Lahan Potensial

Jenis lahan yang pertama kita bahas yaitu lahan potensial. Lahan potensial merupakan lahan yang produktif sehingga jika dikelola dengan baik oleh manusia dapat memberikan hasil yang tinggi walaupun dengan biaya pengelolaan yang rendah. Lahan potensial pada umumnya dikaitkan dengan pertanian sehingga lahan ini mempunyai kemampuan untuk lahan produksi.

Letak lahan potensial bervariasi, ada yang berada di dataran rendah, dataran tinggi. daerah pegunungan, atau pantai. Pemanfaatan lahan potensial antara lain untuk pertanian, hutan, perkebunan, atau pemukiman. Keragaman pemanfaatan tersebut sesuai dengan keadaan daerah dan tingkat kebudayaan manusianya. Lahan potensial merupakan modal dasar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidup manusia, sehingga harus ditangani secara bijaksana jangan sampai pemanfaatan lahan potensial merusak lingkungan.

a. Potensi Ekonomi Sumbar Daya Lahan
Dikarenakan lahan potensial mempunyai tanah yang cocok untuk sektor pertanian, maka ada banyak sekali potensi ekonomi dari lahan potensial. Tentu saja ini disesuaikan dengan jenis tanahnya. Misalnya pemanfaatan lahan potensial untuk tanah humus sangat dengan pemanfaatan lahan potensial pada tanah vulkanik.

Untuk lebih jelasnya tentang pemanfaatan lahan potensial, anda dapat membaca informasi tentang pemanfaatan potensi (ekonomi) dari lahan potensial. Potensi ekonomi dari sumber daya lahan adalah sebagai berikut :
1) Potensi Sumber Daya Lahan Tanah Kapur
Lahan tanah kapur relatif subur untuk pertanian. Lahan ini cocok untuk ditanami hutan jati, palawija, dan tembakau.
2) Potensi Ekonomi Sumber Daya Lahan Tanah Humus
Lahan tanah humus sangat subur dan merupakan lahan pertanian yang baik, karena banyak mengandung unsur hara yang diperlukan untuk kehidupan tanaman.
3) Potensi Ekonomi Sumber Daya Lahan Tanah Mergel
Tanah mergel merupakan tanah yang subur, terdapat di daerah lereng pegunungan dan di dataran rendah. Tanah mergel cocok untuk lahan pertanian
4) Potensi Ekonomi Sumber Daya Lahan Tanah Vulkanik
Tanah vulkanik banyak mengandung unsur-unsur yang diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan. Tanah vulkanik sangat subur dan baik untuk pertanian, misalnya padi, kina, kopi, dan teh.

b. Upaya Pelestarian Lahan Potensial
Lahan potensial sangat dibutuhkan oleh setiap manusia, oleh karena itu harus dilestarikan. Usaha melestarikan lahan potensial berkaitan erat dengan usaha pengawetan tanah atau pengontrolan erosi. Pada pengawetan tanah dibedakan menjadi dua, yaitu dengan metode mekanik dan metode vegetatif.

Apa yang dimaksud metode mekanik dan metode vegetatif dalam upaya pelestarian lahan potensial, berikut ini penjelasannya.
1) Metode vegetatif
Metode vegetatif merupakan metode mengawetkan tanah dengan cara menanam vegetasi pada lahan yang dilestarikan.
2) Metode mekanik
Sedangkan metode mekanik merupakan metode mengawetkan tanah melalui teknik-teknik pengolahan tanah yang dapat memperlambat aliran air.

Lantas, berdasarkan penjelasan di atas, metode mana yang paling efektif untuk digunakan dalam upaya pelestarian lahan potensial? Metode pengawetan tanah atau pengontrolan erosi yang efektif yaitu jika metode mekanik dikombinasikan atau dipadukan dengan metode vegetatif.

