Tuesday, April 26

Apa Saja Peran Nilai dan Norma dalam Masyarakat ?

Peran nilai dan norma dalam masyarakat merupakan materi yang berisi antara perpaduan nilai dan norma sosial. Peran nilai dan norma dalam masyarakat sangat penting karena memberikan stabilitas kehidupan. Coba bayangkan jika suatu daerah tidak terdapat suatu nilai dan norma sosial yang berlaku, pastilah daerah tersebut akan mengalami kekacauan dan pola kehidupannya akan mengalami penyimpangan.

Misalnya, di daerah Papua di mana daerah tersebut belum mampu melembagakan suatu norma, akibatnya masyarakat di sana tidak tahu bagaimana cara berpakaian yang sopan di depan umum, bagaimana cara mereka mengikat tali perkawinan yang suci sesuai agama, dan bagaimana mereka bersosialisasi dengan damai. Jadi peran nilai dan norma sosial dalam masyarakat sangat penting. (Baca juga : Pengertian Nilai Sosial)

Peran Nilai dan Norma dalam Masyarakat

Peran nilai dan norma sosial dalam masyarakat secara umum adalah untuk mengatur pola kehidupan masyarakat agar pola perilaku yang ditunjukkan seimbang, tidak merugikan, serta tidak menimbulkan ketidakadilan. Dalam masyarakat yang modern saat ini memang sangat dibutuhkan peran dari nilai dan norma sosial. Nilai dan norma sosial digunakan agar masyarakat modern tidak berlaku sekehendak hatinya. Secara lebih rinci peran nilai dan norma dalam masyarakat adalah :

1. Peran nilai dan norma sebagai petunjuk perilaku yang benar
Peran nilai dan norma dalam masyarakat menjadi rel dari perilaku yang harus dibuat oleh setiap masyarakat. Perilaku yang kompleks dalam masyarakat akan menimbulkan variasi-variasi dalam pencapaian kebutuhan hidup. Akibatnya masyarakat akan berlaku sekehendak hatinya tanpa memandang kepentingan-kepentingan orang lain, sehingga terjadi ketidakseimbangan yang menimbulkan benturan-benturan antar individu dalam masyarakat menimbulkan konflik sosial. Untuk mengantisipasi hal ini, maka masyarakat membentuk  nilai dan norma agar dijadikan petunjuk dalam perilaku yang sudah disepakati oleh anggota masyarakat.

2. Peran nilai dan norma sebagai pengatur sistem dalam masyarakat
Setiap masyarakat pasti memiliki sistem dalam kehidupannya untuk memenuhi kebutuhan pokok. Sistem ini dibuat untuk memudahkan masyarakat agar kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi secara normal. Karena sistem adalah serangkaian perilaku yang terstruktur dan sistematis, maka dibentuklah tatanan nilai dan norma. Hal ini dilakukan agar masyarakat terus berjalan pada sistem yang sudah disepakati, sehingga keseimbangan hidup dalam masyarakat tercipta.

3. Peran nilai dan norma sebagai pelindung bagi mereka yang lemah
Masyarakat pada umumnya terdiri dari beberapa komponen yang saling melengkapi. Secara alamiah komponen tersebut tersusun sedemikian rupa yang melembaga pada suatu kehidupan masyarakat. Sehingga variasi dari pola perilaku mengikuti komponen yan terbentuk dan terdiri dari peran dan status dari masyarakat. Karena setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda maka komponen masyarakat tersebut membentuk struktur sosial yang vertikal, akibatnya ada segolongan individu yang menjadi pemimpin maupun menjadi penjahat. Untuk melindungi ketidaknyamanan dari pemimpin yang sewenang-wenang maupun dari penjahat yang merugikan dan meresahkan, maka masyarakat secara kolektif membentuk nilai dan norma.

4. Peran nilai dan norma sebagai Khasanah Budaya Masyarakat
Dalam konteks ini nilai dan norma yang ada di depan masyarakat berperan sebagai etos budaya masyarakat yang memberikan ciri khusus bagi masyarakat tersebut. Bentuk kebudayaan dalam masyarakat memiliki keragaman tersendiri. Keragaman tersebut berasal dari nilai dan norma yang ada dalam masyarakat tersebut.

