Pengaruh Hindu Budha di Indonesia dalam 9 Bidang Lengkap

Pengaruh Hindu Budha di Indonesia – Letak Indonesia yang strategis serta keterbukaan masyarakat Indonesia membuat Indonesia dapat dengan mudah menerima pengaruh kebudayaan lain, baik melalui akulturasi dan asimilasi. Kebudayaan lain yang masuk ke Indonesia biasanya disebarkan oleh para pedagang ataupun penyebar agama, khususnya agama Hindu dan Budha. Nah dalam hal ini, yang akan kita bahas yaitu pengaruh hindu budha di Indonesia. Agama hindu dan budha masuk ke Indonesia sejak abad ke 2 Masehi. Selama itu, tentu saja ada banyak pengaruh dari hindu dan budha yang masuk di Indonesia. Secara spesifik, pengaruh hindu budha ke Indonesia dimulai sejak berdirinya kerajaan kutai pada abad ke 5 Masehi. Mengapa kerajaan kutai dijadikan sebagai patokan? Hal ini karena kerajaan kutai merupakan kerajaan Hindu pertama yang ada di Indonesia.

Pengaruh Hindu Budha di Indonesia

Pengaruh hindu dan budha di Indonesia dalam artikel ini kami bagi menjadi 9 bidang, yaitu pengaruh hindu budha dalam bidang agama, politik dan pemerintahan, pendidikan, bahasa dan sastra, kesenian, bangunan, patung dan arca, struktur masyarakat, dan sistem kalender dan penaggalan. Berikut ini penjelasan lengkapnya.

1. Pengaruh Hindu Budha dalam Bidang Politik dan Pemerintahan
Pengaruh Hindu Budha dalam bidang politik dan pemerintahan terlihat dari lahirnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Sebelum adanya pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia, masyarakat Indonesia belum mengenal sistem pemerintahan berupa kerajaan. Sistem pemerintahan yang berlangsung sebelum agama hindu dan budha masuk yaitu pemerintahan kesukuan yang mencakup daerah-daerah yang terbatas dengan pimpinan pemerintahan dipegang yaitu seorang kepala suku. Dengan adanya pengaruh hindu budha, maka terbentuklah kerajaan-kerajaan yang Hindu-Buddha di Indonesia. Kerajaan Hindu di Indonesia meliputi Tarumanagara, Kutai, Kediri, dan Majapahit, sedangkan kerajaan Buddha yaitu kerajaan Sriwijaya. Selain itu, ada juga kerajaan yang bercorak Hindu-Budha yaitu Kerajaan Mataram lama.

2. Pengaruh Hindu Budha dalam Bidang Agama 
Datangnya hindu dan budha mempengaruhi kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia sebelumnya, yaitu kepercayaan animisme dan dinamisme. Pada waktu itu, masyarakat Indonesia melakukan pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan kekuatan-kekuatan benda-benda tertentu serta kekuatan-kekuatan alam. Dengan adanya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia, kepercayaan asli masyarakat Indonesia ini berakulturasi dengan agama Hindu Budha. Salah satu buktinya yaitu adanya upacara keagamaan Hindu-Buddha yang tidak seketat atau mirip dengan tata cara keagamaan di India.

3. Pengaruh Hindu Budha dalam Bidang Pendidikan
Dalam bidang pendidikan, pengaruh hindu budha di Indonesia yaitu lahirnya lembaga-lembaga pendidikan. Walaupun lembaga pendidikan yang ada masih sangat sederhana, yaitu hanya mempelajari satu bidang saja( keagamaan). Namun, lembaga pendidikan yang lahir pada masa Hindu-Buddha ini menjadi cikal bakal bagi lahirnya berbagai lembaga pendidikan di Indonesia. Beberapa bukti yang menunjukkan bahwa pendidikan pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia telah berkembang yaitu:

a. Dalam catatan perjalanan I-Tsing (pendeta dari Cina), ia pernah singgah di Sriwijaya. Di Sriwijaya I-Tsing melihat bahwa pendidikan agama Budha telah berkembang dengan pesat, sehingga dia memutuskan untuk menetap di Sriwijaya selama beberapa bulan dan menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha. Berita I-Tsing tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama Buddha di Sriwijaya sudah maju.
b. Pada prasasti Turun Hyang, yaitu prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga menyebutkan tentang pembuatan Sriwijaya Asrama. Sriwijaya Asrama adalah suatu tempat yang dugunakan sebagai pusat pendidikan dan pengajaran keagamaan.
c. Istilah surau yang biasanya digunakan orang Islam untuk menunjuk lembaga pendidikan Islam tradisional di Minangkabau pada awalnya berasal dari pengaruh Hindu-Buddha. Surau adalah tempat pada masa Raja Adityawarman yang dibangun sebagai tempat beribadah orang Hindu-Buddha.

4. Pengaruh Hindu Budha dalam Bidang Bahasa dan Sastra
Dalam bidang bahasa dan sastra, datangnya pengaruh hindu budha di Indonesia membuat masyarakat Indonesia mengetahui huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Seni sastra sangat berkembang ketika kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia terutama pada aman kejayaan kerajaan Kediri. Karya sastra tersebut antara lain :
a. Pada masa pemerintahan Airlangga, Mpu Kanwa menyusun Arjunawiwaha.
b. Pada masa kerajaan Kediri, Mpu Sedah menyusun Bharatayudha dan Mpu Panuluh.
c. Pada masa kerajaan Kediri, Mpu Panuluh menyusun Gatotkacasraya.
d. Pada masa kerajaan Majapahit, Mpu Tantular menyusun Arjuna Wijaya dan Sutasoma.
e. Pada masa kerajaan Majapahit, Mpu Prapanca menyusun Negarakertagama.
f. Pada masa kerajaan Majapahit, Mpu Tanakung menyusun Wretta Sancaya dan Lubdhaka.

5. Pengaruh Hindu Budha dalam Bidang Kesenian
Dalam bidang kesenian, pengaruh hindu budha di Indonesia dapat dilihat dari seni tari, seni pertunjukan, dan seni relief.
a. Dalam bidang seni tari, pengaruh hindu budha dapat kita lihat pada relief candi borobudur dan candi prambanan. Jenis tarian yang digambarkan dalam relief yaitu taian perang, ganding,bungkuk, dan tari topeng. Selain tarian, alat musik juga digambarkan dalam relief candi, misalnya gambang, saron, gendang, kenong, kecer, seruling dan gong.
b. Dalam seni pertunjukkan, bentuk pengaruh hindu budha yang bisa kita lihat sampai sekarang yaitu kesenian wayang, baik itu wayang golek, wayang kulit, dan wayang orang.
c. Sedangkan dalam seni relief, pengaruh hindu budha menghasilkan seni pahat. Seni pahat tersebut berupa pahatan-pahatan yang ada pada relief candi. Misalnya hiasan relief yang ada pada candi Prambanan menggambarkan kisah Ramayana.

6. Pengaruh Hindu Budha dalam Bidang Bangunan
Pengaruh Hindu Budha di Indonesia
Pengaruh hindu budha dalam bidang bangunan di Indonesia yang sangat terlihat adanya candi dan stupa. Selain itu, ada juga beberapa bangunan lain yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan, antara lain :
a. Sima, yaitu daerah perdikan yang berkewajiban untuk memelihara bangunan suci
b. ulan dan satra, yaitu semacam tempat bermalam para peziarah atau pesanggrahan
c. sambasambaran, merupakan tempat persembahan
d. patapan, merupakan tempat melakukan tapa
e. meru, yaitu bangunan seperti tumpang (lambang gunung Mahameru) sebagai tempat tinggal dewa-dewa dalam agama Hindu.

7. Pengaruh Hindu Budha dalam Bidang Patung dan Arca
Patung-patung dewa dalam agama Hindu sebagai peninggalan sejarah di Indonesia antara lain:
a. Arca batu Brahma
b. Arca batu Wisnu
c. Arca perunggu Siwa Mahadewa
d. Arca perwujudan Tribhuwanatunggadewi di Jawa Timur
e. Arca-arca di Prambanan, di antaranya arca Lorojongrang
f. Arca Ganesa, yaitu dewa ilmu pengetahuan

8. Pengaruh Hindu Budha dalam Bidang Struktur Masyarakat
Masuk dan berkembangnya pengaruh agama Hindu dan budha di Indonesia memengaruhi sektor kehidupan masyarakat Indonesia, salah satunya yaitu sistem dan struktur sosial masyarakat. Pengaruh hindu budha bisa dilihat melalui dijalankannya sistem pembagian kasta di masyarakat Indonesia. Sistem pembagian kasta yang dilakukan di Indonesia berbeda dengan India, sistem pengelompokan masyarakat yang digunakan yaitu melalui tingkatan-tingkatan kehidupan masyarakat dan berlaku secara turun temurun. Hal tersebut untuk menunjukkan status sosial di masyarakat. Sedangkan di India perbedaan sistem kasta bersifat mendasar karena untuk membedakan status sosial antara kaum Dravida dan Arya.
Pengaruh Hindu Budha di Indonesia

9. Pengaruh Hindu Budha dalam Bidang Penanggalan atau Kalender
Sebelum adanya pengaruh hindu budha, Indonesia sudah mengenal sistem kalender dengan perhitungan satu pekan terdiri dari 5 dan 7 hari yang dipakai bersama. Dengan datangnya pengaruh hindu budha, kedua kalender ini digabung dengan kalender Saka yang dilengkapi dengan hari pasaran (Legi, Pahing Pon, Kliwon,) wage, dan Wuku serta Paringkelan.

Demikian artikel tentang pengaruh hindu budha di Indonesia. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk para pembaca.