Potensi dan Pelestarian Lahan Potensial & Lahan Kritis

2. Lahan Kritis

Sudah sedikit paham ya tentang lahan potensial? Selanjutnya yaitu akan kita kaji tentang lahan kritis. Lahan kritis merupakan kebalikan dari lahan potensial. Lahan kritis adalah lahan yang tidak produktif. Produktivitas lahan kritis sangat rendah, bahkan dapat terjadi hasil produksi yang diterima jauh lebih sedikit dari pada biaya produksinya. Lahan kritis bersifat tandus, gundul, dan tidak dapat digunakan untuk usaha pertanian, karena tingkat kesuburannya sangat rendah.

a. Penyebab Terjadinya Lahan Kritis
Lahan kritis merupakan jenis lahan yang mempunyai tingkat kesuburan yang rendah. Ada beberapa -faktor yang menyebabkan terjadinya lahan kritis. Berikut ini adalah beberapa penyebab suatu lahan menjadi kritis (tidak subur).
1. Pengelolaan lahan yang kurang memerhatikan aspek-aspek kelestarian lingkungan. Lahan kritis dapat terjadi baik di dataran tinggi, pegunungan, daerah yang miring maupun di dataran rendah
2. Masuknya zat pencemar (misal pestisida dan limbah pabrik ke dalam tanah sehingga tanah menjadi tidak subur
3. Terjadinya pembekuan air, biasanya terjadi di daerah kutub atau pegunungan yang sangat tinggi
4. Genangan air yang terus-menerus seperti di daerah pantai dan rawa-rawa.
5. Erosi tanah atau mass wasting yang biasanya terjadi di daerah dataran tinggi, pegunungan, dan daerah miring lainnya
6. Kekeringan, biasanya terjadi di daerah bayangan hujan.
7. Masuknya material yang dapat bertahan lama ke lahan pertanian, misalnya plastik. Plastik dapat bertahan 200 tahun di dalam tanah sehingga sangat mengganggu kelestarian lahan pertanian.

Orang lain juga membuka :
1. 11 Jenis dan Persebaran Tanah di Indonesia & Gambar
2. 50 Soal Sumber Daya Alam (SDA) dan Jawaban (Pilihan Ganda)
3. Soal IPA tentang Fungsi Bagian Tumbuh-Tumbuhan & Jawaban

b. Usaha Pelestarian lahan Kritis
Dikarenakan ada banyak sekali kerugian, jika lahan potensial menjadi lahan kritis, maka ada beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya lahan kritis. Berikut ini beberapa contoh usaha untuk melestarikan lahan kritis.
1) Penghijauan kembali (reboisasi) daerah yang gundul. Maksud penghijauan adalah menanami lahan yang gundul yang belum pemah menjadi hutan, sedangkan reboisasi adalah menanami lahan gundul yang permah menjadi hutan. Jadi pada prinsipnya upaya ini adalah menghutankan daerah-daerah yang gundul, terutama di daerah pegunungan.
2) Menghilangkan unsur-unsur yang dapat mengganggu kesuburan lahan pertanian, misalnya plastik. Berkaitan dengan hal ini, proses daur ulang atau recycling sangat diharapkan. Proses daur ulang ini juga dapat menghemat SDA yang tidak dapat diperbarui (nonrenewable).
3) Memanfaatkan tumbuhan eceng gondok guna menurunkan zat pencemar yang ada pada lahan pertanian. Eceng gondok dapat menyerap zat pencemar dan dapat dimanfaatkan untuk makanan ikan. Namun dalam hal ini pengelolaannya harus hati-hati karena eceng gondok sangat mudah berkembang sehingga dapat menganggu lahan pertanian apabila pertumbuhannya tidak terkendali
4) Melakukan reklamasi lahan bekas pertambangan. Biasanya daerah ini sangat gersang, oleh karena itu harus ditanami jenis tumbuhan yang mampu hidup di daerah tersebut, misalnya pohon mindi
5) Tindakan yang tegas tetapi bersifat mendidik kepada siapa saja yang melakukan kegiatan yang dapat menyebabkan terjadinya lahan kritis.
6) Pemupukan dengan pupuk organik atau alami yaitu pupuk kandang atau pupuk hijau secara tepat dan terus-menerus
7) Pengembangan keanekaragaman hayati dan pola pergiliran tanaman
8) Pengelolaan wilayah terpadu di wilayah lautan dan daerah aliran sungai (DAS)

Demikian artikel tentang potensi lahan potensial dan lahan kritis serta upaya pelestarian lahan potensial dan lahan kritis untuk memaksimalkan keuntungan secara ekonomis. Silahkan tekan tombol link download materi, jika anda membutuhkan materi tentang lahan potensial dan lahan kritis di atas.