Peran Nilai dan Norma dalam Masyarakat

Demikian penjelasan singkat tentang peran nilai dan norma dalam masyarakat yang terdiri dari peran nilai dan norma sebagai petunjuk perilaku yang benar, peran nilai dan norma sebagai pengatur sistem dalam masyarakat, peran nilai dan norma sebagai pelindung bagi mereka yang lemah, peran nilai dan norma sebagai khasanah budaya masyarakat. Semoga artikel kami yang membahas tentang peran nilai dan norma dalam masyarakat yang terdiri dari peran nilai dan norma sebagai petunjuk perilaku yang benar, peran nilai dan norma sebagai pengatur sistem dalam masyarakat, peran nilai dan norma sebagai pelindung bagi mereka yang lemah, peran nilai dan norma sebagai khasanah budaya masyarakat bermanfaat untuk para pembaca.

Macam-macam atau Jenis-jenis Norma Sosial

Macam-macam atau jenis norma sosial. Dilihat dari resmi tidaknya norma tersebut dan ditilik dari kekuatan sanksinya, macam-macam atau jenis norma sosial dibedakan dua macam, yaitu norma tidak resmi dan norma resmi, dan norma utama. Adapun norma utama di bedakan menjadi beberapa macam, yaitu norma kelaziman, norma hukum, norma kesusilaan, norma agama, norma kesopanan, dan mode. Berikut penjelasan tentang macam-macam norma sosial atau jenis-jenis norma sosial.(Baca juga : Pengertian Norma Sosial dan Fungsi Norma Sosial)

a. Norma Tidak Resmi dan Norma Resmi
Macam-macam atau jenis-jenis norma sosial yang pertama yaitu norma sosial dari sudut pandang norma tidak resmi dan norma resmi. Berikut penjelasan tentang norma sosial resmi dan norma sosial tidak resmi.

1) Norma Tidak Resmi (Nonformal)
Norma tidak resmi ialah patokan yang dirumuskan secara tidak jelas di masyarakat dan pelaksanaannya tidak diwajibkan bagi warga yang bersangkutan. Norma tidak resmi tumbuh dari kebiasaan bertindak yang seragam dan diterima oleh masyarakat. Meskipun tidak diwajibkan, tetapi semua anggota sadar, bahwa patokan tidak resmi itu harus ditaati dan mempunyai kekuatan memaksa yang lebih besar daripada patokan resmi. Patokan norma tidak resmi dijumpai dalam kelompok primer seperti keluarga, kumpulan tidak resmi, dan paguyuban.

2) Norma Resmi (Formal)
Norma resmi ialah patokan yang dirumuskan dan diwajibkan dengan jelas dan tegas oleh yang berwenang kepada semua warga masyarakat. Keseluruhan norma resmi ini merupakan suatu tubuh hukum yang dimiliki masyarakat modern. Jalan untuk memperkenalkan kaidah formal/peraturan-peraturan yang telah dibuat haru disebarluaskan. Pembuatan peraturan tersebut tidak semata-mata didasarkan pada kebiasaan yang sudah ada, tetapi lebih sesuai dengan prinsip susila (etika) dan prinsip ”baik dan buruk”. Dari sumber moral itu dibuatlah perundang-undangan, keputusan, peraturan, dan sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan rasional yang masak mengenai tujuan yang hendak dicapai dan faktor-faktor yang dapat menghalangi keberhasilannya

Dalam masyarakat yang sudah maju, sebagian patokan (norma) resmi dijabarkan dalam suatu kompleks peraturan hukum. Masyarakat adat diubah menjadi masyarakat hukum. Kebutuhan akan peraturan hukum tidak dapat dihindari oleh negara, lembaga kepartaian, ekonomi, lalu lintas, dan sebagainya. Seluruh hukum positif/tertulis diperlukan demi terciptanya keseragaman bertindak bagi semua anggota masyarakat modern. (Baca juga : Peran Nilai dan Norma dalam Masyarakat)

b. Norma-norma Utama
Berdasarkan daya mengikat dan sanksi yang tersedia bagi para pelanggarnya, norma sosial utama dibagi atas enam golongan, yaitu norma kelaziman, norma hukum, norma kesusilaan, norma agama, norma kesopanan, dan mode. Berikut penjelasan tentang norma utama yng meliputi norma kelaziman, norma hukum, norma kesusilaan, norma agama, norma kesopanan, dan mode.