5 Peninggalan Kerajaan Kalingga (Holing) yang Tidak Ternilai

Peninggalan Kerajaan Kalingga (Holing) – Menurut catatan sejarah Kerajaan Kalingga merupakan kerajaan pertama yang ada di Jawa, letaknya ada di Jawa Tengah Bagian Utara (antara kabupaten Jepara dan Kabupaten Pekalongan). Kerajaan ini diperkirakan ada pada tahun 6 Masehi. Karena sudah lama, maka peninggalan kerajaan kalingga sudah tidak banyak dijumpai. Ada lima peninggalan kerajaan kalingga yang sampai sekarang dapat kita jumpai.

Akan tetapi, sebelum kita membahas tentang peninggalan kerajaan kalingga, kita simak terlebih dahulu sejarah berdirinya kerajaan kalingga. Karena sumber sejarah dan peninggalan sejarah kerajaan kalingga sangat sedikit yang dapat kita jumpai, maka kisah tentang kerajaan kalingga yang sampai sekarang masih tersohor yaitu kisah tentang Raja wanita yang memimpin kerajaan kalingga, yang bernama Ratu Sima. Ratu shima dikenal sebagai raja yang menjunjung tinggi kejujuran dan sangat tegas dalam menegakkan keadilan. Karena ketegasan dan kejujuran Ratu shima, maka rakyatnya pun mentaatinya.

Untuk menguji sejauh mana ketaatan rakyat kalingga, Ratu sima pernah meletakkan pundi-pundi ditengah jalan. Selama beberapa hari, tidak ada rakyatnya yang berani untuk mengambil barang yang bukan miliknya tersebut. Karena sudah ada peraturan tegas yang menghukum kepada siapa saja yang berani mengambil barang bukan miliknya. Akan tetapi, selang beberapa waktu secara tidak sengaja ada anggota kerajaan yang tidak sengaja menyentuh pundi-pundi tersebut dengan kakinya. Sesuai dengan humum yantberlaku, ratu sima menghukum anggota kerajaan tersebut dengan hukuman mati. Akan tetapi, berkat saran dari penasehatnya, hukuman mati tidak jadi dilaksanakan dan diganti dengan hukuman potong kaki.

Berdasarkan cerita tersebut kita dapat melihat, betapa tegasnya ratu sima ketika memimpin kerajaan kalingga. Namun kerajaan tersebut mulai mengalami kemunduran diperkirakan setelah mendapatkan serangan dari kerajaan sriwijaya pada abad ke 7 M. Selain peninggalan kerajaan kalingga berupa kisah ketegasan pemimpin di atas, ada juga beberapa peninggalan kerajaan kalingga berupa barang yaitu prasasti dan candi.

5 Peninggalan Kerajaan Kalingga (Holing)

Berdasarkan berbagai sumber, peninggalan kerajaan kalingga yang berhasil kami kumpulkan yaitu ada 5 (lima), terdiri dari 2 candi dan 3 prasasti. Berikut ini penjelasan selengkapnya.

Peninggaan 1 : Prasasti Tukmas
Peninggalan kerajaan kalingga yang pertama yaitu Prasasti Tukmas. Prasasti ini ditulis menggunakan bahasa Sansekerta. Prasasti Tukmas dapat dijumpai di Kecamatan Grabak, Magelang (sebelah barat Gunung Merapi). Di dalam Prasasti Tukmas, ada deretan tulisan Pallawa yang memuat beberapa gambar serta ungkapan. Kerajaan Kalingga menggambarkan mengenai sungai yang mengalir di lereng gunung merapi dengan air yang sangat jernih dan hampir sama dengan sungai Gangga (India). Adapun gambar yang terdapat dalam prasasti ini menunjukkan kedekatannya dengan dewa-dewi Hindu.

Dengan ditemukannya prasasti ini, menunjukkan bahwa Kerajaan Kalingga memiliki wilayah kekuasaan yang cukup luas serta kekuatan militer yang cukup kuat.

Peninggaan 2 : Prasasti Upit
Prasasti Upit saai ini disimpan di kantor Purbakala Jawa Tengah, yaitu di Prambanan, kabupaten Klaten. Kampung ngupit adalah daerah perdikan yang dianugerahkan oleh Ratu shima (Raja Kerajaan Kalingga). Kampung ngupit dapat kita jumpai di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten.

Peninggaan 3 : Prasasti Sojomerto
Prasasti Sojomerto berbeda dengan Prasasti Tukmas yang ada di Magelang, karena prasasti ini merupakan sebuah prasasti yang ada di kabupaten Batang. Prasasti ini disebut Sojomerto karena prasasti ini ada di dusun Sojomerto.

Selain letaknya yang berbeda, tulisan yang ada pada prasasti Sojomerto berbeda dengan prasasti Tukmas. Dalam Prasasti Tukmas tulisan yang digunakan yaitu Pallawa, Sedangkan prasasti Sojomerto tulisannya berbahasa melayu kuno dan berbentuk aksara kawi. Hal ini memperlihatkan bahwa prasasti Sojomerto dibuat sekitar abad ke 7 Masehi.

Tulisan dalam prasasti Sojomerto berisi tentang keluarga kerajaan, salah satunya yaitu Raja Dapunta Saylendra yang merupakan pendiri kerajaan kalingga. Dari nama tersebut dapat diketahui bahwa Dapunta Saylendra merupakan garis keturunan dari Dinasti Saylendra yang berkuasa cukup lama bersama Kerajaan Mataram Hindu.

Peninggaan 4 : Candi Angin
Candi Angin merupakan candi peninggalan kerajaan kalingga yang masih dapat kita jumppai. Candi ini terletak di desa Tempur, Keling, Kabupaten Jepara. Candi ini dinamakan Candi Angin Karena letaknya yang cukup tinggi namun tidak roboh terkena angin.

Menurut pendapat para peneliti, Candi Angin memiliki umur yang lebih tua dibandingkan Candi Borobudur. Bahkan ada juga yang beranggapan bahwa candi ini adalah buatan manusia purba dengan alasan tidak adanya ornamen Hindu-Budha.

Peninggalan Kerajaan Kalingga (Holing)

Peninggaan 5 : Candi Bubrah
Sama dengan candi angin, sebagai peninggalan kerajaan kalingga, Candi Bubrah juga berada di desa Tempur, Kabupaten Jepara. Karena jarak Candi Bubrah yang berjarak sekitar 500 meter dari Candi Angin , maka Candi Bubrah bisa disebut juga sebagai gapura menuju Candi Angin. Bangunan candi ini terdiri dari dua kelompok. Satu kelompok di bagian yang lebih tinggi, sedangkan satu kelompok lain berada di bagian yang lebih rendah. Apabila dilihat dari bahan dan bentuk yang dipakai, kemungkinan besar candi ini dibuat pada zaman sebelum Candi Borobudur dibagun. 

Demikian peninggalan-peninggalan kerajaan kalingga yang dapat kita jumpai sampai sekarang. Bagi para pemabca yang ingin berkunjung ke peninggalan kerajaan kalingga tersebut dipersilahkan, tetapi harus hati-hati. Khususnya candi angin dan candi bubrah yang terletak di gunung.

3 Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya (Dalam dan Luar Negeri)

Sumber sejarah kerajaan sriwijaya – Jika kita ditanya tentang salah satu kerajaan budha terbesar yang pernah ada di Indonesia maka sudah tentu jawabannya adalah kerajaan Sriwijaya? Iya, kerajaan sriwijaya merupakan salah satu kerajaan budha terbesar di Indonesia? Akan tetapi, apakah kerajaan sriwijaya memang benar-benar ada? Apa sumber sejarah kerajaan sriwijaya di Indonesia, sehingga kita bisa yakin bahwa kerajaan sriwijaya benar-benar pernah ada.

Untuk mengkaji tentang keberadaan kerajaan sriwijaya, maka dalam artikel ini akan dibahas tentang sumber sejarah kerajaan sriwijaya. Akan tetapi, sebelum kita membahas tentang sumber sejarah kerajaan sriwijaya, alangkah lebih baiknya kita mengenal sedikit tentang sejarah keberadaan kerajaan sriwijaya atau deskripsi singkatnya.

Berdasarkan paparan sumber sejarah kerajaan Sriwijaya diketajui bahwa kerajaan sriwijaya merupakan salah satu kerajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatera. Kerajaan sriwijaya banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan wilayah kekuasaan yang membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, pesisir Kalimantan, Jawa, dan Sumatera. Sriwijaya secara bahasa terdiri dari dua kata (bahasa sansekerta) yaitu sri berarti " gemilang " atau " bercahaya ", dan wijaya berarti " kejayaan " atau " kemenangan ", maka nama Sriwijaya artinya adalah "kemenangan yang gilang-gemilang". 

Ada 3 sumber sejarah kerajaan sriwijaya yang menunjukkan eksistensi atau keberadaan kerajaan sriwijaya, antara lain :


1. Sumber Sejarah dari Dalam Negeri

Sumber dari dalam negeri kerajaan sriwijaya yaitu berupa prasasti yang ditemukan di Indonesia dan menggunakan huruf Pallawa berbahasa Melayu Kuno, dan angka tahun Saka. Berikut ini prasasti-prasasti tersebut :

a. Prasasti Kedukan Bukit 
Sesuai dengan namanya, prasasti berangka tahun 605 Saka atau 683 M ini di temukan di Kedukan Bukit, di tepi sungai Talang dekat Palembang. Isi dari Prasasti Kedukan Bukit yaitu mengkisahkan tentang perjalanan suci atau sidayata yang dilakukan oleh Dapunta Hyang, berangkat dari Muaratamwan dengan membawa tentara sejumlah 20.000 orang, dan dari perjalanannya tersebut berhasil menaklukkan beberapa daerah.
b. Prasasti Talang Tuo 
Prasasti ini berangka tahun 606 Saka/684M dan ditemukan di sebelah barat kota Palembang. Isi prasasti ini yaitu tentang pembuatan Taman Sriksetra yang digunakan untuk kemakmuran seluruh makhluk dan terdapat doa-doa yang bersifat Budha Mahayana.
c. Prasasti Kota Kapur 
Prasasti ini ditemukan di Pulau Bangka (Kota Kapur) dan berangka tahun 608 Saka atau 686M.
d. Prasasti Telaga Batu 
Prasasti berangka tahun 683 M ini di temukan di Telaga Batu dekat Palembang.
e. Prasasti Palas Pasemah
Prasasti ini ditemukan di Lampung Selatan, dan tidak mempunyai angka tahun.
f. Prasasti Karang Berahi
Prasasti ini ditemukan di kota Jambi, tidak mempunyai berangka tahun.

