15 Golongan Musuh Iblis dan 10 Golongan Teman Dekat Iblis

 15 Golongan Musuh Iblis dan 10 Golongan Teman Dekat Iblis


15 Golongan Musuh Iblis dan 10 Golongan Teman Dekat Iblis

Iblis merupakan salah satu makhluk yang wajib kita jauhi. Tidak ada Iblis yang bisa kita percayai. Ketika kita dekat  dengan Iblis, maka kita pasti dekat dengan laknat Allah Swt dan neraka Allah Swt. Akan tetapi jika kita jauh dari Allah, maka kita akan dekat dengan rahmat Allah Swt dan surga Allah Swt. Atau dengan kata lain, Menjadi Musuh Iblis merupakan hal yang sangat baik, sedangkan menjadi teman Iblis merupakan hal yang sangat tidak baik.


Akan tetapi, orang seperti apa yang menjadi musuh Iblis dan orang seperti apa juga yang menjadi  teman Iblis? Yang pasti semoga kita tidak menjadi teman, apa lagi teman dekat Iblis. Untuk mengetahui di mana posisi kita terhadap Iblis, pada kesempatan kali ini akan kita uraikan 15 (lima belas) musuh Iblis dan 10 (sepuluh) teman dekat Iblis.

15 (lima belas) musuh Iblis dan 10 (sepuluh) teman dekat Iblis dapat diketahui melalui cerita dari Wahab ibn Munabbih. Wahab ibn Munabbih menuturkan, bahwa pada suatu hari Allah Swt memerintahkan Iblis mendatangi nabi Muhammad Saw untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disodorkan kepadanya. Iblis pun menemui nabi Muhammad Saw, dalam bentuk seorang laki-laki tua bertongkat.

“Siapa kamu?” Tanya Rasulullah Saw

“Aku Iblis,” jawabnya pendek

“Mengapa kamu datang kemari?,” Rasulullah kembali bertanya.

“Allah memerintahkan aku menemuimu untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaanmu.” Jawab iblis

Mengetahui hal tersebut, lalu Rasulullah Saw mengajukan pertanyaan kepada Iblis. “Wahai Iblis terkutuk, berapa jumlah umatku yang menjadi musuhmu?”

“Ada 15 (lima belas) golongan umatmu yang menjadi musuhku,” jawab Iblis. 15 (lima belas) golongan yang menjadi musuhku antara lain :

1)     Kamu
2)     Pemimpin yang adil
3)     Orang kaya yang tidak sombong
4)     Pedagang yang jujur
5)     Ilmuwan yang rendah hati
6)     Mukmin yang selalu menasihati saudaranya
7)     Mukmin penyayang
8)     Orang-orang yang bertobat
9)     Orang yang hati-hati terhadap barang haram
10)   Mukmin yang selalu suci (berwudu)
11)   Mukmin yang banyak bersedekah
12)   Mukmin yang berakhlak mulia terhadap sesama manusia
13)   Mukmin yang bermanfaat bagi orang lain
14)   Pecinta Al Quran yang tidak pernah berhenti membacanya
15)   Orang yang selalu terbangun untuk shalat malam (tahajud) ketika orang-orang terlelap tidur

Setelah mengetahui 15 golongan umat Rasulullah Saw yang menjadi musuh Iblis, lalu Rasulullah kembali bertanya, “Lalu, siapa saja umatku yang menjadi teman dekatmu?” Kemudian Iblis menjawab, “Ada 10 (sepuluh) golongan dari umatmu yang menjadi tamanku.” 10 (sepuluh) golongan yang menjadi teman dekatku antara lah :

1)     Penguasa jahat
2)     Orang kaya yang sombong
3)     Pedagang yang curang
4)     Peminum minuman keras
5)     Orang yang suka memfitnah dan mengadu domba
6)     Pezina
7)     Orang yang memakan harta anak yatim
8)     Orang yang bermain-main dengan shalat
9)     Orang yang tidak mau berzakat
10)   Orang yang selalu berangan-angan panjang


Demikian artikel kami tentang 15 Golongan yang termasuk musuh Iblis dan 10 golongan yang menjadi teman dekat Iblis. Semoga cerita di atas dapat membuat kita semakin sadar dalam memposisikan diri. Jangan sampai kita menjadi teman dekat Iblis. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk para pembaca.