1) Norma Kelaziman/Folkways
Norma kelaziman, yaitu norma yang diikuti tanpa berpikir panjang, melainkan hanya didasarkan atas tradisi atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Folkways ini, lebih luas dari Custom. Custom, yaitu cara-cara bertindak yang telah diterima oleh masyarakat, misalnya: cara mengangkat topi, cara duduk, cara makan, cara-cara peminangan, dan lain-lainnya. Volkways dan Custom keduanya tidak memerlukan sanksi (ancaman hukuman untuk berlakunya). Biasanya orang-orang yang menyimpang dari kelaziman dianggap aneh, gila, ditertawakan, diejek, dan lain-lainnya. Misalnya: cara makan, minum, berpakaian, bersepatu, berbicara, tertawa, menerima tamu, memberi salam, dan sebagainya. Kesemuanya mengikuti contoh-contoh Volkwaysatau Custom. Penyimpangan terhadap norma kelaziman tersebut tidak mendatangkan kekacauan.

2) Norma Hukum
Norma hukum, yaitu norma yang berasal dari pemerintah berupa peraturan, instruksi, ketetapan, keputusan, dan undang-undang. Norma hukum dapat  dibedakan menjadi 2 macam.
a)  Norma hukum yang tertulis
Norma hukum yang tertulis misalnya: hukum pidana dan hukum perdata.
b)  Norma hukum yang tidak tertulis
Norma hukum yang tidak tertulis misalnya: hukum adat. Adanya aturan-aturan ini, kepada orang yang melanggarnya akan mendapat sanksi atau hukuman.

3) Norma Kesusilaan/Mores
Norma kesusilaan, yaitu norma yang berasal dari kebiasaan yang dibuat manusia sebagai anggota masyarakat misalnya sopan santun dan tingkah laku.

Norma kesusilaan biasanya dihubungkan dengan keyakinan keagamaan. Barang siapa melanggar kesusilaan, biasanya tidak ada hukumnya secara langsung. Si pelanggar biasanya diisolir (diasingkan) oleh masyarakat dan menjadi pembicaraan masyarakat.

Masyarakat biasanya mengamat-amati kepada anggota-anggotanya, apakah ada yang menyimpang dari norma kesusilaan atau tidak. Bila ternyata ada penyimpangan norma kesusilaan maka mereka berani melancarkan ejekan-ejekan, sindiran-sindiran, atau memaksa dan mengusir orang itu untuk meninggalkan tempat tinggalnya. Tindakan-tindakan masyarakat yang demikian itu disebut social pressure(social control).

4) Norma Agama
Norma agama, yaitu norma yang berasal dari Tuhan, berisi perintah, larangan, dan anjuran yang menyangkut hubungan antarmanusia, dan hubungan  manusia dengan Tuhan. Norma agama berfungsi sebagai petunjuk dan pegangan hidup bagi umat manusia yang berasal dari Tuhan yang berisikan perintah dan larangan. Pelanggaran terhadap norma agama mendapatkan sanksi dosa dan di masukkan ke dalam neraka ketika di akhirat nanti.

5) Norma Kesopanan
Norma kesopanan, yaitu norma yang berasal dari hati nurani tiap manusia dalam masyarakat. Wujud norma kesopanan itu berupa aturan dan kebiasaan yang dilakukan manusia sebagai anggota masyarakat agar dipandang baik, tertib, dan menghargai sesamanya. Contoh norma kesopanan yaitu berpakaian rapi, berlaku jujur, dan sebagainya.

6) Mode (Fashion)
Mode biasanya dilakukan dengan meniru atau iseng saja. Biasanya mode ini di dalam masyarakat berkembangnya sangat baru. Cita-cita dan konsepsi baru itu mempunyai dasar yang lebih dalam dan mencerminkan perubahan kemasyarakatan. Gaya umumnya dapat kita amati di bidang seni rupa, seni suara, literatur, arsitektur bangunan, dekorasi rumah, dan lain-lain cepat. Pada dasarnya orang mengikuti mode untuk mempertinggi gengsi menurut pandangan pribadi masing-masing.
Contoh: Mode rambut, mode celana, mode pakaian mini, mode tarian, mode rumah, mode lagu, mode mobil, mode sepeda motor, dan lain-lain.

Masyarakat kadang-kadang senang meniru cara dan gaya hidup yang digunakan orang lain. Dari segi mental, kadang-kadang kita belum siap menerimanya. Akhirnya, terjadilah cultural lag (kesenjangan budaya).