2. Sumber Sejarah dari Luar Negeri

Sumber sejarah kerajaan sriwijaya yang kedua ini hampir sama dengan sumber sejarah dari dalam negeri, yaitu berupa prasasti. Hanya saja letak prasasti ini yang berada di luar negeri. Ada beberapa prasasti yang menunjukkan kerajaan, sriwijaya antara lain :

1. Prasasti Ligor
Prasasti berangka tahun 775 Masehi ini ditemukan di Tanah Genting (Thailand). Prasasti ligor terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian depan dan belakang. Bagian depan bersisi tentang bangunan Trisamaya Caiya (bangunan suci untuk Budha yang dibuat dari batu bata), Wajrapani, dan Awalokiteswara. Sedangkan di bagian belakang prasasti berisi tentang raja Wisnu beserta keluarga Sri Maharaja Syailendra.

2. Prasasti Nalanda
Prasasti berangka tahun 860 Masehi ini ditemukan di Benggala (India). Prasasti Nalanda mengkisahkan bahwa Raja Balaputradewa yang membangun sebuah biara di Benggala dan tempat tinggal untuk para pelajar.

3. Prasasti Katon
Prasasti berangka tahun 1079 Masehi ini ditemukan di Kanton (China). Prasasti ini berisi bahwa Raja Sriwijaya membantu memperbaiki sebuh kuil agama Thao di Kanton.

4. Piagam Leiden
Piagam berangka tahun 1006 M ini ditemukan di India dan dikeluarkan oleh raja kerajaan Cola (Rajakesariwarman). Isi piagam ini yaitu bahwa, Marawijayatunggawarman meresmikan wihara di India pada tahun 1006 M yang diberi nama Cudamaniwarmavihara atas ijin dari Rajakesariwarman.

3. Sumber Sejarah dari Berita Asing

Selain sumber sejarah kerajaan sriwijaya dari dalam dan luar negeri, keberadaan kerajaan sriwijaya juga didukung oleh berita asing. Ada dua sumber sejarah dari berita asing yang ditemukan, yaitu beritadari cina dan berita dari arab. 

1. Berita Kerajaan Sriwijaya dari Cina
Berita tentang keberadaan kerajaan sriwijaya diceritakan oleh I-Tsing (seorang pendeta dari Cina). Dalam perjalanannya untuk belajar ilmu agama Buddha di India, ia singgah di Shi-li-fo-shih (Sriwijaya) selama 6 bulan dan mempelajari tata bahasa Sanskerta atau paramasastra. Lalu, bersama guru Buddhis yang bernama Sakyakirti, ia menyalin kitab Hastadandasastra ke dalam bahasa Cina. 

I-Tsing berkesimpulan, bahwa kerajaan Sriwijaya merupakan negara maju dalam bidang agama Buddha. Selain itu, kemampuan pelayarannya juga maju karena kapal-kapal India singgah di sana. Buddhisme di Sriwijaya dipengaruhi Tantraisme, namun disiarkan pula aliran Buddha Mahayana. I-Tsing juga mengemukakan bahwa pada tahun 682 – 685 kerajaan Sriwijaya telah menaklukkan daerah Kedah di pantai barat Melayu.

Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya

2. Berita Kerajaan Sriwijaya dari Arab
Dalam sumber sejarah berita arab, disebutkan adanya negara Zabag (Sriwijaya). Ibu Hordadheh mengemukakan bahwa Raja Zabag banyak menghasilkan emas, bahkan emas yang dihasilkan sebanyak 206 kg setiap tahunnya. Selain itu, berita lain disebutkan oleh Alberuni. Ia menyatakan bahwa Zabag lebih dekat dengan Cina dibandingkan India. Negara ini berada di daerah yang dinamakan Swarnadwipa atau Pulau Emas karena daerah tersebut banyak menghasilkan emas.

Demikian artikel tentang sumber sejarah kerajaan sriwijaya. Dengan ini, sudah jelas bahwa dari dulu Nusantara (Indonesia) merupakan negeri yang makmur dan maju, karena mempunyai kerajaan maritim yang bernama kerajaan sriwijaya.

Kerajaan Hindu Pertama di Indonesia (Kutai), ini Penjelasannya

Kerajaan Hindu Pertama di Indonesia – Agama Hindu merupakan agama yang pernah menjadi agama mayoritas di Indonesia di masa lalu. Sehingga, pasti banyak juga kerajaan yang beragama hindu di Indonesia. Hal ini karena, pada masa lalu masyarakat akan mengikuti agama yang dianut oleh para raja kerajaan. Jadi pasti ada banyak kerajaan hindu yang ada di Indonesia. Berdasarkan catatan sejarah, memang ada banyak sekali kerajaan hindu yang ada di Indonesia. Lalu, apa kerajaan hindu pertama yang ada di Indonesia?

Kerajaan hindu pertama yang ada di Indonesia adalah kerajaan kutai. Sebagai kerajaan hindu pertama di Indonesia, kerajaan kutai ada di pada abad ke 4 atau 5 Masehi. Letak kerajaan Kutai yaitu berada di Kalimantan Timur, di desa Muara Kaman, tepatnya berada di hulu sungai Mahakam. Nama kerajaan hindu pertama ini yaitu Kutai bukan nama asli kerajaan ini,  melainkan pemberian ahli sejarah yang meneliti kerajaan tersebut. Pemberian nama ini diberikan karena tidak ada bukti sejarah yang menyebutkan secara jelas tentang nama kerajaan hindu pertama ini.

Bukti Sejarah Kerajaan Hindu Pertama (Kutai)
Informasi tentang kerajaan kutai tidak begitu banyak, hal ini mengingat keberadaanya yang sudah ada sekitar tahun 500M. Salah satu bukti sejarah yang menunjukkan bahwa keraan Kutai pernah ada adalah peninggalan berupa prasati yang berbentuk sebuah tiang berjumlah tujuh buah yang dinamakan Yupa. 

Yupa merupakan tiang batu yang ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Prasasti Yupa adalah prasasti tertua yang menyebutkan bahwa telah beridiri suatu Kerajaan Hindu (tertua di Indonesia) yaitu Kerajaan Kutai.

Prasasti ini mengkisahkan tentang berdirinya sebuah kutai serta raja-raja yang berkuasa di kerajaan kutai dan sistem pemerintahannya. Selain itu, dalam prasasti tersebut juga dijelaska bahwa raja pertama yang bertahta di kerajaan kutai yaitu raja Kudungga. Setelah raja Kudungga wafat, tahta kerajaan dilanjutkan oleh putranya yang bernama Asawarman dan selanjutnya digantikan oleh Mulawarman, putranya. 

Dalam prasasti tersebut juga bersisi tentang raja Mulawarman yang dermawan, karena mau bersedekah 20 ribu ekor sapi kepada kaumnya yang disebut dengan kaum Brahmana. Raja Mulawarman merupakan putra mahkota dari raja Asawarman yang merupakan raja sebelumnya dan merupakan putra dari Raja Kudungga. Raja Asawarman memperoleh julukan sebagai Dewa Matahari, beliau juga dipandang sebagai pendiri keluarga agama Hindu. 

Kehidupan masyarakat kerajaan Kutai yang tertata, teratur dan tertib juga dijelaskan pada prasasti tersebut. Masyarakatnya dapat cepat beradaptasi dengan budaya luar, akan tetapi tetap melestrikan dan mempertahankan budaya sendiri.

Raja yang Memerintah Kerajaan Hindu Pertama  (Kutai)
Sebagai kerajaan hindu pertama di Indonesia, kerajaan kutai pernah diperintah oleh beberapa raja besar. Berikut ini adalah daftar raja yang pernah memimpin Kerjaan Kutai :
1. Kudungga, gelar anumerta Dewawarman (pendiri)
2. Aswawarman (anak Kundungga)
3. Mulawarman (anak Aswawarman)
4. Marawijaya Warman
5. Gajayana Warman
6. Tungga Warman
7. Jayanaga Warman
8. Nalasinga Warman
9. Nala Parana Tungga
10. Gadingga Warman Dewa
11. Indra Warman Dewa
12. Sangga Warman Dewa
13. Candrawarman
14. Sri Langka Dewa
15. Guna Parana Dewa
16. Wijaya Warman
17. Sri Aji Dewa
18. Mulia Putera
19. Nala Pandita
20. Indra Paruta Dewa
21. Dharma Setia

Masa Kejayaan Kerajaan Hindu Pertama (Kutai)
Berdasarkan prasasti Yupa, puncak kejayaan Kerajan Kutai berada ketika pemerintahan Raja Mulawarman. Kekuasaan kerajaan Kutai hampir meliputi seluruh daerah Kalimantan Timur pada saat pemerintahan Mulawarman. Rakyat Kerajaan Kutai dapat hidup makmur dan sejahtera.