Sumber : Buku Berjudul “Dialog Iblis dengan Para Nabi” karya Ustads H. Asep Sapullah Darusmanwiati, M.A

Ketika Iblis Tidak Jadi Bertobat Kepada Allah Swt

Ketika Iblis Tidak Jadi Bertobat Kepada Allah Swt


Ketika Iblis Tidak Jadi Bertobat Kepada Allah Swt


Iblis merupakan makhluk ciptaan Allah yang terbuat dari Api. Iblis awalnya merupakan makhluk yang sangat taat beribadah kepada Allah Swt. Akan tetapi, karena Iblis tidak mau mentaati salah satu perintah Allah, akhirnya Iblis dilaknat oleh Allah Swt yaitu akan masuk ke dalam api neraka. Perintah Allah Swt kepada Iblis yang dimaksud yaitu sujud dihadpan manusia (nabi Adam as). 


Dalam artikel kali ini, akan dibahas tentang cerita tobatnya Iblis yang tidak jadi. Tobatnya Iblis pernah terjadi ketika zaman nabi Musa as. Pada suatu hari, Iblis bertemu dengan nabi Musa as. Ketika bertemu nabi Musa as, Iblis berkata, “Wahai Musa, engkau adalah manusia terpilih untuk menyampaikan risalah-Nya. Engkau juga manusia terpilih untuk bisa berbicara langsung dengan-Nya. Sementara aku hanyalah makhluk-Nya. Aku banyak berbuat dosa, dan saat ini aku mau bertobat. Tolong bantulah aku, agar Allah Swt mau meneriman tobatku.”

Mendengar permintaan Iblis kepada nabi Musa as untuk dibantu bertobat kepada Allah Swt, nabi Musa as segera berdoa kepada Allah Swt agar Allah menerima tobatnya Iblis dan mengampuni segala dosa yang telah Iblis lakukan. Doa nabi Musa as di jawab melalui firman-Nya, “Doa dan keinginanmu Aku penuhi, Musa.”

Pada kesempatan lain, nabi Musa as bertemu kembali dengan Iblis tadi. “Wahai Iblis, Allah Swt akan menerima tobatmu jika kamu melakukan satu syarat, syarat tersebut yaitu kamu harus sujud ke kuburan nabi Adam as.”

Mendengar apa yang disampaikan oleh nabi Musa as, Iblis langsung marah, “Aku tidak pernah sujud kepadanya saat ia hidup, bagaimana mungkin aku sujud kepadanya ketika ia sudah mati?” Dengan demikian, akhirnya Iblis mengurungkan niatnya untuk bertobat kepada Allah Swt. Iblis masih menjadi makhluk Allah Swt yang keras. Hanya dengan sujud di makam nabi Adam as, dosa-dosanya akan di ampuni oleh Allah Swt. Akan tetapi Iblis masih keras hati dan tidak mau melakukannya.

Cerite tentang Iblis yang mengurungkan niatnya untuk bertobat kepada Allah tidak berhenti sampai disini. Iblis masih mempunyai harga diri untuk membalas budi kepada nabi Musa as karena telah dibantu. Iblis berkata, “Wahai Musa, kamu telah memohonkan ampunan kepada Allah Swt atas dosa-dosaku, karena itu kamu berhak mendapatkan upah dan balasan dariku. Sebagai upahnya, aku akan sampaikan kepadamu bahwa jika kamu mengingatku dalam tiga keadaan, niscaya kamu celaka dan binasa.” Tiga keadaan yang dimaksud oleh Iblis antara lain :

Keadaan yang pertama, ingatlah aku ketika kamu sedang marah, niscaya mukaku berada di hatimu, mataku berada di kedua matamu, dan aku akan berjalan dalam dirimu seiring dengan darah mengalir dalam tubuhmu.

