3 Hadits Tentang Kontrol diri (Mujahadah an-Nafs), Arti, Penjelasan

Loading...
Macam-macam hadis tentang kontrol diri (mujahadah an nafs). Menyambung pada materi agama islam yang telah kami sampaikan sebelumnya, ya itu tentang pentingnya kontrol diri dan mengendalikan diri, kali ini kami akan membagikan materi, khususnya pada mata pelajaran PAI yaitu tentang hadis tentang kontrol diri atau mujahadah an nafs.

Pada dasarnya ada dua dasar yang dapat digunakan sebagai dasar dalam memahami tentang pentingnya kontrol diri, yaitu dasar al quran dan al hadis. Jika anda mencari dasar alquran tentang kontrol diir, silahkan buka : Makna QS Al Anfal : 72 tentang pentingnya kontrol diri.

Untuk kali ini, kami akan membagikan materi tentang hadis tentang kontrol diri (mujahadah an nafs). Sumber hadis yang membahas kontrol diri ada beberapa, untuk kali ini, akan kami paparkan 3 hadis tentang kontrol diri. Walaupun hanya ada 3 hadis tentang kontrol diri, kami harap cukup untuk menjawab rasa penasaran anda tentang kontrol diri, karena dalam hadis ini sudah kami lengkapi dengan terjemahan dan makna kandungan hadis tentang kotrol diri. Berikut ini kami berikan penjelasan satu persatu.


Hadis Pertama tentang Kontrol Diri

Hadits Tentang Kontrol diri (Mujahadah an-Nafs)

Makna Kata dalam Hadis
Hadits Tentang Kontrol diri (Mujahadah an-Nafs)

Terjemahan Hadis :
Dari Abu Hurairah r.a.: "Rasulullah saw. bersabda: Orang yang kuat bukanlah orang yang (biasa menang) saat bertarung/bergulat, tetapi orang kuat itu adalah yang (mampu) mengendalikan nafsunya ketika marah." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kandungan Hadis tentang Kontrol Diri.
Setelah membaca terjemahan hadis di atas, ada beberapa makna yang terkandung untu dapat dipetik sebagai pelajaran bagi kita semua.
a. Islam memberi pengertian yang berbeda tentang siapa orang yang dapat diberi julukan sebagai orang yang kuat atau tangguh. Mereka bukan yang selalu menang saat bertarung
berkelahi, atau bergulat.

b. Pentingnya kontrol atau mawas diri ketika meniti kehidupan Di dunia ini, kita sadari bahwa banyak godaan dan rintangan yang mengelilingi hidup keseharian kita. Apalagi bagi yang hidup di kota-kota besar yang sering berhimpitan dengan banyak kepentingan yang berbeda-beda.

c. Kemenangan dan keberhasilan hanya dapat diraih oleh orang orang yang mampu mengendalikan dirinya, meredam hawa nafsunya saat marah, dan selalu meningkatkan kesabaran saat ditimpa musibah, masalah, dan duka nestapa

Hadis Kedua tentang Kontrol Diri


إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Artinya : “Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

Hadis Ketiga tentang Kontrol Diri

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
artinya : "Janganlah salah satu diantara kalian mati, kecuali berprasangka baik terhadap Allah." (Muslim)

Melawan Hawa Nafsu

Di dunia ini hanya ada dua jalan, yaitu jalan kebenaran dan jalan hawa nafsu. Jalan kebenaran adalah petunjuk yang diturunkan oleh Allah swt., sementara jalan hawa nafsu merupakan jalan yang diprakarsai oleh setan dan nafsu yang terhujam di dalam diri masing masing. Keduanya merupakan musuh manusia yang harus diperangi dan dikendalikan. Melawan hawa nafsu berarti mengikuti jalan Allah swt. dengan penuh perhitungan dan kesabaran. Itulah sebabnya setiaporang harus memiliki kontrol diri yang kuat.

Hawa nafsu berarti kecenderungan manusia pada perkara yang disukai dirinya. Orang yang lebih mengikuti keinginan hati yang buruk atau yang telah diharamkan oleh hukum syariat, itulah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya. Perbuatan ini harus dijauhi karena merupakan pangkal kemakslatan, sumber malapetaka, dan kemungkaran. Orang ang berbuat demikian akan tersesat dari jalan kebenaran dan dikenai siksa di akhirat kelak. Oleh karena itu, hawa nafsu harus dikekang dan dikendalikan, Ingat, hanya dikendalikan, bukan mematikan nafsu. Islam menekankan bahwa nafsu itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dijaga dan dikendalikan. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw yang sangat menekankan jihad batin, maknawi, atau jihad melawan hawa nafsu.

