Sejarah Koperasi di Dunia dan Indonesia Lengkap

     Iklan (Tutup K!k 2x)
     Iklan (Tutup K!k 2x)
Sejarah koperasi – Dewasa ini, khususnya di Indonesia koperasi merupakan suatu lembaga yang mempunyai peran vital bagi perekonomian nasional. Bahkan Pemerintah secara khusus membentuk kementrian koperasi untuk mendorong koperasi di Indonesia. Akan tetapi, bukan kementrian koperasi yang akan kita bahas dalam artikel ini, melainkan sejarah koperasi, baik itu sejarah koperasi di Indonesia maupun sejarah di dunia.

Dalam materi sejarah koperasi ini, ada banyak hal yang akan kita pelajari. Mulai dari asal muasal koperasi, negara mana yang pertama kali menggunakan koperasi, tokoh-tokoh pencetus koperasi, dan tentu saja sejarah koperasi di dunia dan sejarah koperasi di Indonesia. Akan tetapi, sebelum kita belajar tentang sejarah koperasi, kita pelajari dulu tentang pengertian koperasi. Apa yang dinamakan koperasi?

Kata “Koperasi” secara harfiah berasal dari bahasa Inggris yaitu “Cooperation” yang artinya Co (bersama) dan Operation (bekerja). Berdasarkan bahasa tersebut, secarasecara keseluruhan koperasi bermakna bekerja sama. Pengertian koperasi di Indonesia menurut UU No.25 tahun 1992 yaitu badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan kegiatannya melandaskan pada prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.

A. Sejarah Latar Belakang Berdirinya Koperasi 

Pada dasarnya koperasi merupakan suatu lembaga atau institusi yang lahir berdasarkan solidaritas tradisional serta kerjasama antar individu yang ada sejak awal sejarah manusia sampai pada awal revolusi industri di Eropa pada pertengahan abad ke-18 dan awal abad ke-19. Institusi ini dinamakan sebagai Koperasi Pra-Industri atau Koperasi Historis. Pelaksanaan sistem kapitalis yang ada di eropa membuat buruh banyak dirugikan, oleh karena itu mereka mereka bersepakat untuk membentuk lembaga koperasi. Pertumbuhan lembaga koperasi pada awalnya tidak bisa dipisahkan dengan gerakan sosialis, hal ini karena adanya pengaruh yang kuat dari pemikiran sosialis.

Berdasarkan latar belakang tersebut, sudah jelas bahwa sejarah koperasi berasal dari eropa, yaitu pertengahan abad 19. Ada 4 negara eropa yang mempunyai sejarah dalam pelaksanaan lembaga koperasi, yaitu Inggris, Prancis, Jerman, dan Denmark. Keempat negara tersebut mempunyai sejarah yang berbeda-beda dalam menjalankan koperasi.

B. Sejarah Koperasi di negara-negara eropa

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa ketika kita ingin mengetahui sejarah koperasi maka kita harus belajar dari mana adanya lembaga koperasi. Koperasi berasal dari eropa dengan sejarah tiap-tiap negara yang berbeda. Ada empat negara eropa yang akan kita bahas mengenai sejarah pelaksanaan koperasi, antara lain sebagai berikut :

1. Sejarah Koperasi di Inggris
Sejarah koperasi di Inggris diawali oleh koperasi konsumsi di Rochdale pada awal abad 19. Pada awalnya Koperasi Rochdale hanya bergerak di bidang kebutuhan konsumsi. Akan tetapi mereka kemudian mulai mengembangkan usahanya dengan melakukan berbagai usaha produktif. Para pelopor Koperasi Rochdale memegang asas-asas Rochdale dalam mengembangkan koperasi mereka itu agar mampu menjadi usaha yang dapat mendirikan pabrik, menyediakan perumahan untuk anggotanya, dan melaksanakan program pendidikan agar dapat meningkatkan pengetahuan anggota Koperasi. Pada tahun 1852, telah berdiri sekitar 100 koperasi Konsumsi yang menyusul keberhasilan Koperasi Rochdale di Inggris. Koperasi tersebut ini pada umumnya juga didirikan oleh para konsumen Sebagaimana Koperasi Rochdale.