Keadaan yang kedua, ingatlah aku ketika kamu sedang susah karena aku akan selalu mendatangi manusia ketika mereka sedang kesusahan. Aku akan ingatkan dia akan anaknya, istrinya, dan keluarganya, sehingga dia mengikutu bisikan-bisikanku.

Keadaan yang ketiga, jauhilah duduk berdua dengan wanita yang bukan muhrim, karena sesungguhnya aku adalah utusan dia untukmu, dan utusanmu untuk dia.


Demikian artikel kami tentang Iblis yang tidak jadi bertobat kepada Allah Swt. Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa tidak jadinya Iblis dalam bertobat karena masih kerasnya hati Iblis. Selain itu, ada tiga keadaan di mana ketika kita berada dalam keadaan itu maka kita akan celaka, yaitu ketika kita sedang marah, sedang susah, dan sedang duduk bersama wanita yang bukan muhrim. Semoga artikel kami bermanfaat bagi para pembaca.

Sumber : Buku Berjudul “Dialog Iblis dengan Para Nabi” karya Ustads H. Asep Sapullah Darusmanwiati, M.A

Alasan Dosa Nabi Adam as Diampuni oleh Allah Swt

Alasan Dosa Nabi Adam as Diampuni oleh Allah Swt

Alasan Dosa Nabi Adam as Diampuni oleh Allah Swt


Para pembaca pasti sudah mengetahui bahwa Nabi adam as merupakan manusia yang pertama kali diciptakan oleh Allah Swt. Awalnya nabi Adam as adalah penghuni surga bersama istrinya, yaitu Siti Hawa. Akan tetapi, karena nabi Adam as dan Siti Hawa melakukan subuah kesalahan, maka Allah murka sehingga nabi Adam as dan di hukum yaitu di buang ke dunia ini.


Murkanya Allah Swt kepada nabi Adam as membuat nabi Adam as sangat menyesal. Menurut imam Miujahid, kata-kata tobat nabi Adam as kepada Allah Swt yaitu :

Ya Allah, Tidak ada tuhan selain-Mu, maha suci Engkau dan dengan segala puji-Mu.Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah segala dosaku ya Allah. Engkaulah sebaik-baik pengampun dosa. Ya Allah, tidak ada tuhan selain-Mu. Maha suci Engkau dan segala puji-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu berilah kasih sayangmu kepadaku. Engkaulah sebaik-baik pemberi kasih sayang. YA Allah, tisak ada tuhan selain-Mu. Maha suci Engkau dan dengan segala puji-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu terimalah tobatku ini. Engkaulah maha penerima tobat lagi maha penyayang.

Selain itu, informasi tentang tobatnya nabi Adam as dapat diperoleh dari cerita Umar ibn Khattab. Umar ibn Khattab menceritakan kisah Rasulullah Saw tentang tobatnya nabi Adam as.

Ketika mengakui kesalahannya, nabi Adam as bertobat dan memohon ampun kepada Allah Swt. “Ya Allah, aku memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang telah aku perbuat dengan perantara Muhammad Saw.”

“Bagaimana kamu tahu Muhammad, padahal Aku belum menciptakannya?” tanya Allah.

“Saat Engkau menciptakanku langsung dengan tangan-Mu, dan Engkau tiupkan ruh kepadaku langsung dari ruh-Mu, aku mendongak ke langit. Di tiang Arasy tertulis, La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah, aku yakin nama itu bukan sekedar nama bila disandingkan dengan nama-Mu, melainkan ia adalah makhluk yang paling Engkau cintai.“

“Betul Adam,” Kata Allah. “Muhammad adalah makhluk yang paling Aku cintai. Kamu telah memohon kepada-Ku melalui perantaraan namanya. Ketahuilah, aku telah mengampuni dosa dan kesalahan. Kalau bukaan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu, Adam.”

Lho, bagaimana mungkin nabi Adam as bisa tahu nabi Muhammad Saw, sementara nabi Muhammad Saw belum diciptakan?