Runtuhnya Kerajaan Hindu Pertama (Kutai)
Kerajaan Kutai berakhir ketika terjadi pertempuran antara kerajaan kutai dan kerajaan kutai Kartanegara. Raja Kutai (Maharaja Dharma Setia) tewas dalam peperangan melawan Raja dari Kerajaan Kutai Kartanegara (Aji Pangeran Sinum Panji). Kerajaan Kutai dan Kerajaan Kutai Kartanegara adalah dua buah kerajaan yang berbeda. Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri pada abad ke-13 di Kutai Lama. Adanya dua kerajaan yang berada di sungai Mahakam tersebut mengakibatkan adanya friksi diantara keduanya. Peperangan antara kedua kerajaan tersebut terjadi pada abad ke-16.

Peninggalan Kerajaan Hindu Pertama (Kutai)
Selain peninggalan berupa prasasti (yupa), peninggalan kerajaan kutai yang merupakan barang-barang miliki anggota kerajaan antara lain :
1. Kalung uncal dan Kalung ciwa yang ditemukanpada tahun 1890. Kalung uncal mempunyai berat 170 gr dan berhiaskan liontin ramayana. 
2. Mahkota atau Ketopong yang dikenakan oleh raja. Mahkota ini terbuat dari emas murni, yang beratnya sekitar 1, 98 kg. 
3. Pedang dari salah satu raja kerajaan kutai yang terbuat dari emas murni. 
4. Kura-kura emas yang diperoleh dari daerah Long Lalang, sungai mahakam. 
5. Keris Bukit Kang (milik Permaisuri Aji Putri dari Karang Melenu)
6. Tali Jueita yang mempunyai arti tujuh muara sungai dan 3 anak sungai. Tali tersebut terdiri dari 21 helai benang dan biasanya dipakai untuk upacara-upacara besar. 
7. Kelambu Kuning yang digunakan sebagai tempat peninggalan kerajaan kutai seperti kelengkang besi, tajau, gong bende, gong raden galuh, arca singa, dan sangkoh piatu. 
8. Meriam sebagai alat pertahanan kerajaan, antara lain Meriam Sri Gunung, meriam Gentar Bumi, Meriam Aji Entong, dan Meriam Sapu Jagat.
9. Singgasana Raja Aji Muhammad Sulaiman

Kerajaan Hindu Pertama di Indonesia (Kutai)

Demikian kisah sejarah kerajaan hindu pertama di Indonesia, yaitu kerajaan kutai. Semoga kisah tentang kerajaan hindu tersebut bermanfaat untuk para pembaca.

Kerajaan Islam Tertua dan Pertama di Indonesia + Penjelasannya

Kerajaan Islam tertua dan pertama di Indonesia - Indonesia merupakan  negara yang mempunyai mayoritas penduduk yang beragama Islam. Hal ini tentu tidak lepas dari peran kerajaan Islam pertama yang ada di Indonesia. Megapa demikian? Ini disebabkan karena pada zaman dahulu masih menggunakan sistem feoal. Dengan sistem feodal, rakyat akan selalu mempercayai atau beragama yang sama dengan yang dianut oleh kerajaan. Hal inilah yang membuat peran kerajaan Islam yang ada di Indonesia berperan sangat besar terhadap perkembangan agama Islam di Indonesia.

Akan tetapi, apakah pembaca mengetahui tentang kerajaan islam pertama yang ada di Indonesia? Atau kerajaan islam tertua yang ada di Indonesia? Sebagian besar kita mengetahui bahwa bahwa kerajaan islam pertama di Indonesia adalah kerajaan samudra pasai yang berada di sumatra, namun ternyata pendapat itu salah. Kerajaan Islam pertama yang ada di Indonesia adalah kerajaan perlak. Kerajaan Islam Perlak berdiri tepat sebelum kerajaan samudra pasai. Jadi kerajaan islam yang pertama di Indonesia adalah kerajaan perlak, dan kerajaan islam yang kedua yang kerajaan samudra pasai.

Penjelasan Kerajaan Perlak sebagai Kerajaan Pertama di Indonesia

Kerajaan perlak adalah kerajaan islam pertama dan berada di Aceh bagian timur, pulau Sumatera. Kerajaan perlak diperkirakan berdiri pada tahun 840 - 1292 M. Dengan rentang waktu yang panjang tersebut, berarti kerajaan perlak berdiri cukup lama, akan tetapi akhirnya bergabung dengan Samudra Pasai.

Bukti Kerajaan Perlak sebagai Kerajaan Pertama di Indonesia
Selaku kerajaan islam pertama di Indonesia, keberadaan kerajaan Pelak dibuktikan oleh berbagai bukti sejarah. Dalam hal ini ada dua bukti sejarah yang dapat menunjukkan keberadaan kerajaan perlak, antara lain sebagai berikut :
1. Bukti sejarah yang pertama adalah adanya naskah-naskah tua dengan bahasa melayu, contohnya Kitab Tazkirah Thabakat Jumu Sultan As Salathin

2. Bukti sejarah yang kedua adalah berdasarkan laporan pelaut Marco Polo dari Venezia yang pernah singgah ke Kerajaan Perlak pada tahun 1292 dalam perjalanannya pulang ke Italia. Marcopolo menjumpai  adanya penduduk di daerah Perlak, yang telah memeluk agama Islam dan adanya pedagang Islam dari India yang menyebarkan agama Islam.

Raja yang Pernah Memerintah Kerajaan Perlak
Mengingat masa berdirinya yang cukup lama, kerajaan perlak diperintah oleh beberapa raja, Sultan Alaidin Syeh Maulana Abdul Aziz Syah adalah raja pertama yang memerintah kerajaan perlak. Sedangkan Sultan Alaidin Syeh Maulana Abdul Aziz Syah sendiri adalah keturunan dari putera dari Ali bin Muhammad bin Ja`far Shadiq (pendatang islam) dengan Makhdum Tansyuri (adik Syahir Nuwi yang merupakan pemimpin perlak sebelum memeluk islam). Sejak kepemimpinan Sultan Alaidin, bandar perlak namanya diganti menjadi bandar Khalifah.

Sebagai kerajaan islam pertama di Indonesia, kerajaan Perlak pada awalnya mengikuti aliran syiah dan memperoleh dukungan dari mesir (dinasti Fatimah). Akan tetapi, ketika dinasti Fatimah runtuh, hubungan antara kerajaan Perlak dengan syiah mulai memudar dan diganti dengan aliran Sunni. Aliran ini ada pada masa kepemimpinan Sultan Alaiddin.

Pada tahun 913 masehi, ada salah satu sultan atau raja yang meninggal dunia. Hal memicu perang antara aliran Sunni dan Aliran Syiah. Tentu saja hal ini membuat kerajaan Perlak tidak mempunyai sultan selama sekitar 2 tahun. Sampai pada akhirnya kaum syiah memenangkan peperangan dan mengangkat Sultan Alaiddin untuk mengisi tahta kerajaan. Akan tetapi, pada akhir pemerintahan Sultan Alaiddin terjadi lagi peperangan antara kaun syiah dan kaum sunni, namun peperangan ini dimenangkan oleh kaum sunni, hingga pada akhirnya yang diangkat untuk menjadi raja yaitu dari kaum sunni sendiri.

Kerajaan Perlak dalam situasi damai hingga pada tahun 956, tepatnya ketika sultan ketujuh yaitu, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat wafat, peperangan antara kaum sunni dan kaum syiah terjadi lagi selama kurang lebih 4 tahun. Hal tersebut mengakibatkan kedua belah pihak mengambil keputusan supaya tercipta perdamaian, yaitu kerajaan perlak dibagi menjadi dua bagian.

1. Kerajaan Perlak bagian pertama ada di daerah pesisir Perlak yang diberikan kepada kaum syiah dengan kepemimpinan Sultan Alaiddin Syed Maulana Syah, kepemimpinannya dimulai pada tahun 986 M sampai tahun 988 M.
2. Sedangkan kerajaan Perlak bagian kedua ada di daerah pedalaman Perlak yang dberikan kebada kaum sunni dengan kepemimpinan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan, beliau memimpin Perlak pedalaman dimulai pada tahun 986 M sampai 1023 M.
Kerajaan Islam Tertua dan Pertama di Indonesia
Walaupun sudah terpecah menjadi dua bagian, kerajaan perlak dapat bersatu kembali ketika Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah, raja dari aliran syiah yang menguasasi Perlak pesisir. Akan tetapi, beliau wafat ketika dikalahkan oleh kerajaan Sriwijaya.

Demikian artikel tentang kerajaan islam pertama di Indonesia, dan kerajaan islam tertua yang ada di Indonesia. Semoga memberikan manfaat kepada para pembaca.

Teori Masuknya Agama Hindu Buddha ke Indonesia, Lengkap !!

Teori masuknya agama Hindu Buddha ke indonesia – Agama adalah suatu keyakinan yang dianut oleh setiap manusia dalam kaitannya dengan tuhan yang maha kuasa. Bangsa Indonesia setelah mengalami zaman agama animisme dan dinamisme, melalui zaman agama Hindu dan Buddha. Walaupun sekarang masyarakat Indonesia mayoritas beragama islam, akan tetapi pada zaman dulu bangsa Indonesia pernah mayoritas masyarakatnya beragama Hindu dan Buddha. Berbeda dengan agama animisme dan dinamisme yang berasal dari masyarakat Indonesia sendiri, agama Hindu dan Buddha bukan agama yang berasal dari Indonesia. Lantas, dari manakah agama Hindu dan Buddha? Serta bagaimana proses penyebaran agama Hindu dan Buddha di Indonesia? Berikut ini penjelasannya.


Teori Masuknya Agama Hindu Buddha ke Indonesia

Pada artikel kali ini, kita akan membahas tentang berbagai teori masuknya agama Hindu dan Buddha yang paling kuat di Indonesia. Mengapa ada berbagai teori? Hal ini karena masih adanya beberapa ahli sejarah yang masih memperdebatkan kaitannya cara masuknya agama Hindu dan Buddha di Indonesia. Agama Hindu dan Buddha tidak sama. Oleh karena itu untuk mempelajari masuknya agama Hindu dan Buddha harus kita pisahkan. Jadi teorinya berbeda-beda. Untuk yang pertama yang akan kita bahas yaitu teori masuknya agama Hindu ke Indonesia.