8 Macam Erosi Tanah, Penyebab, Cara Mencegah, dan Dampaknya

Macam-macam erosi tanah, penyebab erosi tanah, cara mencegah, dan dampak erosi tanah terhadap kehidupan.  Pada kali ini, kami akan membagikan artikel tentang erosi tanah. Ada beberapa hal yang akan kita pelajari dalam materi erosi tanah, mulai dari macam jenis erosi tanah, hingga cara mencegah terjadinya erosi tanah.

Sebelum kami sampaikan materi tentang erosi tanah, sebaiknya perlu kita ketahui tentang pengertian erosi tanah. Apakah kalian sudah mengetahui, tentang pengertian erosi tanah? Jadi, jangan sampai kalian mempelajari hal-hal lain tentang erosi tanah, tapi belum mengetahui tentang pengertian erosi tanah.

Pengertian erosi tanah?

Biar kalian tidak penasaran dengan pengertian erosi tanah, akan kami sampaikan terlebih dahulu tentang pengertian erosi tanah secara umum. Erosi tanah adalah pelepasan atau pemindahan material tanah dan batuan dari satu tempat ke tempat lain yang disebabkan oleh adanya tenaga air, angin, dan gletser. Pada umumnya, erosi tanah terjadi dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah.

Berdasarkan pengertian erosi tanah di atas, dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa misalnya kalian tinggal di tempat yang punya relief tanah yang bervariasi tinggi rendahnya, maka akan rawan terjadinya bencana erosi tanah. Erosi tanah sendiri masuk dalam kategori bencana alam yang alami, maupun karena ulah tangan manusia juga. Jadi bencana erosi tanah ini terjadi tidak hanya disebabkan oleh faktor alam semata, namun juga sebagian terjadi karena sumbangan tangan manusia.

1. Macam-Macam Erosi Tanah
Sudah paham ya, tentang pengertian erosi tanah? Selanjutnya akan kita pelajari tentang macam-macam erosi tanah. Perlu anda ketahui bahwa erosi tanah itu bermacam-macam tergantung dari berbagai sudut pandang. Nah, untuk kali ini, akan kami sampaikan macam-macam erosi tanah berdasarkan penyebab terjadinya erosi tanah.  Jadi, ada 8 macam erosi tanah berdasarkan penyebabnya, antara lain :

a. Erosi Percikan (Splash Erosion
Erosi percikan terjadi karena adanya percikan dari air hujan pada tanah atau batuan. Erosi percikan menyebabkan material atau batuan yang terkena tetesan air hujan menjadi lapuk dan akhirnya hancur

b. Erosi Permukaan (Sheet Erosion)
Erosi permukaan adalah hilangnya lapisan tanah, terjadi karena adanya tenaga dari air, atau gletser, sehingga melarutkan lapisan tanah yang dilewatinya. Erosi permukaan menyebabkan hilangnya kesuburan tanah, karena hilangnya lapisan humus yang ada dalam tanah

c. Erosi Alur Rill Erosion)
Erosi alur adalah pengikisan tanah dan batuan yang terjadi di daerah-daerah miring, sehingga alur-alur yang searah dengan kemiringan lereng tanahnya mengalami pengikisan

d. Erosi Angin
Erosi angin terjadi karena adanya tiupan angin yang menyebabkan terjadinya pengikisan pada batuan atau tanah, biasanya terjadi di daerah gurun pasir Erosi angin juga disebut deflasi

e. Erosi Laut
Erosi laut disebabkan oleh gelombang air laut yang mengikis daerah pantai Erosi oleh gelombang air laut juga disebut dengan abrasi.

f. Erosi Parit (Gully erosion)
Erosi parit merupakan kelanjutan dari erosi alur. Erosi parit mempunyai tenaga sangat kuat, sehingga menyebabkan lereng-lereng yang terkena erosi akan berbentuk seperti huruf V atau U

g. Erosi Gletser
Erosi gletser terjadi karena adanya pengikisan massa es di daerah kutub atau pegunungan bersalju. Massa es yang merambat menuruni lereng karena pengaruh dari gaya gravitasi bumi, menyebabkan terkikisnya tempat-tempat yang dilaluinya.

h. Erosi Tebing Sungai
Erosi tebing sungai terjadi karena adanya pengikisan pada dinding sungai yang menyebabkan lembah sungai bertambah lebar. Biasanya terjadi di daerah hilir sungai