Menjawab pertanyaan di atas, Rasulullah Saw bersabda, “sesungguhnya aku telah tercatat di sisi Allah dalam Lauhul Mahfudz sebagai penutup para nabi ketika nabi Adam as masih berupa tanah (belum diciptakan)”

Dalam hadist lain, Abu Hurairah menuturkan bahwa suatu hari para sahabat bertanya, “Kapan engkau diciptakan sebagai nabi, ya Rasul ?”

“Ketika nabi  Adam as mesih di antara ruh dan jasad.” Jawab nabi Muhammad Saw.

Jadi, Allah Swt memang sudah merencanakan dan menetapkan bahwa nabi Muhammad Saw akan menjadi nabi  terakhir, jauh hari sebelum nabi Adam as diciptakan.


Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa alasan nabi Adam as diampuni oleh Allah Swt karena ketulusan tobat dari nabi Adam as, selain itu nabi Adam as juga meminta nabi Muhammad Saw sebagai perantara doa nabi Adam as.

Demikian artikel tentang asalan tobatnya nabi Adam as diterima oleh Allah Swt. Sebagai keturunan dari nabi Adam, semoga kita bisa mencontoh bagaimana usaha dari nabi Adam as agar dosa-dosanya diampuni oleh Allah Swt. 

Sumber : Buku Berjudul “Dialog Iblis dengan Para Nabi” karya Ustads H. Asep Sapullah Darusmanwiati, M.A

Bagaimana Jika Allah Swt Tidur


Bagaimana Jika Allah Swt Tidur


Dialah Allah Swt, satu-satunya tuhan yang disembah dan tidak ada yang menyamainya. Dialah Allah Swt, tempat kita meminta dan tempat kita memohon. Dialah Allah Swt yang maha melihat lagi maha mengetahui, dan tidak pernah tidur. Akan tetapi bagaimana jika Allah tidur? Pertanyan ini pernah ditanyakan oleh bani Israel kepada nabi Musa as tentang bagaimana jika Allah tidur. Memang pertanyaan ini adalah pertanyaan yang tidak oantas di tanyakan. Akan tetapi sudah sifat dasar dari bani Israel yang suka bertanya, maka muncullah pertanyaan seperti itu.


Pertanyaan dari bani Israel kepada nabi Musa as tentang bagaimana jika Allah tidur diperoleh melalui cerita Ibnu Abbas. Ibnu Abbas bercerita :

Suatu hari bani Israel bertanya kepada nabi Musa as, “Wahai Musa, apakah Tuhanmu tidur?”

“Takutlah kalian kepada Allah Swt. Pertanyaan kalian tak pantas diutarakan.” Jawab nabi Musa.

Tapi Allah Swt justru menyeru kepada Musa, “Wahai Musa, mereka bertanya apakah tuhamu tidur? Baiklah, sekarang ambil dua botol kaca. Pegang kedua botol itu dengan masing-masing tanganmu sampai pagi hari, jangan sampai jatuh pecah.”

Lalu, nabi Musa as melaksanakan perintah Allah. Nabi musa mengambil dua buah botol dan memeganya dengan kedua tangannya masing-masing. Akan tetapi, begitu beranjak sepertiga malam, tiba-tiba nabi Musa as mengantuk sehingga kedua botol tersebut jatuh ke atas dua pahanya. Jatuhnya kedua botol tersebut membuat nabi Musa as kaget dan membuat nabi Musa as terbangun. Akhirnya ia segera menggenggam kembali kedua botol yang katuh tadi, serta memegang keduanya erta-erat.

Sudah sifat dasar manusia jika nabi Musa merasa mengantuk. Akhirnya begitu di penghabisan malam, nabi Musa as tidak kuat lagi menahan kantuk yang sudah begitu berat. Ia pun akhirnya tertidur, dan tak terasa kedua botol yang dia pegang itu jatuh, kemudian pecah.

Mendengar suara botol pecah, nabi Musa as langsung terbangun. Ia pandangi dua botol yang sudah pecah dan berserakan di berbagai tempat. Nabi Musa as kesal dan sedih karena ia tidak dapat menjaga kedua botol tersebut sebagaimana perintah Allah Swt.