A. Teori Masuknya Agama Hindu ke Indonesia

Masuknya agama Hindu ke Indonesia diperkirakan oleh para ahli pada awal abad masehi. Kita pasti sudah tahu, bahwa agama Hindu berasal dari negara India. Oleh karena itu, bangsa India mempunyai peran penting dalam penyebaran Agama Hindu ke Indonesia.

Pada dasarnya ada dua pendapat ahli yang mengkaji tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia, antara lain :
1. Bangsa Indonesia bersikap pasif
Para ahli dalam hal ini mengemukakan bahwa bangsa Indonesia hanya menerima saja pengaruh budaya dari India. Budaya India masuk ke Indonesia melalui kolonialisasi baik secara langsung dan tidak langsung. Teori yang mendukung pendapat ini antara laim Teori Ksatria, Teori Brahmana, dan Teori Waisya.

2. Bangsa Indonesia bersikap aktif
Dalam pendapat ini, para ahli sepakat bahwa orang Indonesia sendiri yang mencari tahu dan menyebarluaskan agama Hindu. Pendapat ini didasarkan bahwa sudah sejak lama bangsa Indonesia berlayar untuk melakukan aktivitas perdagangan. Teori yang mendukung masuknya agama Hindu berdasarkan dasar tersebut yaitu Teori Sudra dan Teori Arus Balik.

Berikut ini merupakan penjelasan teori masuknya agama Hindu ke Indonesia.

1. Teori Brahmana menurut Jc.Van Leur
Teori Brahmana yaitu teori yang mengamukakan bahwa masuknya Hindu ke Indonesia dibawa oleh golongan pemuka agama atau para Brahmana di India. Teori ini didasarkan pada berbagai prasasti peninggalan kerajaan Hindu di Indonesia yang hampir sebagian besar menggunakan bahasa Saksekerta dan huruf Pallawa. Di India, bahasa dan aksara tersebut hanya dikuasai para Brahmana. Selain itu, oleh para kepala suku para Brahmana diundang ke Indonesia untuk menyebarkan ajarannya pada rakyatnya yang masih mempercayai animisme dan dinamisme.

2. Teori Waisya menurut NJ. Krom
Penyebaran agama Hindu di Indonesia menurut teori Waisya yaitu berkat peran serta para Waisya (pedagang) yang merupakan golongan terbesar di India dan berinteraksi secara langsung dengan masyarakat Indonesia. Dalam teori waisya, para pedagang dianggap telah memperkenalkan kebudayaan Hindu pada masyarakat pada saat mereka menjalankan kegiatan perdagangan. Pada saat itu pelayaran sangat bergantung angin, oleh karena itu selama beberapa waktu mereka akan menetap di Indonesia. Para pedagang India selama menetap di Indonesia juga melakukan dakwahnya pada masyarakat lokal.

3. Teori Ksatria menurut Mookerji, C.C. Berg, dan J.L. Moens
Menurut teori Ksatria, penyebaran agama Hindu di Indonesia dilakukan oleh golongan ksatria. Sejarah penyebaran agama Hindu di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah kebudayaan India pada periode yang sama. Seperti diketahui bahwa pada abad ke 2 Masehi, banyak kerajaan di India mengalami keruntuhan karena terjadi perebutan kekuasaan. Para penguasa dari golongan ksatria di kerajaan yang kalah perang pada masa itu melarikan diri ke Indonesia. Di Indonesia mereka mendirikan koloni dan kerajaan yang bercorak Hindu. Selain itu, mereka menyebarkan ajaran dan kebudayaan kedua agama Hindu pada masyarakat Indonesia.

4. Teori Arus Balik (Nasional) menurut F.D.K Bosch
Menurut teori arus balik, penyebaran agama Hindu di Indonesia terjadi karena peran aktif masyarakat Indonesia.. Menurut teori ini, pengenalan agama Hindu pertama kali memang dibawa oleh orang India. Mereka menyebarkan agama hindu pada beberapa orang, sampai pada akhirnya orang-orang tersebut tertarik untuk mempelajari agama hindu secara langsung dari negeri asalnya, yaitu neggara India. Mereka belajar agama hindu di India dan setelah kembali ke Indonesia, mereka mengajarkan apa yang didapat kepada masyarakat Indonesia lainnya.

5. Teori Sudra menurut van Faber
Menurut teori Sudra penyebaran agama Hindu di Indonesia diawali oleh para kaum budak atau sudra yang pindah ke Indonesia. Mereka menetap kemudian menyebarkan agama Hindu kepada masyarakat Indonesia. Lambat laun agama hindu tumbuh dan berkembang di Indonesia dan menggeser kepercayaan animisme dan dinamisme.

Teori tentang masuknya agama Hindu yang disebutkan di atas mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri, akan tetapi, teori yang mungkin benar tentang masuknya agama Hindu ke Indonesia adalah Teori Brahmana. Teori Brahmana mempunyai kelebihan dibandingkan teori yang lain, misalnya dalam agama hindu kaum Brahmana lah yang mempunyai wewenang untuk mengajar dan menyebarluaskan agama Hindu. Selain itu, kaum Brahmana saja yang diperbolehkan membaca dan mengajarkan kitab Veda. Jadi, kemungkinannya kecil jika ada kasta lain mampu menyebarkan ajaran agama Hindu dengan baik. Ditambah lagi, tulisan dalam bangunan dan prasasti agama Hindu yang ada di Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang mana hanya digunakan oleh kaum Brahmana dalam kitab Veda dan upacara Keagamaan agama Hindu.

B. Teori Masuknya Agama Buddha ke Indonesia

Agama Buddha tidak mengenal sistem kasta seperti Agama Hindu. Di Indonesia agama Buddha diajarkan dan disebarluaskan oleh para biksu melalui jalur perdagangan. Para biksu dengan tekun mengajarkan Agama Buddha di Indonesia, sehingga komunitas agama Buddha di berbagai daerah terbentuk. Dari hal tersebut, para biksu dari India dan dari berbagai daerah saling berkunjung. Hal tersebut membuat agama Buddha tumbuh dan berkembang di Indonesia dan berbagai daerah di Asia Tenggara lainnya.

Teori Masuknya Agama Hindu Buddha ke Indonesia

Dalam agama Buddha para biksu diwajibkan untuk menyebarluaskan ajaran agamannya. Sedangkan kaum Brahmana pada Agama Hindu tidak wajib untuk menyebarluaskan ajaran agamanya karena sebenarnya agama Hindu bukan agama yang umum (tidak untuk semua orang).

Demikian artikel yang membahas tentang teori masuknya agama Hindu-Buddha ke Indonesia. Ada kelebihan dan kekurangan dari teori masuknya Hindu Buddha yang disampaikan di atas. Walaupun begitu, semoga setelah membaca artikel tersebut kita semakin memahami bagaimana agama Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia.

Jasa-Jasa Sunan Kalijaga dan Murid-Muridnya yang Terkenal

A. Jasa Sunan Kalijaga

Sebagai salah seorang walisongo, sunan kalijaga telah memberikan jasa-jasa yang luar biasa khususnya dalam perkembangan agama islam di tanah Jawa. Dalam artikel ini, jasa sunan kalijaga dibagi menjadi dua, yaitu jasa sunan kalijaga sebagai da’i, dan jasa sunan kalijaga dibidang seni dan budaya. Berikut ini penjelasan lengkapnya.

a. Jasa Sunan Kalijaga sebagai Da'i (Muballigh)
Beliau dikenal sebagai seorang yang dapat bergaul dengan segala lapisan masyarakat. Dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Jika para wali lain kebanyakan hanya berda'wah di daerahnya saja dengan cara mendirikan Padepokan atau Pesantren maka sunan Kalijaga dikenal sebagai Muballigh keliling yang kondang.

Dengan memanfaatkan kesenian rakyat yang ada, beliau dapat Bergaul dan mengumpulkan rakyat untuk kemudian diajak mengenal Agama lslam. Beliau ahli menabuh gamelan, pandai mendalang, pandai menciptakan tembang yang kesemuanya itu dipergunakan untuk kepentingan da'wah dan mensyi'arkan agama lslam islam.

Terhadap adat istiadat rakyat beliau tidak langsung menentang secara tajam dan frontal yang akhirnya hanya membuat mereka lari dan enggan belajar dan mengenal agama lslam. Beliau mendekati rakyat yang masih awam, yang masih berpegang pada adat lama dan diberinya adat lama itu warna-warna lslami. Dengan caranya yang luwes tersebut, maka banyaklah orang Jawa yang bersedia masuk agama Islam.

b. Jasa Sunan Kalijaga sebagai Ahli Seni
Sebagai seorang seniman jasa-jasa sunan kalijaga sungguh sangat luar biasa. Di antara jasa-jasa beliau dalam kesenian yang dijadikan sarana untuk perjuangan agama lslam adalah :

1. Dalam bidang seni bangunan. 
Dalam pembangunan masjid Demak beliau membuat tiang dari Tatal (potongon - potongan kayu kecit-kecit) yang disusun rapi sehingga menjadi tiang yang kuat. Ketika ditanya oleh para wali lain mengapa beliau membuat soko (Tiang) dari Tatal beliau menjawab "Kangmas wali yang terhormat, biarpun dari tatal yang kecil kecil ini tapi kalau disatukan maka ia akan memiliki kekuatan seperti kayu Gelondongan" jawab Sunan Kalijaga. Dan kenyataannya Soko buatan Sunan Kalijaga masih ada sampai sekarang. Masyarakat menyebutnya "Soko Tatal".