2. Sebab Terjadinya Erosi Tanah
Telah kami sampaikan di atas, bahwa erosi tanah terjadi karena 2 hal, yaitu faktor alam dan faktor tangan manusia. Terjadinya erosi tanah mengakibatkan lapisan tanah atas yang subur akan rusak dan menjadikan lingkungan alam lainnya ikut rusak. Berikut ini rincian sebab-sebab terjadinya erosi tanah:
a. penebangan hutan secara liar (illegal logging) mengakibatkan hutan menjadi gundul
b. kondisi tanah gundul atau tidak ada tanamannya,
c. pada tanah miring tidak dibuat teras-teras dan guludan sebagai penyangga air dan tanah yang larut,
d. tanah tidak dibuat tanggul pasangan sebagai penahan erosi,
e. pada permukaan tanah yang berumput digunakan untuk penggembalaan liar sehingga tanah atas semakin rusak

Macam Erosi Tanah, Penyebab, Cara Mencegah, dan Dampaknya

3. Dampak Erosi Tanah terhadap Kehidupan
Erosi yang berlangsung secara terus-menerus akan berakibat fatal bagi kehidupan manusia. Hilangnya sumber daya alam yang ada, khususnya tanah dan berkurangnya tingkat kesuburan tanah akan merugikan manusia. Untuk menjaga kestabilan tanah di daerah miring dan untuk mengurangi tingkat erosi tanah, maka diperlukan beberapa langkah antara lain sebagai berikut :
a. Terasering, yaitu pola bercocok tanam dengan sistem berteras-teras (bertingkat) untuk mencegah terjadinya erosi tanah.
b. Contour farming, yaitu menanami lahan menurut garis kontur (kemiringan), sehingga perakarannya dapat menahan tanah dari erosi
c. Pembuatan tanggul pasangan (guludan) untuk menahan laju erosi
d. Contour plowing, yaitu membajak tanah searah garis kontur, sehingga terjadilah alur-alur horizontal untuk mencegah terjadinya erosi.
e. Contour strip cropping, yaitu bercocok tanam dengan cara membagi bidang-bidang tanah dalam bentuk memanjang dan sempit dengan mengikuti garis kontur sehingga bentuknya berbelok-belok. Masing-masing di tanami tanaman yang berbeda-beda jenisnya secara berselang seling (tumpang sari).
f. Crop rotation, yaitu usaha pergantian jenis tanaman supaya tanah tidak kehabisan salah satu unsur hara, akibat diserap terus menerus oleh salah satu jenis tanaman
g. Reboisasi, yaitu menanami kembali hutan-hutan yang gundul untuk mencegah terjadinya erosi, tanah longsor, dan banjir.

Orang lain juga membuka :
1. Penyebab Tanah Longsor dan Penanggulangannya yang Harus Dibaca
2. 6 Bencana Alam Akibat Ulah Manusia (Banjir, Longsor, Kekeringan, Dll)

4. Pencegahan Erosi Tanah
Dikarenakan ada bahaya yang luar biasa terhadap kehidupan, maka kita sebagai manusia wajib melakukan usaha pencegahan erosi tanah. Usaha-usaha untuk melindungi tanah terhadap erosi disebut pengawetan tanah. Pengawetan tanah dilakukan dengan bermacam macam cara antara lain :
a. menanami tanah yang terbuka dengan rumput dan tanaman lain, sehingga permukaan tanah tertutup oleh tumbuh-tumbuhan
b. menanami tanah gundul dengan pohon-pohon berdaun lebat dan berakar dalam sehingga daun-daunnya dapat menahan pukulan air hujan dan akamya yang dalam memungkinan tanah menyerap banyak.
c. memperbaiki cara-cara pengolahan tanah, antara lain dengan sistem irigasi, pemberantasan hama tanaman dan penanaman secara bergilir
d. membuat saluran air yang atasnya ditanami rumput,
e. pembuatan teras pada lereng yang curam
f. pemberian pupuk yang tepat untuk meningkatkan kesuburan tanah

Demikian artikel tentang erosi tanah yang terdiri dari macam-macam erosi tanah, penyebab erosi tanah, cara mencegah, dan dampak erosi tanah terhadap kehidupan. Link Download Materi sudah kami sediakan jika anda ingin mendownload materi geografi di atas.