Sejarah Kekhalifahan Dinasti Umayyah

Sejarah Kekhalifahan Dinasti Umayyah


Sejarah Kekhalifahan Dinasti Umayyah


Sebelumnya materi sebelumnya, kita telah membahas tentang pemerintahan Islam setelah nabi Muhammad Saw wafat, yaitu pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang pemerintahan setelah Khulafaur Rasyidin, yaitu pemerintahan khalifah dinasti Umayyah. Yang akan kita bahas terkait Dinasti Umayyah antara lain sejarah Dinasti Umayyah, sistem pemerintahan bani Umayyah, Khalifah-Khalifah bani Umayyah, dan faktor-faktor penyebab mundurnya kekuasaan bani Umayyah.


A.  Sejarah Dinasti Umayyah

Sejarah berdirinya Dinasti Umayyah berasal dari nama Umayyah bin ‘Abdul Syams bin Abdul Manaf, yaitu salah seorang dari pemimpin kabilah Quraisy pada zaman jahiliyah. Bani umayyah bau masuk agama Islam pada Fathul Makkah. Memasuki tahun ke 40 H/660 M, Pertikaian politik terjadi dikalangan umat Islam, puncaknya adalah ketika terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Setelah Khalifah terbunuh, umat Islam di wilayah Iraq mengangkat al-Hasan putra tertua Ali sebagai Khalifah yang sah. Sementara itu Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagi gubernur propinsi Suriah (Damaskus) juga menobatkan dirinya sebagai Khalifah.

Namun karena Hasan ternyata lemah sementara Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertambah kuat, maka Hasan bin Ali menyerahkan pemerintahannya kepada Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Mu’awiyah merupakan pendiri dinasti Bani Umayyah. Karier politik Mu’awiyah mulai meningkat pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Setelah kematian Yazid bin Abu Sufyan pada peperangan Yarmuk, Mu’awiyah diangkat menjadi kepala di sebuah kota di Syria. Karena sukses memimpinya, menjadi gubernur Syria oleh Khalifah Umar. Mu’awiyah selama menjabat sebagai gubernur Syria, giat melancarkan perluasan wilayah kekuasaan Islam sampai perbatasan wilayah kekuasaan Bizantine. Pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abu Thalib, Muawiyah terlibat konflik dengan Khalifah Ali untuk mempertahankan kedudukannya sebagai gubernur Syria. Sejak saat itu Mu’awiyah mulai berambisi untuk menjadi Khalifah dengan mendirikan dinasti Umayyah. Setelah menurunkan Hasan Ibn Ali, Mu’awiyah menjadi penguasa seluruh imperium Islam,dan menaklukan Afrika Utara merupakan peristiwa penting dan bersejarah selama masa kekuasaannya.

B.  Sistem Pemerintahan Bani Umayyah

Muawiyah bin Abi Sufyan menjadi Khalifah pertama dinasti Bani Umayyah setelah Hasan bin Ali bin Abu Thalib menyerahkan keKhalifahannya kepada Muawiyah. Sebelumnya, Muawiyah menjabat sebagai gubernur Syiria. Selama berkuasa di Syiria, Muawiyah mengandalkan orang-orang Syiria dalam mempeluas batas wilayah Islam. Ia mampu membentuk pasukan Syria menjadi satu kekuatan militer Islam yang terorganisir dan berdisiplin tinggi. ia membangun  sebuah Negara yang stabil dan terorganisir.

Dalam pengelolaan pemerintahan, Muawiyah mendirikan beberapa departemen yaitu pertama, diwanulkhatam yang fungsinya adalah mencatat semua peraturan yang dikeluarkan oleh Khalifah. Kedua, diwanulbarid yang fungsinya adalah memberi tahu pemerintah pusat tentang perkembangan yang terjadi di semua provinsi.

Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat Monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun-temurun) mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, yaitu Yazid bin Muawiyah. Pada tahun 679 M, Muawiyah menunjuk putranya Yazid untuk menjadi penerusnya. Muawiyah bin Abu Sufyan menerapkan sistem monarki dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Byzantium. Dalam perkembangan selanjutnya, setiap Khalifah menobatkan seorang anak atau kerabat sukunya yang dipandang sesuai untuk menjadi penerusnya. Sistem yang diterapkan Mu’awiyah mengakhiri bentuk demokrasi. Kekhalifahan menjadi Monarchiheridetis (kerajaan turun temurun), yang di peroleh tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak.