Pada tahun 1862, untuk memperkuat gerakan koperasi, koperasi-koperasi konsumsi di Inggris bergabung menjadi pusat Koperasi Pembelian yang bernama The Cooperative Whole-sale Society (CWS). Pada tahun 1945, CWS mempunyai 200 pabrik atau tempat usaha dengan 9.000 pekerja. Perputaran modal koperasi juga mencapai 55.000.000 poundsterling. Pada tahun 1950 di wilayah Inggris, jumlah anggota Koperasi berjumlah lebih dari 11.000.000 orang dari 50.000.000 orang penduduk Inggris pada saat itu.

2. Sejarah Koperasi di Perancis
Sejarah koperasi di Prancis tidak terlepas dari perkembangan industri yang telah mengakibatkan penderitaan dan kemiskinan untuk rakyat Perancis. Melalui dukungan para pelopor koperasi seperti Louis Blanc, Charles Forier, serta Ferdinand Lasalle, mereka menyadari bahwa perlu adanya perbaikan nasib rakyat. Oleh karena itu, para pengusaha kecil di Perancis membangun banyak koperasi yang bergerak dalam bidang produksi.

Di Perancis, sekarang ini sudah terdapat gabungan Federation Nationale Dess Cooperative de Consommation (Koperasi konsumsi Nasional Perancis), dengan jumlah koperasi yang tergabung sejumlah 476 buah. Jumlah anggotanya mencapai 3.460.000 orang dan toko yang dimiliki berjumlah 9.900 buah, dengan perputaran modal sebesar 3.600 milyar franc pertahun.

3. Sejarah Koperasi di Jerman
Sejarah berdirinya koperasi di Jerman sangat dipengaruhi oleh perkembangan koperasi di Prancis dan Inggris. Pada tahun 1848 F.W. Raiffeisen, seorang walikota di Flammersfield menganjurkan agar para petani menyatukan diri dalam perkumpulan simpan pinjam. Pada akhirnya Raiffesien dapat mendirikan Koperasi setelah melalui beberapa rintangan, dengan pedoman kerja antara lain :
1. Anggota koperasi wajib menyimpan sejumlah uang
2. Uang simpanan dapat dikeluarkan sebagai pinjaman, akan tetapi dengan membayar bunga.
3. Usaha Koperasi pada awalnya dibatasi di desa setempat supaya tercapai kerjasama yang erat.
4. Keuntungan yang didapat digunakan untuk kesejahteraan rakyat
5. Pengurusan Koperasi dijalankan oleh anggota yang dipilih tanpa diberi upah.

Selain F.W. Raiffeisen, pelopor Koperasi dari Jerman yang lain yaitu H. Schulze, seorang hakim bernama yang berasal dari kota Delitzcsh. Ia mempelopori adanya Koperasi simpan-pinjam yang bergerak di wilayah perkotaan tahun 1849. Pedoman kerja dari Koperasi simpan-pinjam Schulze antara lain :
1. Wilayah kerjanya di daerah perkotaan.
2. Modal kerja koperasi berupa uang simpanan dikumpulkan dari anggota
3. Pengurus Koperasi dipilih dan mendapatkan upah atas pekerjaannya.
4. Keuntungan dari bunga pinjaman yang didapat akan dibagikan kepada anggota koperasi
5. Pinjaman koperasi bersifat jangka pendek.

4. Sejarah Koperasi di Denmark
Dalam sejarah perkembangan koperasi, tidak hanya hasil-hasil pertanian yang disalurkan melalui Koperasi, akan tetapi juga barang-barang kebutuhan sektor pertanian. Selain itu, di Denmark juga berkembang Koperasi konsumsi. Koperasi konsumsi yang ada di Denmark didirikan oleh serikat-serikat pekerja di daerah perkotaan.