Macam-macam atau Jenis-jenis Norma Sosial

Contoh: Di kota banyak didirikan tempat rekreasi atau tempat peristirahatan yang menyediakan hiburan dengan suasana alam. Dalam kenyataannya masyarakat belum memahami bahwa kebersihan merupakan bagian dari keindahan alam tempat rekreasi itu sehingga mereka membuang sampah di sembarang tempat, ada yang corat-coret. Mode berbeda dengan gaya (style) walaupun keduanya berhubungan. Mode banyak dipengaruhi oleh gaya. Gaya merupakan penjelmaan dari cita-cita dan konsep keindahan baru serta teknologi.

Demikian penjelasan singkat tentang macam-macam atau jenis-jenis norma sosial yang terdiri dari norma tidak resmi dan norma resmi, dan norma  utama yang dibagi atas enam golongan, yaitu norma kelaziman, norma hukum, norma kesusilaan, norma agama, norma kesopanan, dan mode. Semoga artikel kami yang membahas tentang macam-macam atau jenis-jenis norma sosial yang terdiri dari norma tidak resmi dan norma resmi, dan norma  utama yang dibagi atas enam golongan, yaitu norma kelaziman, norma hukum, norma kesusilaan, norma agama, norma kesopanan, dan mode bermanfaat untuk para pembaca.

Pengertian Norma Sosial dan Fungsi Norma Sosial

Pengertian norma sosial dan fungsi norma sosial - Norma sosial akan menjadi materi pembahasan kita selanjutnya. Dalam blog ini, kami akan membagikan materi tentang pengertian norma sosial dan norma sosial.

1. Pengertian Norma Sosial

Norma adalah aturan-aturan yang dilengkapi dengan sanksi-sanksi kepada orang yang melanggarnya. Atau dikatakan seperangkat tatanan baik yang tertulis maupun tidak tertulis, yang berlaku, dan merupakan pedoman sehari-hari dalam masyarakat. Dalam pelaksanaan, norma berlaku di segala bidang kehidupan misalnya kesenian, keagamaan, adatistiadat, dan pendidikan.

Norma sosial dibuat oleh manusia agar nilai-nilai sosial yang ada dapat dipatuhi dan dilaksanakan oleh semua warga masyarakat. Apabila di dalam masyarakat telah menjalankan norma sosial yang berisi nilai-nilai maka di dalam masyarakat akan tercipta suatu tata hubungan yang harmonis tanpa adanya pelanggaran terhadap hak-hak setiap individu dalam masyarakat.

Jadi, dapat ditegaskan bahwa norma sosial adalah aturan-aturan dengan sanksi-sanksi sebagai pedoman untuk melangsungkan hubungan sosial dalam masyarakat yang berisi perintah, larangan, anjuran agar seseorang dapat bertingkah laku yang pantas guna menciptakan ketertiban, keteraturan, dan kedamaian dalam bermasyarakat. (Baca juga : Macam-macam/Jenis-jenis Norma Sosial)

Di dalam masyarakat norma-norma sosial yang ada mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Ada norma sosial yang berdaya ikat lemah, sedang, maupun kuat. Umumnya, anggota masyarakat tidak berani melanggar norma yang berdaya ikat kuat. Untuk dapat membedakan kekuatan mengikat norma-norma tersebut, dikenal empat pengertian norma, yaitu sebagai berikut.

a. Pengertian Norma sebagai Cara (Usage)
Proses interaksi yang terus menerus akan melahirkan pola tertentu yang disebut cara (usage). Cara (usage) adalah suatu bentuk perbuatan tertentu yang dilakukan individu dalam suatu masyarakat tetapi tidak secara terus-menerus. Sanksi yang diberikan hanya berupa celaan. Norma ini mempunyai kekuatan yang lemah dibanding norma lain. Misalnya, bersendawa dengan keras di kelas, berpakaian seragam yang seksi ke sekolah, dan lain-lain.

b. Pengertian Norma sebagai Kebiasaan (Folkways)
Kebiasaan (folkways) adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulangulang dengan cara yang sama. Hal ini juga menunjukkan bahwa orang tersebut menyukai perbuatan itu. Sanksi terhadap pelanggaran norma ini berupa teguran, sindiran, dan dipergunjingkan. Sebagai contoh: berpamitan kepada orang tua ketika keluar rumah, memberikan salam ketika bertemu dengan orang yang dikenal, dan lain-lain.