2. Dalam bidang pakaian atau busana
Sunan Kalijaga yang pertama kali menciptakan baju Taqwa, baju Taqwa ini akhirnya disempurnakan oleh Sultan Agung dengan destar nyamping dan keris serta rangkaian lainya.

3. Dalam bidang Media Dakwah
Sunan Kalijaga yang memprakarsai Grebek Maulud Sekaten yaitu suatu acara semacam pengajian akbar yang diselenggarakan para wali di depan masjid untuk memperingati Maulid Nabi. Dalam kesempatan itu juga diadakan musyawarah tahunan para wali. Di depan masjid itu juga dipasang gamelan dan komplek masjid dirias dengan hiasan-hiasan yang indah.

Setiap penduduk yang ingin masuk diharuskan membaca dua kalimat Syahadat. Sesudah pengunjung melimpah maka gemelan ditabuh disertai tembang tembang keagamaan kemudian diselingi ceramah atau da'wah para wali. Perayaan itu berlangsung seminggu penuh.

Pada Zaman itu belum disebut Gerebeg, kata Gerebeg baru ada dizaman Surakarta dan Yogyakarta. Gerebeg artinya mengikuti Sultan dari Keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan peringatan Maulid Nabi SAW. Adapun arti Sekaten adalah dari Bahasa Arab Syahadatain

Yang dimaksud dengan Sekaten adalah dua buah gamelan yang diciptakan Sunan Kalijaga dan ditabuh pada hari-hari tertentu. Nama Gamelan itu semula adalah Kyai Nagawila dan Kyai Muntur Madu. Sekarang disebut Kyai Sekati dan Nyai Sekati. Gamelan itu misalnya dibunyikan pada hari Jum'at atau hari-hari besar lslam lainnya. Karena rakyat senang mendengar bunyinya maka rnereka berkumpul untuk mendengarkan di depan masjid Denrak, bild mereka sudah berkumpul para Wali memberi ceramah agama lslam.

Jasa sunan kalijaga yang lain antara lain :
1. Sunan kalijaga yang telah menciptakan falsafah Gong Sekaten, menciptakan wayang kulit, karena pada zaman sebelum wali, hanya ada wayang beber yaitu gambarnya setiap adegan dibeber pada sebuah kulit. Gambarnya adalah berupa manusia. Kemudian oleh Sunan Kalijaga dirubah menjadi bentuk wayang kulit seperti sekarang ini.
2. Diantara tembang ciptaan Sunan kalijaga yang masih akrab di kalangan rakyat Jawa hingga sekarang ini adalah Tembang "Lir llir.
3. Beliau juga yang menciptakan Tembang Dandang Gula dan Dandang Gula Semarangan. Sunan Kalijaga juga yang menyuruh Ki Pandanarang untuk membuat bedhuq.

B. Murid Sunan Kaliiaga

Murid Sunan Kalijaga itu banyak Sekali. Di antara murid beliau yang terkenal adalah :
1. Ki Pandanarang
Ki Pandanarang adalah Adipati Semarang yang kaya raya tetapi sangat pelit. Setelah menjadi murid Sunan Kalijaga, ia menjadi seorang yang dermawan, tekun di dalam menjalankan perintah agama islam. Dialah yang membangun Masjid di Semarang dengan Bedhuk dari kayu pilihan dan kulit lembu yang bagus. Ki Pandanarang telah menjadi orang yang sangat tekun dalam menjalankan perintah agama. Masayarakat Semarang sering menyebut Ki Pandanarang sebagai "Sunan Bayat"

Jasa Sunan Kalijaga dan Murid-Muridnya

b. Ki Cokrojoyo
Ki cokrojoyo adalah seorang lelaki miskin yang kerjanya tiap hari membuat gula nira sebagai mata pencahaiiannya. Biasanya setelah membuat gula nira dia metagukan tembang ciptaannya sendiri. suatu hari datanglah sunan Kalijaga mengajarkan tembang yang berisikan Dzikir kepada Kicokrojoyo. Dengan suara merdu Ki cokrojoyo tiap hari melagukan tembang ajaran-sunan Kalijaga itu. Akhirnya ia menjadi murid Kanjeng sunan Kalijaga dan beigelar "Sunan Geseng"

c. Ki Ageng Selo
Menurut cerita, Ki Ageng seto adalah murid sunan Kalijaga. Ki Ageng selo memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Di antira kesaktianya adalah konon beliau dapat menangkap petir. Itulah diantara murid-murid sunan Kalijaga, sebenarnya Murid sunan kalijaga itu cukup banyak, juga  kisahnya juga cukup panlang, namun tidak bisa disebutkan semuanya di sini.

Kisah Sunan Kalijaga Berguru Kepada Sunan Bonang

Kisah Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang - Sunan Kalijaga merupakan salah satu walisongo yang ada di pulau jawa. Pada artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa sunan kalijaga (nama aslinya Raden Syahid atau Raden Said) pernah menjadi perampok. Tentu tujuan sunan kalijaga merampok tidak untuk memperkaya diri sendiri, akan tetapi untuk membantu fakir miskin, khususnya disekitar daerah Tuban. Singkat cerita, pada akhirnya sunan kalijaga merampok orang berjubah yang ternyata adalah Sunan Bonang. Berkat kemampuan dari Sunan Bonang, Raden Syahid akhirnya sadar untuk tidak merampok lagi dan ingin berguru kepada Sunan Bonang. Kisah sunan kalijaga yang berguru kepada sunan bonang adalah tema yang akan dibahas dalam artikel ini.


Kisah Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang

Dalam kisah sunan kalijaga yang ingin berguru kepada sunan bonang, sunan Bonang sanggup menerima Raden Syahid sebagai muridnya asalkan dia sanggup pula menerima ujian kesabaran. Di samping harus terlebih dahulu membersihkan diri, suci, lahir maupun batin. Namun sebelum ilmu itu diberikan, Sunan Bonang menguji kesetiaan dan kesungguhan Raden Syahid, beliau menancapkan tongkatnya di pinggir kali.

Tolong kau jaga tongkatku ini, jangan disentuh. Tunggu aku sampai aku kembali untuk mengajarkan ilmu kepadamu. Kanjeng Sunan kepada Raden Syahid. Sambil berkata begitu, Kanjeng sunan pergi meninggalkan Raden Syahid di tepi kali. Dengan setia Raden Syahid duduk bersila menunggu tongkat itu sambil menantikan kedatangan Kanjeng Sunan kembali.

Beberapa hari telah terlalu namun kanjeng sunan belum juga muncul. Raden Syahid yang sudah bertekad bulat ingin menuntut ilmu tetap menanti dengan setia. la lebih baik mati dari pada tidak menjadi murid Kanjeng Sunan,

Perputaran waktu telah berjalan begitu cepat. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Raden syahid tetap duduk bersila tanpa mengenal panas, hujan dan angin dan entah sudah berapa lama ia duduk di situ tanpa makan dan minum hingga tak terasa semak belukar di sekitarnya tumbuh menjadi hutan kecil. Apabila musim kering tiba, maka ia terkena panas matahari, dan apabila musim hujan tiba, ia terendam air di kali. Tubuhnya yang semula segar, kini menjadi kering. Wajahnya yang bersih, kini tumbuh kumis dan jenggot. Dan tidak terasa sekujur tubuhnya dilingkari akar tumbuh-tumbuhan liar. Begitu tekun dan setianya Raden Syahid di tepi kali sebagai pertapa hingga tanpa terasa di kepalanya ada burung yang sedang bersarang.

Orang-orang yang melewati tempat tersebut mula-mula merasa aneh melihat seorang laki-laki muda duduk bersila. mereka menamakan pemuda itu sebagai penjaga kali.

Setelah beberapa tahun lamanya, kanjeng Sunan Bonang teringat pada Raden Syahid yang menjaga tongkatnya di pinggir kali itu, lalu beliau kembali menemui Raden Syahid. Ternyata pemuda itu masih duduk bersila sebagaimana ketika ditinggalkan. Kanjeng Sunan diam-diam memuji ketabahan Raden Syahid, dan yang paling menyedihkan adalah sekujur tubuhnya dilingkari tetumbuhan liar. Dengan langkah pasti, Kanjeng Sunen menghampirinya seraya mengucapkan salam.

"Assalamu'alaikum!" berkali-kali Kanieng sunan Bonang memberi salam kepada Raden syahid. Tetapi Raden syahid tak menjawabnya seolah-olah telah mati. Dengan penuh kasih sayang Kanjeng sunan membersihkan tubuh Raden syahid, namun Raden Syahid hanya diam saja. Pemuda itu tampak semakin tua, kumis dan jenggotnya tumbuh memanjang di wajah.

"Baru kali ini aku menemukan murid yang setabah ini, sekian tahun kutinggalkan di tempat ini, namun tetap duduk tanpa berubah sedikitpun. lni adalah muridku yang seiati dengan berkat tuhan yang maha pengasih sadarlah kamu". gumam Kanjeng sunan Bonang. Perlahan-lahan pemuda yang pucat itu mulai bergerak-gerak Raden syahid masih hidup meskipun sudah sekian tahun tidak makan dan tidak minum. semua itu berkat kekuasaan Tuhan.

Bagaikan sadar dari mimpi, Raden Syahid merasa sangat terkejut melihat keadaan dirinya sendiri. Dia telah menjadi laki-laki berkumis dan berjenggot. tetapi ia tidak lupa orang berjubah dihadapannya itu adalih gurunya.

"Sudah waktunya anak muda, sudah waktunya kamu menerima ilmu sejatinya hidup ini, bersihkan tubuhmu dan jauhkan dari sifat iri dan dengki", kata Kanjeng sunan dengan nada kasihan. "Terima kasih", jawab Raden Syahid lemah.