C. Sejarah Koperasi di Indonesia 

Sejarah koperasi di Indonesia tidak lepas dari praktik kolonialisme dan imperialisme di Indonesia. Bangsa eropa datang ke Indonesia tidak hanya membawa misi penjajahan saja, melainkan juga memperikan pengaruh budaya ke Indonesia. Sejarah perkembangan koperasi di Indonesia terbagi pada beberapa masa, antara lain : masa Belanda, masa Jepang, masa kemerdekaan, dan setelah orde baru (1965).

1. Sejarah Koperasi Masa Belanda 
Sejarah perkoperasian di Indonesia mencatat bahwa orang yang pertama kali memperkenalkan koperasi di Indonesia yaitu Raden Aria Wiraatmaja, seorang Patih di Purwokerto. Raden Aria Witaatmaja memperkenalkan koperasi dengan cara mendirikan bank khusu yang bertujuan untuk menolong para pegawai supaya tidak menjadi korban para rentenir. Badan usaha yang dibentuk oleh Raden Aria Wiraatmaja yaitu Bank Penolong dan Tabungan (Hulp en Spaarbank). Pada awalnya Raden Aria mendirikan lembaga koperasi hanya ditujukan untuk pegawai rendahan, namun kemudian berkembang ke arah koperasi di bidang pertanian (Hulp spar en Landbouwcredit Bank). 

Perekonomian Indonesia pada zaman Belanda mengalami kemerosotan, khususnya ekonomi dari penduduk pribumi. Hal ini ada hubungannya dengan diskriminasi penduduk Indonesia ke dalam 2 golongan yaitu penduduk golongan Eropa dan Timur Asing (Cina, India) dan golongan penduduk pribumi. Menanggapi permasalaha tersebut, maka kaum pribumi yang dipelopori oleh kaum terpelajar mendirikan organisasi pergerakan yang mencoba menggerakkan semangat nasionalisme, misalnya Boedi Oetomo (1908) dan Serikat Dagang Islam (1911).

Organisasi pergerakan nasional ternyata juga memunculkan adanya gerakan koperasi, contohnya dengan adanya keputusan raja pada tanggal 7 April tahun 1915 tentang peraturan koperasi (Verorderning op de Cooperatieve Vereeniging). Peraturan tersebut berlaku baik bagi penduduk Eropa, Timur Asing, dan pribumi. Akan tetapi,  karena peraturan itu merupakan terjemahan dari koperasi di belanda, maka koperasi seakan-akan hanya berlaku untuk penduduk Belanda dan Cina. Ada 3 alasan mengapa penduduk pribumi sulit untuk mendirikan koperasi, antara lain :
1. akte pendirian koperasi harus dibuat melalui notaris yang membutuhkan biaya tidak sedikit
2. biaya materai paling sedikit yaitu sebesar 50 gulden
3. hak atas tanah harus diatur berdasarkan aturan hukum eropa

Sejarah koperasi Indonesia pada masa Belanda dapat berkembang setelah pemerintah kolonial membuat program pembinaan koperasi. Program tersebut diadopsi oleh pemikiran Booke, seorang pejabat pemerintah Belanda, yang menjadi sarjana ekonomi. Booke berpendapat bahwa sistem usaha koperasi lebih cocok bagi kaum pribumi dari pada bentuk badan-badan usaha kapitalis. Meski koperasi berkembang pesat sampai tahun 1933-an, pemerintah Belanda khawatir bahwa koperasi akan dijadikan sebagai pusat perlawanan. Akan tetapi, koperasi menjamur kembali pada masa pendudukan Jepang dan kemerdekaan.

2. Sejarah Koperasi Zaman Jepang 
Sejarah koperasi zaman jepang dimulai setelah Jepang berhasil menggantikan posisi Belanda di Indonesia. Pendudukan Jepang di Indonesia mengubah banyak hal. Struktur pemerintahan di daerah diatur berdasarkan kebutuhan perang, dan bukan lagi suatu daerah pemerintahan. Pemerintah Jepang mengeluarkan UU no 23 tahun 1942 yang menentukan bahwa untuk mendirikan suatu perkumpulan dan mengadakan rapat harus mendapatkan ijin dari pada syuutjokan (residen). Dengan Undang-Undang tersebut, maka secara otomatis koperasi di Indonesia tidak memiliki ruang gerak. Akan tetapi masa pemerintahan Jepang yang hanya sebentar di Indonesia membuat semangat koperasi meningkat kembali setelah Indonesia merdeka.