c. Pengertian Norma sebagai Tata kelakuan (Mores)
Tata kelakuan (mores) adalah sekumpulan perbuatan yang mencerminkan sifat-sifat hidup dari sekelompok manusia yang dilakukan secara sadar guna melaksanakan pengawasan oleh kelompok terhadap anggota-anggotanya. Pelanggaran terhadap folkways (norma kebiasaan) akan dianggap aneh tetapi pelanggaran terhadap mores akan dikucilkan atau dikutuk oleh sebagian besar masyarakat. sebagai contoh: mempekerjakan anak dibawah umur, suka melakukan perampasan/pemalakan, suka bertindak kekerasan, dan lain-lain. Fungsi tata kelakuan (mores) adalah:
1) Memberikan batasan pada perilaku individu dalam masyarakat tertentu.
2) Mendorong seseorang agar sanggup menyesuaikan tindakantindakannya dengan tata kelakukan yang berlaku di dalam kelompoknya.
3) Membentuk solidaritas antara anggota-anggota masyarakat dan sekaligus memberikan perlindungan terhadap keutuhan dan kerja sama antara anggota yang bergaul di dalam masyarakat.

d. Pengertian Norma sebagai Adat istiadat (Customs)
Tata kelakuan yang kekal dan kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat dapat mengikat menjadi adat istiadat (customs). Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya. Pelanggaran terhadap adat istiadat ini akan menerima sanksi yang keras dari anggota lainnya. Misalnya tradisi upacara adat tentang siklus hidup yang berhubungan pada suku-suku tertentu di Indonesia, ketika anak baru lahir, mulai menginjak tanah, mulai berjalan dan seterusnya sampai ia dewasa dan mati maka akan selalu diadakan upacara-upacara tertentu yang bersifat khusus.

Tetapi kadang-kadang pelanggaran terhadap norma adat tidak mempunyai akibat apa-apa misalnya upacara adat perkawinan suku Jawa seperti siraman tidak banyak masyarakat sekarang yang melakukannya karena biaya yang mahal dan telah bercampurnya dengan kebudayaan lain.

2. Fungsi Norma Sosial

Norma sosial bagi manusia penting karena norma sosial berfungsi sebagai pedoman bertingkah laku dalam hidup bermasyarakat. Norma sosial memiliki fungsi sebagai berikut.
a. Fungsi norma sosial sebagai aturan atau pedoman tingkah laku dalam masyarakat.
b. Fungsi norma sosial sebagai alat untuk menertibkan dan menstabilkan kehidupan sosial.
c. Fungsi norma sosial sebagai sistem kontrol sosial dalam masyarakat.

Pengertian Norma Sosial dan Fungsi Norma Sosial

Selan fungsi norma sosial yang telah disebutkan di atas, Selo Soemardjan juga mengemukakan tentang fungsi norma sosial di masyarakat. Menurut Selo Soemardjan, fungsi norma sosial yaitu sebagai Berikut
a. Fungsi norma sosial sebagai pedoman hidup yang berlaku untuk semua warga masyarakat.
b. Fungsi norma sosial pengikat setiap anggota masyarakat sehingga berakibat memberikan sanksi terhadap anggota masyarakat yang melanggarnya.

Dengan adanya norma sosial kita mengerti apa yang boleh kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan. (Baca juga : Peran Nilai dan Norma dalam Masyarakat)

Demikian penjelasan singkat tentang norma sosial yang meliputi pengertian norma sosial dan fungsi norma sosial. Semoga artikel kami yang membahas tentang norma sosial yang meliputi pengertian norma sosial dan fungsi norma sosial bermanfaat untuk para pembaca.

Macam-macam Nilai Sosial dan Fungsi Nilai Sosial

Macam-macam nilai sosial dan fungsi nilai sosial - Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang pengertian nilai sosial, ciri-ciri nilai sosial, dan sumber-sumber nilai sosial. Sekarang kita akan membahas tenatng macam-macam nilai sosial dan fungsi nilai sosial. Berikut penjelasan tentang macam-macam nilai sosial dan fungsi nilai sosial.

Macam-Macam Nilai Sosial

Macam-macam nilai sosial berdasarkan ciri sosialnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu nilai dominan dan nilai yang mendarah daging. Berikut ini merupakan macam-macam nilai sosial :

a. Nilai dominan
Nilai dominan yaitu nilai yang dianggap lebih penting dibandingkan nilai lainnya. Ukuran dominan atau tidaknya suatu nilai didasarkan pada hal-hal berikut ini.

1) Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut
Contohnya: hampir semua orang/masyarakat menginginkan perubahan ke arah perbaikan di segala bidang kehidupan, seperti bidang politik, hukum, ekonomi dan sosial.
2) Lamanya nilai itu digunakan
Contohnya: dari dulu sampai sekarang Kota Solo dan Yogyakarta selalu mengadakan tradisi sekaten untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. yang diadakan di alun-alun keraton dan di sekitar Masjid Agung.
3) Tinggi rendahnya usaha yang memberlakukan nilai tersebut
Contohnya: menunaikan ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan umat Islam yang mampu. Oleh karena itu, umat Islam selalu berusaha sekuat tenaga untuk dapat melaksanakannya. Prestise/kebanggaan orang-orang yang menggunakan nilai dalam masyarakat. Contohnya: memiliki mobil mewah dan keluaran terakhir dapat memberikan kebanggaan/prestise tersendiri.

b. Nilai yang mendarah daging
Nilai yang mendarah daging yaitu nilai yang telah menjadi kepribadian dan kebiasaan. Seseorang melakukannya seringkali tanpa proses berfikir atau pertimbangan lagi. Biasanya nilai tersebut telah tersosialisasi sejak seseorang masih kecil. Jika ia tidak melakukannya maka ia akan merasa malu bahkan merasa sangat bersalah. Contohnya: seorang guru melihat siswanya gagal dalam ujian akhir akan merasa telah gagal mendidiknya

Selain macam-macam nilai sosial yang disebutkan di atas, ada macam-macam nilai sosial lain. Beberapa macam nilai sosial lainnya antara lain sebagai berikut.
a. Nilai yang berhubungan dengan kebendaan (bersifat ekonomi).
Nilai ini diukur dari kedayagunaan usaha manusia untuk mencukupi kebutuhannya.
b. Nilai yang berhubungan dengan kesehatan.
Nilai ini erat hubungannya dengan unsur biologis, manusia selalu berusaha agar sehat jiwa raganya.
c. Nilai yang berhubungan dengan undang-undang atau peraturan negara.
Nilai ini merupakan pedoman bagi setiap warga negara agar mengetahui hak dan kewajibannya.
d. Nilai yang berhubungan dengan pengetahuan.
Nilai pengetahuan mengutamakan dan mencari kebenaran sesuai konsep keilmuannya.
e. Nilai yang berhubungan dengan agama atau kepercayaannya.
Nilai ini bersumber dari ajaran agama yang menjelaskan tentang sikap, perilaku, perbuatan, dan larangan bagi manusia.
f. Nilai yang berhubungan dengan keindahan.
Nilai keindahan merupakan salah satu aspek kebudayaan, misalnya seni musik, seni tari, seni lukis, dan lain-lainnya
(Baca juga : Pengertian Nilai Sosial)

Fungsi Nilai Sosial

Dalam kenyataan sehari-hari, setiap manusia, kelompok, maupun masyarakat selalu dituntut untuk bersikap dan bertingkah laku berdasarkan nilai-nilai dasar (nilai budaya) yang merupakan pandangan hidup atau pedoman hidup yang dipilih secara selektif dari nilai-nilai yang ada. Contoh Pancasila sebagai dasar dan pandangan hidup bangsa merupakan kristalisasi nilai-nilai budaya luhur bangsa Indonesia.

Apabila dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari sangat sulit menentukan nilai budaya yang dianut oleh seseorang, kelompok, atau masyarakat. Hal ini terjadi sebab nilai budaya itu bersifat relatif. Menurut Kluckhohnsemua nilai dalam setiap kebudayaan pada dasarnya mencakup lima masalah pokok, yaitu sebagai berikut.

a. Nilai Mengenai Hakikat Karya Manusia
Misalnya, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa manusia berkarya untuk mendapatkan nafkah, kedudukan, dan kehormatan.
b. Nilai Mengenai Hakikat Hidup Manusia
Misalnya, ada yang memahami bahwa hidup itu buruk, hidup itu baik, dan hidup itu buruk, tetapi manusia wajib berikhtiar supaya hidup itu baik.
c. Nilai Mengenai Hakikat Kedudukan Manusia Dalam Ruang dan Waktu Misalnya, ada yang berorientasi ke masa lalu, masa kini, dan masa depan.
d. Nilai Mengenai Hakikat Hubungan Manusia Dengan Alam
Misalnya, ada yang beranggapan bahwa manusia tunduk kepada alam, menjaga keselarasan dengan alam, atau berhasrat menguasa alam.
e. Nilai Mengenai Hakikat Manusia Dengan Sesamanya
Misalnya, ada yang berorientasi kepada sesama, ada yang berorientasi kepada atasan, dan ada yang mementingkan diri sendiri.