C.  Khalifah Bani Umayyah

Dinasti Bani Umayyah berkuasa selama 90 tahun dari tahun 41-132 H atau 661-750 M. Selama dinasti Bani Umayyah terdapat empat belas khalifah. Khalifah bani Umayyah antara lain:
1.      Muawiyah bin Abu Sufyan (41-60 H / 661-680 M)
2.      Yazid bin Muawiyah (60-64 H / 680-683 M)
3.      Muawiyah bin Yazid (64-64 H / 683-683 M)
4.      Marwan bin Hakam (64-65 H / 684-685 M)
5.      Abdul Malik bin Marwan (65-86 H / 685-705 M)
6.      Walid bin Abdul Malik (86-96 H / 705-715 M)
7.      Sulaiman bin Abdul Malik (96-99 H / 715-717 M)
8.      Umar bin Abdul-Aziz (99-101 H / 717-720 M)
9.      Yazid bin Abdul-Malik (101-105 H / 720-724 M)
10.   Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H / 724-743 M)
11.   Walid bin Yazid bin Abdul Malik (125-126 H / 743-744 M)
12.   Yazid bin Walid bin Abdul Malik (126-127 H/ 744 M)
13.   Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik (127 H / 744 M)
14.   Marwan bin Muhammad (127-133 H / 744-750 M)


D.  Faktor-Faktor Penyebab Kemunduran Dinasti Umayyah

Kebesaran yang dibangun oleh Daulah Bani Umayyah ternyata tidak dapat menahan kemunduran dinasti yang berkuasa hampir satu abad ini.  Kemunduran dinasti Umayyah diakibatkan oleh beberapa faktor yang kemudian mengantarkan pada titik kehancuran. Diantara faktor-faktor penyebab kemunduran Dinasti Umayyah adalah:
1.   Pertentangan antara suku Arab Utara dan Suku Arab Selatan
Terjadinya pertentangan keras antara kelompok suku Arab Utara (Irak) yang disebut Mudariyah dan suku Arab Selatan (Suriah) Himyariyah, pertentangan antara kedua kelompok tersebut mencapai puncaknya pada masa Dinasti Umayyah karena para Khalifah cenderung berpihak pada satu etnis kelompok.
2.   Ketidakpuasan pemeluk Islam non Arab.
Ketidakpuasan sejumlah pemeluk Islam non Arab. Mereka yang merupakan pendatang baru dari kalangan bangsa-bangsa yang dikalahkan mendapat sebutan “Mawali”, suatu status yang menggambarakan inferioritas di tengah-tengah keangkuhan orang-orang Arab yang mendapat fasilitas dari penguasa Umayyah. Mereka bersama-sama orang Arab mengalami beratnya peperangan dan bahkan di atas rata-rata orang Arab, tetapi harapan mereka untuk mendapatkan tunjangan dan hak-hak bernegara tidak dikabulkan. Seperti tunjangan tahunan yang diberikan kepada Mawali ini jumlahnya jauh lebih kecil dibanding tunjangan yang dibayarkan kepada orang Arab.
3.   Munculnya konflik-konflik politik
Konflik-konflik politik yang melatarbelakangi terbentuknya Daulah Umayyah. Kaum Syi`ah dan Khawarij terus berkembang menjadi gerakan oposisi yang kuat dan sewaktu-waktu dapat mengancam keutuhan kekuasaan Umayyah. Disamping menguatnya kaum Abbasiyah pada masa akhir-akhir kekuasaan Bani Umayyah yang semula tidak berambisi untuk merebut kekuasaan, bahkan dapat menggeser kedudukan Bani Umayyah dalam memimpin umat.
4.   Lemahnya pemerintahan Dinasti Bani Umayyah
Lemahnya pemerintahan Dinasti Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak Khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Di samping itu, para Ulama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.
5.   Munculnya kekuatan baru dari keturunan Abbas bin Abdul Muthalib
Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Abbas bin Abdul Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan kaum mawali yang merasa dikelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.


Demikian artikel kami terkait Dinasti Umayyah yang meliputi sejarah Dinasti Umayyah, sistem pemerintahan bani Umayyah, Khalifah-Khalifah bani Umayyah, dan faktor-faktor penyebab mundurnya kekuasaan bani Umayyah. Semoga artikel kami tentang Dinasti Umayyah bermanfaat bagi para pembaca. 

Silahkan Bagikan Artikel Diatas Melalui :

Selanjutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »

Silahkan berkomentar . . EmoticonEmoticon