3. Sejarah Koperasi Zaman awal Kemerdekaan
Kemerdekaan yang diperoleh oleh rakyat  indonesia membawa arah baru bagi pengembangan koperasi di Indonesia. Koperasi Indonesia mendapatkan perhatian lebih karena usaha koperasi dicantumkan dalam UUD 1945 pasal 33. Dalam pasal tersebut disebutkan bahwa perekonomian Indonesia disusun berdasarkan asas kekeluargaan. Dalam penjelasan pasal 33, bangun usaha yang sesuai dengan pasal tersebut yaitu adalah koperasi. Supaya pengembangan koperasi dapat berjalan dengan maksimal sesuai dengan pasal 33, maka  dilakukan reorganisasi dimana departemen (jawatan) yang bidang koperasi dipisahkan dari jawatan koperasi dan perdagangan dalam negeri. Urusan koperasi diserahkan sepenuhnya kepada jawatan koperasi.

Pada tahun 1958 UU tentang perkoperasian dikeluarkan dengan mendasarkan diri kepada UUD Sementara (UUDS) pasal 38. Karena masih mengacu pada pasal 38 UUD Sementara, maka sering dikatakan bahwa jiwa dari UU tentang koperasi itu dianggap bertolak belakang, sehingga koperasi yang berdiri yaitu koperasi yang masih bersemangat liberal dan setengah revolusioner.

4. Sejarah Koperasi Zaman Orde Baru
Di Tasikmalaya, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama pada tanggal 12 Juli 1947, yang mana tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia. Bung Hatta merupakan tokoh yang meneruskan tradisi pemikiran ekonomi sebelumnya. Bung Hatta tertarik kepada sistem koperasi karena beliau sering berkunjung  ke negara-negara Skandinavia, khususnya Denmark. Bung Hatta memang sering menghubungkan lembaga koperasi dengan nilai gotong-royong, akan tetapi pandangan beliau tentang koperasi yaitu sebuah organisasi ekonomi modern yang berkembang di Eropa Barat. 
Sejarah Koperasi di Dunia dan Indonesia

Bung Hatta pernah membedakan antara koperasi ekonomi yang berdasarkan asas-asas ekonomi pasar yang rasional dan kompetitif dan koperasi sosial yang berdasarkan asas gotong royong. Bagi Bung Hatta, dalam masyarakat tradisional koperasi bukanlah lembaga yang antipasar atau nonpasar. Akan tetapi, koperasi yaitu sebuah lembaga self-help lapisan masyarakat yang lemah atau rakyat kecil untuk bisa mengendalikan pasar. Oleh karena itu, lembaga koperasi harus mampu bekerja dalam sistem pasar, yaitu dengan cara menerapkan prinsip efisiensi. 

Tujuan koperasi menurut Bung Hatta, bukan mencari laba yang sebesar-besarnya, akan tetapi melayani kebutuhan bersama dan sebagai wadah partisipasi pelaku ekonomi kecil. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa koperasi selalu identik dengan usaha skala kecil. Koperasi juga dapat membangun usaha berskala besar sesuai dengan modal yang dikumpulkan dari anggotanya. 

Karena posisinya yang cukup kuat dalam konstitusi, maka sebuah pemerintahpun tidak berani meninggalkan program pembinaan koperasi. Semua partai politik, dari dulu hingga kini, selalu mencantumkan koperasi sebagai program utama. Hanya saja kantor departemen koperasi baru terlahir di masa Orde Baru pada akhir 1970-an. 

Demikian artikel tentang sejarah koperasi di dunia dan sejarah koperasi di Indonesia. Semoga materi tentang sejarah koperasi tersebut bermanfaat untuk para pembaca.

1 komentar so far

This comment has been removed by a blog administrator.

Silahkan berkomentar . .
EmoticonEmoticon