Ditengah kesedihan nabi Musa as, Allah berfirman, “Wahai Musa, andai saja Aku tertidur sebagaimana kamu, maka seluruh langit dan bumi ini akan jatuh dan pecah sehingga akan berserakan sebagaimana kedua botol yang kamu genggam tadi.”

Karena cerita inilah, kata Abbas, Allah menurunkan firman-Nya, yaitu ayat kursi kepada nabi Muhammad Saw.

Berdasarkan cerita di atas dapat disimpulkan bahwa sangat mustahil jika Allah Swt tertidur. Jika Allah Swt tidur, maka seluruh langit dan bumi ini akan terjatuh. Oleh karena itu, iman dan ketaqwaan kita kepada Allah harus selalu kita tingkatkan dari hari ke hari.

Allah Swt selalu melihat dan mengetahui segala apa yang kita kerjakan di dunia ini. Entah yang dikerjakan itu baik atau buruk. Bahkan keberadaan Allah Swt lebih dekat dari urat nadi kita semua. Kita sebagai manusia hendaklah selalu beribadah kepada Allah Swt, karena Allah Swt selalu mengawasi kita, bahkan di saat kita tidur sekalipun.


Demikian artikel kami tentang bagaimana jika Allah Swt tertidur. Semoga artikel kami dapat membantu para pembaca untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan yang dimiliki kepada Allah Swt.

Sumber : Buku Berjudul “Dialog Iblis dengan Para Nabi” karya Ustads H. Asep Sapullah Darusmanwiati, M.A

Kenikmatan Surga yang Paling Rendah

Kenikmatan Surga yang Paling Rendah


Kenikmatan Surga yang Paling Rendah


Di dunia ini,kita sebagai manusia diciptakan oleh Allah Swt dengan tujuan tiada lain untuk beribadah kepadaNya. Perintah Allah kepada manusia tidaklah cuma-cuma. Allah menawarkan surga dan neraka kepada manusia. Surga diberikan oleh Allah Swt kepada umat manusia yang mau dengan ikhlas beribadah, beriman, dan bertaqwa kepada Allah Swt. Sedangkan neraka diberikan kepada manusia yang tidak mau beribadah, beriman, dan bertaqwa kepada Allah Swt.


Dengan demikain, salah satu tujuan kita beribadah kepada Allah Swt salah satunya adalah untuk terhindar dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Untuk memotivasi kita dalam beribadah kepada Allah Swt, dalam kesempatan kali ini akan kita kupas dialog antara Nabi Musa as dan Allah Swt yang membahas tentang nikmat surga yang paling rendah. Mengapa nikmat durga yang paling rendah yang dibahas? Hal ini karena dengan mengetahui nikmat surga yang paling rendah, kita akan dapat membandingkan dengan nikmat surga yang di atasnya.

Informasi tentang nikmat surga yang paling rendah diperoleh melalui cerita dari Mugihrah ibn Syu’bah. Mughirah ibn Syu’bah menceritakan sebuah kisah yang ia dengar dari Rasulullah Saw :

Suatu hari nabi Musa as pernah bertanya kepada Allah Swt, “Ya Allah, seperti apakah kenikmatan yang anak Engkau berikan kepada penghuni surga yang paling rendah?”

“Seseorang yang dimasukkan ke surga, setelah seluruh penghuni surga masuk terlebih dahulu,” Jawab Allah. Jadi penghuni surga yang paling rendah akan masuk ke surga setelah seluruh penghuni surga masuk, atau dengan kata lain ia akan masuk paling akhir.

Lalu orang itu ditanya, “Relakah kamu bila diberi kenikmatan dan kekayaan sebagaimana telah diberikan kepada salah seorang raja paling kaya dari raja-raja di dunia?”

“Aku rida, ya Allah,” jawabnya

“Kamu akan mendapatkan seperti raja tadi dan ditambah empat kali lipatnya. Ridakah kamu ?”

“Aku sangat rida, ya Allah”

“Kamu akan mendapatkan semua itu,”sabda Allah, “Ditambah semua yang kamu sukai dan semua yang ingin dimiliki kedua matamu.” Sungguh betapa besar nikmat yang Allah Swt berikan kepada penghuni surga yang paling rendah jika kita bandingkan nikmat yang ada di dunia ini. Kekayaan empat kali lipat seorang raja paling kaya di dunia ini akan diberikan kepada penghuni surga yang paling rendah.

