Ketika Umar Meminta Nasihat Kepada Rakyatnya

     Iklan (Tutup K!k 2x)
     Iklan (Tutup K!k 2x)
Ketika Umar Meminta Nasihat Kepada Rakyatnya

Ketika Umar Meminta Nasihat Kepada Rakyatnya

Diriwayatkan dari Salamah bin Dinar, seorang alim dari Madinah, qadhi, serta syekh penduduk Madinah. Beliau menceritakan kisahnya, “Suatu waktu, aku menemui Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika beliau ada di Khunashirah, yaitu tempat pemerahan susu.”

“Sudah lama saya sekali tidak bertemu dengan beliau. Saya melihat beliau di depan pintu. Pertama kali melihat, saya sudah tidak dapat mengenali beliau lagi karena banyaknya perubahan fisik yang ada pada dirinya jika dibandingkan dengan terakhir kali saya bertemu beliau di Madinah, yaitu sewaktu menjadi gubernur di sana.”

Beliau menyambut kedatanganku kemudian berkata, “Mendekatlah kepadaku hai Abu Hazim.” Aku pun segera mendekat lalu berkata, “Bukankah engkau adalah Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz?“ Beliau lengsung membenarkannya. Kemudian aku bertanya lagi, “Apa yang menyebabkan anda sekarang berubah? Bukankah dahulu wajah anda sangat tampan? Kulit Anda halus dan hidup dengan serba kecukupan?”


Lalu umar berkata, “Ya begitulah, aku memang sudah berubah.” Kemudian aku bertanya lagi, “Lantas apa yang telah membuat Anda sekarang berubah, padahal sekarang Anda telah menguasai emas dan perak dan Anda juga telah diangkat menjadi Amirul Mukminin?” Umar pun  menjawab, “Memangnya perubahan apa yang ada pada diriku wahai Abu Hazim?“ Aku menjawab, “Tubuh Anda sekarang begitu kurus, wajah anda pucat dan kulit anda berubah menjadi kasar, bening kedua matamu juga menjadi redup.

Tiba-tiba beliau lanhsung menangis. “Bagaimana halnya apabila engkau melihatku setelah tiga hari aku berada di dalam kubur, mungkin kedua mataku juga telah melorot di pipiku, perutku terburai, lalu ulat-ulat tanah menggerogoti tubuhku. Sungguh apabila engkau melihatku waktu itu wahai Abu Hazim, tentulah engkau lebih tidak dapat mengenaliku lagi dibanding hari ini.”

Kemudian Umar meminta kepadaku untuk menyampaikan sebuah hadis. “Ingatkah Anda mengenai suatu hadis yang pernah Anda bacakan kepadaku ketika di Madinah, wahai Abu Hazim?” Aku lalu menjawab, “Saya telah membacakan banyak hadis wahai Amirul Mukminin. Lantas hadis mana yang Anda maksud?”

Umar bin Abdul Aziz lalu berkata, “Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.” Abu Hazim menyampaikan hadis itu. “Saya telah mendengar Abu Hurairah berkata, Aku mendengar Nabi Saw bersabda, ‘Sesungguhnya di hadapan kalian terhampar banyak rintangan yang begitu terjal, berbahaya, dan tidak ada yang sanggup melewatinya dengan selamat kecuali orang yang kuat.”


Kemudian, Umar menangis dengan tangisan yang mengharukan, saya khawatir jika tangisan tersebut dapat memecahkan hatinya. Lalu beliau menghapus air matanya seraya menoleh kepadaku dan berkata, “Apakah Anda berkenan untuk menegurku wahai Abu Hazim jika aku bersantai-santai dalam mendaki rintangan yang terjal tersebut sehingga aku dapat berhasil menempuhnya? Aku khawatir jika aku tidak berhasil melaluinya.

Kisah tersebut menggambarkan bahwa setiap orang dapat berbuat salah. Oleh karena itu, dibutuhkan nasihat dan saling mengingatkan satu sama lain. Wallahu a’lam.”

Sumber :www.republika.co.id

Silahkan berkomentar . .
EmoticonEmoticon