Demikianlah, akhirnya Raden syahid benar-benar menjadi murid sunan Bonang, karena ia lulus dalam menghadapi ujian, Beliau diajarkan ilmu syari'at, Haqiqot dan Thoriqoh yang bisa menyelamatkan umat manusia didunia dan di akhirat, akhirnya beliau menjadi seorang salah seorang wali Allah yang bergelar "sunan Kalijaga".

Sunan Kalijaga Berguru Kepada Sunan Bonang

Nama Kalijaga sendiri diambil dari peristiwa Raden syahid yang menjaga tongkat Sunan Bonang di tepi sungai. Kalijaga artinya adalah yang menjaga kali (sungai). Ada juga yang mengartikan Kalijaga sebagai orang yang menjaga aliran kepercayaan masyarakat terdahulu. Karena Sunan Kalijaga sangat halus dalam berdakwah. Beliau tidak langsung menunjukkan sikap anti pati terhadap kepercayaan masyarakat pada zaman itu, semua aliran didekati yang kemudian pada akhirnya diarahkan kepada Agama lslam.

Demikian artikel yang membahas tentang kisah sunan kalijaga yang berguru kepada sunan bonang. Semoga bermanfaat kepada para pembaca.

Kisah Sunan Kalijaga Menjadi Perampok Sampai Tobat

Kisah sunan kalijaga menjadi perampok sampai tobat - Nama asli Sunan Kalijaga adalah Raden Syahid, dalam riwayat yang lain ada yang menyebutnya Raden Said. Dia adalah putra Tumenggung Wilatikta yang menjabat sebagai Bupati Tuban. Tumenggung Wilatikta ini masih keturunan Adipati Ronggolowe, teman seperjuangan Raden wijaya ketika mendirikan Kerajaan Majapahit. Jadi, keturunan Raden Syahid bermula dari Adipati Ronggolawe berputra Aria Teja l, berputra Aria Teja II, berputra Aria Teja lll, berputra Aria Teja lV, berputra Raden Tumenggung Wilatikta, kemudian berputra Raden Syahid atau Raden Sa'id

Konon, satu-satunya keturunan Ranggalawe yang masuk lslam hanyalah Raden Tumenggung Wilatikta (Adipati Tuban) ayah Raden Syahid. Semenjak kecil, Raden Syahid menunjukkan kecakapannya dalam berfikir dan berbuat sesuatu demi kepentingan orang banyak. Sementara ayah Raden Syahid, pada mulanya seorang pemeluk agama Buddha. Sesuai dengan agama kerajaan pada masa itu. Tetapi setelah agama lslam masuk, ia beralih memeluk agama lslam, kemudian memberikan ajaran lslam kepada putra-putranya termasuk kepada Raden Syahid.

Sejak kanak-kanak Raden Syahid telah dianggap sebagai anak seorang Bupati tidak boleh tidak diperbolehkan keluar dari lstana dan bersahabat dengan rakyat jelata. Anak seorang Bupati paling tidak harus bergaul dengan anak pembesar kerajaan. Semua peraturan tersebut banyak yang dilanggar oleh Raden Syahid, karena bertentangan dengan isi hatinya. la berpendapat bahwa setiap orang memiliki hak yang sama dan dimata Tuhan derajat manusia itu juga sama, miskin atau kaya sama-sama makhluk tuhan, karena itu patut dihargai dan saling menghargai antar sesama.

Demikianlah asal usul dan budi pekerti Raden Syahid yang tertanam semenjak dia masih kanak-kanak, dan budi baiknya itu tetap dibawanya sampai dia berusia dewasa. Sebelum menjadi salah satu walisongo, sunan Kalijaga pernah menjadi seorang perampok. Keadaan rakyat Tuban yang saat itu memprihatinkan terpaksa membuat Raden Syahid (Sunan Kalijaga) untuk merampok demi kepentingan rakyat. Akan tetapi, pada akhirnya Raden Syahid berhenti merampok dan berguru kepada sunan bonang untuk. Adapun kisah lengkap tentang sunan kalijaga yang pernah menjadi perampok dan berguru kepada sunan bonang, berikut ini kisah lengkapnya.


1. Situasi Daerah Tuban dan Sekitarnya Mendorong Sunan Kalijaga Merampok

Ketika Raden Syahid menginjak umur dewasa, beliau mengerti maksud orang tuanya melarang dirinya keluar dari Kadipaten. Sebab dengan berdiam diri di Kadipaten maka ia tidak dapat melihat berbagai kepincangan hidup dan penderitaan rakyat. Padahal daerah Tuban dan sekitarnya pada saat itu di bawah kekuasaan Majapahit, sementara Majapahit sendiri pada waktu mengalami penurunan yang drastis, banyak rakylat yang menderita, Namun keadaan seperti ini tidak memperoleh perhatian yang serius dari para penguasa, bahkan mereka semakin memperberat rakyayt dengan kewajiban membayar pajak.

Pada suatu hari Raden Syahid melihat searang laki-laki tua sedang memakan pucuk daun pisang. Melihat itu, Raden Syahid menghentikan langkahnya dan menghampiri leki-laki tua itu seraya bertanya, “Apa yang bapak lakukan? Mengapa bapak makan daun daunan?”
Laki-laki tua itu berhenti sejenak, dipandanginya Raden Syahid dengan mata nanar. "Mengapa bapak rnemandangiku, jawablah pertanyaanku". tanya Raden Sy'ahid sekali lagi.

Orang tua tersebut tidak menjawab pertanyaan Raden Syahid, namun Raden Syahid tidak marah kepadanya, diulanginya sekali lagi pertanyaannya : "Mengapa bapak makan daun daunan ?". Orang tua tersebutpun dengan gemetar menjawab "Jika aku adalah seorang yang kaya dan tidak kelaparan sepertimu, tak mungkin aku makan daun daunan ini".
Setelah berkata begitu, orang tua itupun ambruk ke tanah. Sementara Raden Syahid terkejut lalu menghampirinya tetapi apa yang terjadi, orang tua tidak berkutik lagi. Dia telah mati karena kelaparan.

Begitulah Raden Syahid, beliau sangat perhatian dengan keadaan yang menimpa rakyatnya, berulangkali ia menemui kejadian seperti itu yang membuat mata beliau mengeluarkan air mata, ia selalu membantu orang yang membutuhkan apalagi pada saat itu Kadipaten Tuban dalam keadaan gersang dan tandus karena kekeringan.

Setibanya di rumah beliau menceritakan kejadian yang dialaminya pada ibunya, namun ibunya tidak peduli dengan kenyataan itu bahkan marah kepada Raden Syahid seraya berkata "Apa urusanmu dengan mereka ? ltu bukan urusanmu I" "Maaf bu, aku senang melihat-lihat keadaan rakyat di desa-desa yang mengalami penderitaan. Tidak bolehkah aku melihat keadaan rakyat ayahku?". tanya Raden Syahid. Mendengar jawaban Raden Syahid ibunya menjadi marah seraya berkata : "Kau mau mengajari orang tua ? semua kebijakan ayahmu adalah baik. Siapapun tidak boleh menentangnya. "Baik menurut ayah, belum tentu baik menurut rakyat" jawab Raden Syahid lancang kamu, kulaporkan kamu kepada ayahmu". bentak ibunya dengan nada marah danmuka merah padam. Kemudian ibunya melaporkan perkataan Raden Syahid kepada ayah Raden Syahid, maka pada waktu juga Raden Syahid dipanggil menghadap.

"Duduklah Syahid !" ujar ayahnya dengan wajah muram
"Ada perlu apa ayah memanggilku?". tanya Raden Syahid dengan sopan
"Aku sudah mendengar semuanya dari ibumu". ujar ayahnya tanpa ragu.
“Tentang apa ayah?”, tanya Raden Syahid kalem
"Tentang keadaan rakyat Tuban ini". jawab ayahnya
"Benar ayah, aku telah melihat sendiri, rakyat ayah yang menderita kelaparan. Bukankah ayah selaku penguasa di Tuban ini yang menjadi tanggung jawab 
bagi mereka?" tanya Raden Syahid.
"Diam !", bentak ayahnya dengan keras.
Dengan tenang Raden syahid berkata "Ma'afkan atas kelancanganku ayah".
“Kuperingatkan! Jangan sekali-kali kamu berkata begitu lagi, kali ini kuampuni kau", ujar ayahnya.

Tentunya kamu tahu bukan, kedudukanku ini hanyalah sebagai Adipati yang berada di bawah kekuasaan Raja Majapahit. Kebijakan yang ayah jalankan selama ini atas perintah Raja. Ayah tidak bisa mengambil kebijakan yang bertentangan dengan apa yang telah ditentukan oleh kerajaan. Dan kali ini kamu kuperingatkan, jangan keluar dari Kadipaten untuk melihat keadaan desa-desa di sekitar daerah Tuban ini", ujar ayah Baden Syahid meyakinkan.

Mendengar penuturan ayahnya itu Raden syahid terdiam. Namun dalam hatinya ia menentang pendapat ayahnya yang bertindak masa bodoh terhadap rakyat. Jika kebijakan ayah begitu, lantas apa artinya dia sebagai Adipati ? dan yang paling memprihatinkan adalah nasib para petani yang setiap tahunnya diberi kewajiban membayar upeti yang begitu besar dari kerajaan maupun kadipaten, namun kadipaten atau kerajaan sendiri tidak memperdulikan neisib mereka.

Demikianlah hal-hal yang selalu menghantui pikiran Raden Syahid yaitu suasana penderitaan Rakyat Tuban di bawah kekuasaan ayahnya.