Nabi musa as kembali bertanya, “Lalu, seperti apakah kenikmatan yang akan Engkau berikan kepada penghuni surga yang paling tinggi tingkatannya, ya Allah?”

Allah menjawab, “Ketahuilah Musa, kenikmatan yang akan aku berikan untuk mereka tak akan terlihat oleh mata, terdengar telinga, juga tak akan dapat terbersit manusia, saking besar dan istimewanya kenikmatan tersebut. Aku sendiri yang memberikannya, Aku sendiri yang menyiapkannya, bahkan Aku sendiri yang menjaga dan menyegelnya.” Sungguh nikmat yang sangat besat, bahkan mata dan pikiran kita sebagai manusia tidak dapat menjangkau nikmat surga yang paling tinggi.

Nikmat yang Allah berikan kepada penghuni surga yang paling tinggi dapat diketahui memalui FirmanNya. Allah berfirman, Tak seorang pun dapat mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan mereka atas apa yang mereka kerjakan (QS As Sajadah [32] :17)


Demikian artikel kami tentang kenikmatan yang Allah Swt berikan kepada penghuni surga yang paling rendah, begitu juga yang paling tinggi. Semoga artikel ini membuat para pembaca semakin bersemangat dan berlomba-lomba dalam beribadah kepada Allah Swt.

Sumber : Buku Berjudul “Dialog Iblis dengan Para Nabi” karya Ustads H. Asep Sapullah Darusmanwiati, M.A

Kemajuan Bani Umayyah di Bidang Ekonomi, Pendidikan, Politik, dan Militer

Kemajuan Bani Umayyah di Bidang Ekonomi, Pendidikan, Politik, dan Militer

Kemajuan Bani Umayyah di Bidang Ekonomi, Pendidikan, Politik, dan Militer


Pada artikel sebelumnya telah di bahas tentang kemajuan Bani Umayyah di bidang administrasi pemerintahan, bidang sosial kemasyarakatan, dan bidang seni budaya. Pada kesempatan ini kita akan membahas kemajuan bani Umayyah di bidang ekonomi, pendidikan, politik, dan Militer.

1.  Kemajuan Bani Umayyah di Bidang Bidang Ekonomi

Di Bidang ekonomi dan perdagangan, Dinasti Bani Umayyah menerapkan beberapa kebijakan untuk dapat meningkatkan perekonomian negara. Kebijakan-kebijakan Bani Umayyah di bidang ekonomi antara lain :
a.   Sumber Pendapatan dan Pengeluaran Pemerintah
Sumber uang masuk pada masa zaman Daulah bani Umayyah sebagiannya diambil dari Dharaib yaitu kewajiban yang harus dibayar oleh warga negara. Di samping itu, bagi daerah-daerah yang baru ditaklukkan, terutama yang belum masuk Islam, ditetapkan pajak istimewa. Namun, pada masa Umar bin Abdul Aziz, pajak untuk non muslim dikurangi, sedangkan Jizyah bagi muslim dihentikan. Kebijakan ini mendorong non muslim memeluk agama Islam. Adapun pengeluaran pemerintah dari uang masuk tersebut adalah sebagai berikut:
1)  Gaji pegawai, tentara dan biaya tata usaha negara
2)  Pembangunan pertanian termasuk irigasi dan penggalian terusan
3)  Ongkos bagi terpidana dan tawanan perang
4)  Perlengkapan perang
5)  Hadiah bagi sastrawan dan ulama

b.   Mata Uang di Cetak dengan Teratur
Pada masa Abdul Malik, mata uang kaum muslimin dicetak secara teratur. Pembayaran diatur dengan menggunakan mata uang ini. Meskipun pada Masa Umar bin Khattab sudah ada mata uang, namun belum begitu teratur.

c.   Organisasi keuangan.
Keuangan terpusat pada baitul maal yang asetnya diperoleh dari pajak tanah, perorangan bagi non muslim. Percetakan uang dilakukan pada Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