Rasulullah saw. mengingatkan kita untuk meninggalkan satu peperangan, satu perjuangan, atau satu jihad yang kecil menuju sebuah perjuangan atau jihad yang besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu. Orang yang berperang melawan nafsu, tampak seperti duduk duduk saja, tidak seperti orang lain yang mungkin bisa dengan bebas beraktivitas atau berekspresi, tetapi sebenarnya ia sedang membuat rencana kerja, langkah yang besar, yakni berjihad melawan haw yang bersemayam di dalam dirinya.

Pada hakikatnya, melawan hawa nafsu atau mujähadah an-nafs itu sangat susah. la laksana perang melawan diri, sebuah pertarungan yang tiada henti, dan berlangsung sepanjang ruh bersemayam di badan Berbeda dengan perang melawan pihak lain karena sasarannya jelas dan tampak dengan jelas pula pihak yang menang atau sebaliknya yang kalah. Mungkin apabila nafsu itu ada di luar jasad atau dapat diindra kita akan mudah menekan dan membunuhnya sampai mati, namun nafsu itu ada dalam diri kita dan mengalir bersama aliran darah serta menguasai seluruh tubuh. Karena itu, tanpa azzam (tekad kuat) dan kemauan yang sungguh-sungguh kita pasti dapat dikalahkan, bahkan boleh jadi akan dipermainkan atau diperalat sesukanya. Nafsu jahat dapat dikenal melalui sifat keji dan kotor yang ada pada manusia.

Imam Al-Ghazali membagi hawa nafsu menjadi empat bagian, yaitu:
a. Keserakahan nafsu terhadap harta benda. Bersyukurlah apabila menjadi orang kaya atau jika mempunyai kedudukan dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan banyak orang dan memakmurkan rakyat
b. Nafsu amarah yang akan membutakan hati. Cara terbaik mengendalikannya adalah berusaha selalu bersabar dalam menghadapi kemarahan dan kezaliman orang lain, bersikap lapang dada, suka memaafkan, dan bermurah hati.
c. Kesenangan duniawi mendorong nafsu. Manusia selalu diingatkan agar tidak terjerumus akan kesenangan duniawi karena hal itu akan mendorong nafsu menjadi liar.
Nafsu syahwat. Setan menggoda manusia melalui berbagai cara antara lain melalui harta, pasangan, dan takhta (kekuasaan). Akibatnya, tidak sedikit manusia yang hancur dan rusak kehidupannya karena hanya mencari kesenangan dunia semata

Sejalan dengan itu, beberapa prinsip berikut ini dapat dijadikan sebagai landasan dalam jihad atau berjuang melawan hawa nafsu menahan atau menyekat sumber kekuatannya, membebankan nafsu itu dengan ibadah, beribadah semata-mata mengharapkan ridha-Nya melalui memperbanyak amal shaleh, misalnya rajin belajar, mencinta pekerjaan, menebarkan kedamaian untuk semua, dan tidak lupa berdoa meminta bantuan Allah swt. untuk mengalahkannya, karena doa itu salah satu kunci menuju kesuksesan.

Dapat kita tarik kesimpulan bahwa orang-orang yang sanggup melawan hawa nafsu adalah mereka yang beriman kepada Allah swt. dan hari akhir. Inilah kekuatan yang ada dalam diri umat Islam Keyakinan dan prinsip tersebut membuat kita sebagai umat Islam menjadi golongan yang sanggup untuk menghindari kenikmatan sesaat demi mendapatkan kebahagiaan jangka panjang yang kekal nan abadi, yaitu kebahagiaan akhirat.

Sahabat Rasulullah saw. Abdullah lbnu Abbas r.a. mengatakan "Orang-orang yang ber-mujahadah untuk melakukan ketaatan, maka Allah swt. akan tunjukkan kepada mereka jalan pahala dan keagungan rahmat-Nya.
Loading...

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "3 Hadits Tentang Kontrol diri (Mujahadah an-Nafs), Arti, Penjelasan"

  1. Isi konten tentang kebaikan tapi iklannya sebaliknya

    BalasHapus

Silahkan berkomentar . .

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan (Tutup KI!k 2x)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan (Tutup KI!k 2x)

Iklan Bawah Artikel