2. Kisah Raden Syahid (Sunan Kalijaga) Merampok

Saking tidak kuatnya Raden Syahid melihat penderitaan rakyat dari bahaya kelaparan yang mencekam. Sementara para penguasa enak-enak tenang. Tuan-tuan tanah dan orang kaya enak-enak menikmati kekayaannya. Tidak memperdulikan nasib fakir miskin dan rakyat jelata yang mati kelaparan. Akhirnya Raden Syahid yang masih berjiwa bersih itu memberanikan diri untuk setiap malam hari mengambil padi, jagung serta bahan makanan lainnya di gudang kadipatan dan diberikan kepada fakir miskin yang membutuhkan, beliau melakukan aksi ini dengan menggunakan penutup (semacam
topeng) sehingga tidak ada seorang pun yang mengenalinya.

Tetapi perbuatan Raden Syahid itu tidak berlangsung lama. Salah seorang punggawa Kadipaten telah memergokinya dan melaporkan pada ayahnya. Beliau sangat marah begitu tahu bahwa pencuri yang selama ini berkeliaran adalah putranya sendiri. Raden Syahid dihukum oleh ayahnya dengan hukuman yang sangat berat.

Setelah menerima hukuman, Haden Syahid tidak kapok. Malah semakin menjadi-jadi. Tetapi kali ini beliau tidak mengambii bahan-bahan makanan yang berada dikadipaten tetapi ia mengambil dari para saudagar dan pedagang kaya, tuan tanah yang suka memeras rakyat miskin. Harta hasil rampokan tersebut diberikan kepada rakyat miskin yang sering dilanda kelaparan. Namun hal ini tidak bisa berlangung lama. Sebab, ada perampok lain yang menggunakan kesempatan ini. Perampok itu menyamar seperti Raden Syahid. Pakaian dan topenenya persis dengan apa yang dipakai Raden Syahid ketika melakukan aksinya.

Sudah barang tentu perampok yang menyamar Raden Syahid itu tidak membagi-bagikan hasil rampokannya kepada fakir miskin, melainkan dinikmatinya sendiri bersama anak buahnya. Bahkan kadangkala memperkosa wanita-wanita yang dijumpainya.

Alkisah, Suatu ketika Raden Syahid memergoki sebuah rumah penduduk yang dijarah perampok. Penghuni rumah itu menjerit histeris meminta tolong, Raden Syahid segera memakai topeng dan masuk untuk memberi pertolongan. Tapi apa yang terjadi, perampok itu kabur. Sementara tangan Raden Syahid dipegang erat-erat oleh si penghuni rumah karena mengira perampok itu adalah Raden Syahid seraya menjerit rneminta tolong kepada penduduk. Raden Syahid terjebak, beramai-ramai penduduk kampung menangkap Raden Syahid dan dibawanya ke Balai Desa. Kepala Desa segera ingin tahu, lalu dibukanya topeng itu, namun betapa kagetnya sang Kepala Desa setelah rnengetahui bahwa perampok itu adalah Raden Syahid putra Adipati Tuban sendiri.

Karuan saja sang Adipati sangat marah, setelah mendengar bahwa Raden Syahid merampok dan memperkosa. lbunya sendiri yang biasanya selalu membela Raden Syahid tiap ada persoalan dengan ayahnya. Kini marahnya bukan kepalang ketika meiihat Raden Syahid datang, spontan ia berkata : "Pergi kamu dari sini! Jangan coba-coba kau injakkan kakimu di Kadipaten ini. Aku tidak sudi mempunyai anak sepertimu, bikin malu orang tua !",

Sejak peristiwa itu terjadi, nama Raden Syahid dan orang tuanya selaku Adipati tercoreng. Di sana-sini penduduk membicarakan masalah Raden Syahid yang suka merampok dan memperkosa. Di mana Raden Syahid bermaksud menolong para penduduk yang menderita, tapi akhirnya malah dia dituduh sebagai pembunuh dan perusak pagar ayu. Karena kehadirannya tidak lagi di terima, Raden syahid pergi meninggalkan kadipaten Tuban dan pergi jauh meninggalkan wilayah kadipaten, beiiau mengembara tanpa tujuan yang jelas.

4. Taubatnya Raden Syahid (Sunan Kalijaga) dalam Merampok

Selama bertahun-tahun, Raden Syahid mengembara hingga sampai di sebuah hutan bernama Jiatiwangi. Di hutan itulah Raden syahid membegal dan rnerampok para pedagang kaya yang melawati hutan itu. Dan hasil rampokannya kembali dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Raden syahid dikenal dengan sebutan Lokijaya Alkisah, pada suatu hari ada seorang laki berjubah berjalan melewati hutan tersebut. Ditempat itu pula laki-laki tersebut dicegat oleh Raden Syahid.

Hendak kemana engkau kisanak ?". tanya Raden Syahid serava memandang gagang tongkat yang dibawa orang berjubah itu.
Mau ke suatu tempat, jawab orang berjubah kalem.
Raden syahid tertarik gagang tongkat orang berjubah itu karena berkilauan laksana emas. la bermaksud merebut tongkat tersebut dari tangan orang berjubah itu.

Melihat langkah kisanak yang begitu gesit, tanpa tongkat pun kisanak mampu berjalan". ujar Raden Syahid
"Anak muda, Tongkat itu adalah pegangan, bukan sekedar untuk berjalan ". ujar orang berjubah.
"Nisbatnya orang hidup atau berjalan haruslah punya pegangan agar tidak tersesat jaian ". Sambung orang berjubah itu.
"Coba aku lihat tongkat kisanak". kata Raden Syahid tidak serantan
"Mulanya ingin melihat, tapi pada akhirnya ingin memiliki itu tak baik anak muda sama dengan merampok". ujar orang berjubah itu lagi. Tanpa menunggu lebih lama, direbutnya tongkat itu oleh Raden Syahid, sehingga laki-laki berjubah itu pun jatuh tersungkur.

Dari wajahnya tampak rasa sedih yang mendalam, dari matanya terlihat tetesan air mata. Anehnya, setelah tongkat itu berpindah tangan, secara tiba-tiba tongkat itu berubah seperti tongkat kayu biasa, tidak berkilau seperti tadi. Sementara laki-laki berjubah tersebut berusaha untuk bangkit.

Melihat perubahan tongkat tersebut ia segera mengembalikan tongkat itu kepada laki-laki berjubah sambil berkata : "Jangan bersedih dan menangis kisanak, Nih aku kembalikan tongkatmu". Aku tidak bersedih dan menangis karena tongkat yang kau rebut, tapi aku bersedih dan menangis karena melihat seorang pemuda yang kuat menendang seorang laki-laki yang lebih tua, hanya karena memperebutkan tongkat kayu yang tidak berharga ini". sahud laki-laki berjubah

"Kisanak, sebenarnya yang kuinginkan adalah harta benda"' kata Raden Syahid.
"Buat apa?". tanya orang berjubah. Akan kuberikan kepada fakir miskin yang menderita". jawab Raden Syahid.
Sungguh mulia niatmu anak muda, namun sayang cara yang kamu pergunakan sangat keliru ". ujar lelaki berjubah menasehati.

"Apa maksud kisanak ?". tanya Raden Syahid'
"sesungguhnya Allah itu baik, suka kepada yang baik dan hanya menerima amal baik dari yang baik pula". jawab orang berjubah menjelaskan.
Mendengar ucapan orang berjubah itu, Raden syahid jadi tercengang. 
"Jadi jelasnya". sambung orang berjubah. 

"Tuhan tidak menerima sedekah dari barang yang didapat secara haram, karena itu, sia-sialah sedekah yang kau berikan dari hasil merampok selama ini. Jika engkau menginginkan harta. Ambillah itu! itu harta halal. Sambil berkata begitu, orang berjubah mengisyaratkan tongkatnya pada sebuah pohon aren. Dengan idzin Allah seketika pohon, buah, daun, dahan dan rantingnya semua menjadi emas yang berkilauan.
Raden Syahid mengira bahwa kejadian itu adalah sihir maka dikerahkanlah ilmunya untuk menanggulangi sihir orang berjubah, namun hasilnya sia-sia. ternyata orang yang berjubah tidak menggunakan ilmu sihir. Tanpa menunggu kesempatan, Raden Syahid langsung saja memanjat pohon itu untuk mengambil beberapa buahnya. Tapi apa yang terjadi, sebelum memetik buah itu Raden Syahid terjatuh dan pingsan.

Setelah Raden Syahid sadar, pohon aren itu kembali berubah menjadi pohon aren seperti semula, begitu pula buahnya yang jatuh berwarna hijau sebagaimana biasa. Dari kejadian itu Raden Syahid menyadari bahwa laki-laki tua yang dihadapi bukanlah orang sembarangan.

Ketika Raden Syahid sedang mengamati keanehan-keanehan itu, orang berjubah itu pergi, Raden Syahid segera mengejarnya serta mengikuti jejaknya karena ia beniat berguru pada laki-laki tersebut.

Kisah Sunan Kalijaga Menjadi Perampok

Sesampainya di pinggir kali, Raden Syahid berhasil menyusul orang berjubah itu dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Ada apa kau menyusulku anak muda?". tanya laki-laki berjubah itu.
"Aku ingin sekali menjadi muridmu, kisanak" pinta Raden Syahid pada laki-laki berjubah itu dengan kepala tertunduk. Demikianlah, berkat ketinggian ilmu orang berjubah yang membuat Raden Syahid ingin sekali menjadi muridnya dan berjanji sanggup meninggalkan perbuatannya yang keliru. 

Orang berjubah tersebut adalah sunan bonang, beliau mau menerima Raden Syahid untuk menjadi muridnya akan tetapi Raden Syahid harus diuji terlebih dahulu. Ujian yang diberikan Sunan bonang kepada Raden Syahid adalah menjaga tongkat yang ditancapkan oleh sunan bonang ditepi sungai (kali).

Demikianlah kisah singkat tentang sunan kalijaga yang pernah menjadi perampok, mulai dari penyebab sunan kalijaga merampok sampai pada taubatnya sunan kalijaga menjadi perampok dan berguru kepada sunan bonang.