2.  Kemajuan Bani Umayyah di Bidang Pendidikan

Daulah Bani Umayyah tidak terlalu memperhatikan bidang pendidikan, karena mereka fokus dalam bidang politik. Meskipun demikian, Daulah Bani Umayyah memberikan andil bagi pengembangan ilmu-ilmu agama Islam, sastra dan filsafat. Daulah menyediakan tempat-tempat pendidikan antara lain:
a.   Kuttab
Kuttab merupakan tempat anak-anak belajar menulis dan membaca, menghafal Alquran serta belajar pokok-pokok ajaran Islam
b.   Masjid
Pendidikan di masjid merupakan lanjutan dari kuttab. Pendidikan di masjid terdiri dari dua tingkat. Pertama, tingkat menengah diajar oleh guru yang biasa saja. Kedua, tingkat tinggi yang diajar oleh ulama yang dalam ilmunya dan masyhur kealimannya.
c.   Arabisasi
Gerakan penerjemahan ke dalam bahasa Arab (Arabisasi buku) pada masa Marwan gencar dilakukan. Ia memerintahkan untuk menerjemahkan bukubuku yang berbahasa Yunani, Syiria, Sansekerta dan bahasa lainnya ke dalam bahasa Arab.
d.   Baitul Hikmah
Baitul hikmah merupakan gedung pusat kajian dan perpustakaan. Perhatian serta pelestarian berbagai sarana dan aktivitas di gedung ini terus menjadi perhatian dalam perjalanan Daulah Bani Umayyah hingga masa Marwan.

3.  Kemajuan Bani Umayyah di Bidang Politik dan Militer

Kondisi perpolitikan pada masa awal Dinasti Bani Umayyah cenderung stabil. Muawiyah dengan kemampuan politiknya mampu meredam gejolak-gejolak yeng terjadi. Hingga ia mengangkat anaknya yang bernama Yazid menjadi penggantinya, barulah terjadi pergolakan politik.

Di antara kebijakan politik yang terjadi pada masa Daulah Bani Umayyah adalah terjadinya pemisahan kekuasaan antara kekuasaan agama (spritual power) dengan kekuasaan politik. Amirul Mu’minin hanya bertugas sebagai Khalifah dalam bidang politik. Sedangkan urusan agama diurus oleh para ulama.

Perkembangan/prestasi bani Umayyah pada bidang politik militer yaitu dengan terbentuknya lima lembaga pemerintahan, antara lain:
a.   Lembaga Politik (An-Nizam As-Siyasy)
Dinasti Bani Umayyah menerapkan organisasi politik yang terdiri dari jabatan Khalifah (kepala negara), wizarah(kementerian), kitabah (kesekretariatan), hijabah (pengawal pribadi Khalifah).

b.   Lembaga Keuangan (An-Nizam Al-Maly)
Dinasti Bani Umayyah mempertahankan pengelolaan baitul maal baik pemasukan maupun pengeluaran. Sumber pemasukan baitul maal diperoleh dari hasil pajak pengahasilan tanah pertanian disebut kharraj dan Pajak individu bagi masyarakat non-Muslim disebut ML]\Dh. Atau hasil pajak perdaganganimpor yang disebut usyur.

c.   Lembaga Tata Usaha (An-Nizam Al-Idary)
Dinasti Bani Umayyah membagi wilayah kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah pusat dipimpin oleh Khalifah, sedangkan daerah dipimpin oleh gubernur yang disebut wali. Untuk pelaksanaan tata negara yang teratur, Bani Umayyah mendirikan beberapa departemen antara lain Diwan al Kharraj (departemen pajak), diwan al rasail (departemen pos dan persuratan), diwan al musytaghillat (departemen kepentingan umum), dan diwan al khatim (departemen pengarsipan).