Nilai bagi manusia berfungsi sebagai landasan, alasan, atau motivasi dalam segala tingkah laku dan perbuatannya. Nilai mencerminkan kualitas pilihan tindakan dan pandangan hidup seseorang atau masyarakat. Sebuah interaksi sosial memerlukan pertimbangan nilai baik itu dalam mendapatkan hak maupun dalam menjalankan kewajiban. Dengan demikian, nilai mengandung standar normatif dalam perilaku individu maupun dalam masyarakat.

Adapun fungsi nilai sosial sebagai berikut.
a. Fungsi nilai sosial sebagai alat untuk menentukan harga atau kelas sosial seseorang dalam struktur stratifikasi sosial. Misalnya kelompok ekonomi kaya (upper class), kelompok ekonomi menengah (middle class) dan kelompok masyarakat kelas rendah (lower class).
b. Fungsi nilai sosial untuk mengarahkan masyarakat untuk berfikir dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat (berperilaku pantas).
c. Fungsi nilai sosial untuk memotivasi atau memberi semangat pada manusia untuk mewujudkan dirinya dalam perilaku sesuai dengan yang diharapkan oleh peran-perannya dalam mencapai tujuan.
d. Fungsi nilai sosial sebagai alat solidaritas atau pendorong masyarakat untuk saling bekerja sama untuk mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai sendiri.
e. Fungsi nilai sosial sebagai pengawas, pembatas, pendorong dan penekan individu untuk selalu berbuat baik.

Macam-macam Nilai Sosial dan Fungsi Nilai Sosial

Nilai memegang peranan penting dalam setiap kehidupan sebab nilainilai menjadi orientasi dalam setiap tindakan melalui interaksi sosial. Nilai sosial itulah yang menjadi sumber dinamika masyarakat. Apabila nilai nilai sosial itu lenyap dari masyarakat maka seluruh kekuatan akan hilang.
Fungsi nilai dalam interaksi sosial sebagai berikut.

a. Fungsi nilai sosial dalam mengatur cara-cara berpikir dan bertingkah laku secara ideal. Hal ini terjadi karena anggota masyarakat selalu dapat melihat cara bertindak dan bertingkah laku yang terbaik, dan dapat mempengaruhi dirinya sendiri.
b. Fungsi nilai sosial untuk mengembangkan seperangkat alat yang siap dipakai untuk menetapkan harga sosial dari pribadi/grup. Nilai-nilai ini memungkinkan sistem stratifikasi dalam masyarakat.
c. Fungsi nilai sosial sebagai alat pengawas dengan daya tahan dan daya mengikat tertentu. Mereka mendorong, menuntun, dan kadangkadang menekan manusia untuk berbuat yang tidak baik.
d. Fungsi nilai sosial sebagai alat solidaritas di kalangan anggota grup dan masyarakat.
e. Fungsi nilai sosial sebagai penentu terakhir bagi manusia dalam memenuhi peranan-peranan sosialnya. Mereka menciptakan minat dan memberi semangat pada manusia untuk mewujudkan apa yang diminta dan diharapkan, menuju terciptanya cita-cita.
(Baca  juga : Ciri-ciri, Tolak Ukur, Sumber, dan Jenis Nilai Sosial)

Demikian penjelasan singkat tentang nilai sosial yang meliputi macam-macam nilai sosial dan fungsi nilai sosial. Semoga artikel kami yang membahas tentang nilai sosial yang meliputi macam-macam nilai sosial dan fungsi nilai sosial bermanfaat untuk para pembaca.

Ciri-ciri, Tolak Ukur, Sumber, dan Jenis Nilai Sosial

Ciri-ciri nilai sosial, tolak ukur nilai sosial, sumber nilai sosial, dan jenis nilai sosial akan menjadi bahasan kita dalam artikel ini. Nilai merupakan tujuan yang ingin dicapai. Nilai sosial ditentukan berdasarkan ukuran, patokan, anggapan, dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat dalam suatu lingkungan kebudayaan tertentu tentang apa yang pantas, luhur, dan baik, yang berdaya guna fungsional demi kebaikan hidup bersama.