d.   Lembaga Kehakiman (An-Nizam Al-Qady)
Dinasti Bani Umayyah memisahkah kekuasaan eksekutif (pemerintah) dan Yudikatif (pengadilan). Dimana pelaksanaan kekuasaan yudikatif terbagi menjadi 3, yaitu, al-Qadha (Hakim masalah negara), al-Hisbah (hakim perkara pidana), dan al-Nadhar fil Madlalim (mahkamah tinggi atau banding)

e.   Lembaga Ketentaraan (An-Nizam Al-Harby)
Lembaga ketentaraan sudah ada sejak khulafaur rasyidin Perbedaanya pada rekrutmen personilnya. Dimana masa khulafaur rasyidin setiap orang boleh menjadi tentara, sedangkan pada masa Dinasti Bani Umayyah hanya diberikan kepada orang-orang Arab.

Pada formasi tentara, Dinasti Bani Umayyah mempergunakan istilah di kerajaan Persia. Formasi itu terdiri dari Qolbul Jaisy(pasukan inti) yang berisi alMaimanah(pasukan sayap kanan), al-maisarah(pasukan sayap kiri), al-Muqaddimah (pasukan terdepan), dan saqah al-jaisyi(posisi belakang)

Di samping itu juga di bentuk dewan sekretaris Negara (diwanul kitabah) yang bertugas mengurusi berbagai macam urusan pemerintahan dewan ini terdiri dari lima orang sekretaris, yaitu:
a.   Sekretaris persuratan ( katib Ar-Rasail)
b.   Sekretaris keuangan ( katib Al-kharraj)
c.   Sekretaris tentara (katib Al-Jund)
d.   Sekretaris kepolisian (katib Al-Jund)
e.   Sekretaris kehakiman (katib Al-Qadi)

Langkah-Langkah politik militer bani Umayyah antara lain :
a.   Memindahkan ibu kota pemerintahan Bani Umayyah dari Kuffah ke Damaskus.
b.   Menumpas segala bentuk pemberontakan yang ada demi terciptanya stabilitas keamanan dalam negerinya.
c.   Menyusun organisasi pemerintahan agar roda pemerintahannya dapat berjalan lancar.
d.   Mengubah sistem pemerintahan demokrasi menjadi sistem monarki
e.   Menetapkan bahasa arab sebagai bahasa nasional bani Umayyah yang dapat berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa.
f.    Demi keselamatan Khalifah dibentuk $O+LMDEDK(ajudan) dengan tujuan agar tidak terjadi pembunuhan pada Khalifah.

Selain bani Umayyah menentukan langkah-langkah politik militer, Dinasti Bani Umayyah menerapkan beberapa kebijakan dalam bidang militer, yaitu
a.   Undang-undang Wajib Militer
Daulah Bani Umayyah memaksa orang untuk masuk tentara dengan membuat undang-undang wajib militer (Nizham Tajnid Ijbary). Mayoritas adalah berasal dari orang Arab.

b.   Futuhat/Ekspansi (Perluasan Daerah)
Perluasan ke Asia kecil dilakukan Muawiyah dengan ekspansi ke imperium Byzantium dengan menaklukan pulau Rhodes dan Kreta pada tahun 54 H. Setelah 7 tahun, Yazid berhasil menaklukkan kota Konstantinopel.

Perluasan ke Asia Timur, Muawiyah menaklukkan daerah Khurasan-Oxus dan Afganistan-Kabul pada tahun 674 M. Pada zaman Abd Malik, daerah Balkh, Bukhara, Khawarizan, Ferghana, Samarkand dan Sebagian India (Balukhistan, Sind, Punjab dan Multan). Perluasan ke Afrika Utara, dikuasainya daerah Tripoli,  Fazzan, Sudan, Mesir (670 M)

Perluasan ke barat pada zaman Walid mampu menaklukkan Jazair dan Maroko (89 H). Tahun 92 H Thariq bin Ziyad sampai di Giblaltar (Jabal Thariq). Tahun 95 H Spanyol dikuasai. Cordova terpilih menjadi ibu kota propinsi wilayah Islam di Spanyol.


Demikian artikel tentang kemajuan Bani Umayyah di bidang administrasi pemerintahan, bidang sosial kemasyarakatan, dan bidang seni budaya. Semoga bermanfaat bagi para pembaca.