Ciri-ciri, Tolak Ukur, Sumber, dan Jenis Nilai Sosial

Sosiologi merumuskan nilai berdasarkan data yang ditemukan di dalam masyarakat. Data itu diangkat dari pengalaman orang banyak, baik dari masa lampau maupun masa sekarang. Anggota masyarakat tentu mengalami sendiri atau bersama-sama, daya guna, gotong-royong, musyawarah, jembatan layang, lalu lintas, taman hiburan, dan sebagainya. Mereka menghargainya, baik secara terang-terangan, maupun diam-diam. Penghargaan yang mereka berikan itulah yang disebut nilai sosial.(Baca juga : Pengertian Nilai Sosial)

a. Ciri-ciri Nilai Sosial
Untuk lebih memahami nilai-nilai sosial, maka kalian perlu tahu ciri-ciri nilai sosial yang ada di masyarakat. Beberapa ciri-ciri nilai sosial sebagai berikut.
1. Nilai sosial merupakan konstruksi masyarakat yang tercipta melalui interaksi di antara para anggota masyarakat. Nilai tercipta secara sosial bukan secara biologis atau bawaan sejak lahir.
2. Nilai sosial dipelajari dan bukan bawaan lahir. Proses belajar dan pencapaian nilai-nilai itu sejak kanak-kanak melalui proses sosialisasi keluarga.
3. Nilai sosial ditularkan dari suatu kelompok ke kelompok yang lain, melalui berbagai macam proses sosial. Bila nilai itu berwujud kebudayaan, dapat ditularkan melalui akulturasi, difusi, dan sebagainya.
4. Nilai memuaskan manusia dan mengambil bagian dalam usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial. Nilai yang telah disetujui dan diterima secara sosial menjadi dasar tindakan dan tingkah laku, baik secara pribadi maupun secara kelompok, dan secara keseluruhan. Nilai juga membantu masyarakat agar dapat berfungsi baik. Sistem nilai sosial sangat penting untuk pemeliharaan kemakmuran dan kepuasan sosial bersama.
5. Masing-masing nilai mempunyai efek yang berbeda terhadap orang perorangan dan masyarakat sebagai keseluruhan.
6. Nilai dapat mempengaruhi pengembangan pribadi dalam masyarakat baik positif dan negatif.

b. Tolak Ukur Nilai Sosial
Tolak ukur nilai sosial, yaitu daya guna fungsional suatu nilai dan kesungguhan penghargaan, penerimaan, atau pengakuan yang diberikan oleh seluruh atau sebagian besar masyarakat terhadap nilai sosial tersebut.

Disebut daya guna fungsional, sebab setiap objek dihargai menurut fungsinya dalam struktur dan sistem masyarakat yang bersangkutan. Jadi, penghargaan yang diberikan berbeda-beda, tergantung pada besar kecilnya fungsi. Presiden mendapat nilai sosial lebih tinggi daripada menteri sebab fungsi presiden dinilai lebih tinggi daripada fungsi menteri. Candi Borobudur dan Candi Mendut mendapat nilai sosial yang berbeda. Candi Borobudur dihargai lebih tinggi sebab dinilai mempunyai nilai sosiokultural yang lebih besar daripada Candi Mendut, Borobudur dikenal orang di seluruh dunia.

Dari kehidupan sehari-hari ternyata masyarakat terus berubah. Oleh karena itu, tidak ada tolak ukur nilai sosial yang bersifat kekal yang ada dan dapat dibuat hanyalah tolak ukur nilai sosial sementara. Supaya tolak ukur nilai sosial menjadi bersifat tetap, harus dipenuhi 2 syarat sebagai berikut.
1) Penghargaan itu harus diberikan dan disetujui oleh seluruh atau sebagian besar anggota masyarakat, jadi bukan didasarkan atas keinginan penilaian individu.
2) Tolak ukur itu harus diterima sungguh-sungguh oleh minimal sebagian besar masyarakat

Penghargaan dan kesungguhan penerimaan itu harus diketahui dan diukur berdasarkan kuantitas dan kualitas, pengorbanan yang dilakukan masyarakat. Untuk mempertahankan kelestarian tolak ukur itu, juga harus ada sanksi yang dikenakan apabila ada yang melanggar kesepakatan bersama. Di samping itu manusia juga dapat mengetahui intensitas penerimaan itu dari luapan emosi masyarakat, apabila ada tindakan yang akan menghancurkan.
(Baca juga : Macam-macam Nilai Sosial dan Fungsi Nilai Sosial)

c. Sumber-sumber Nilai Sosial
Sumber-sember nilai sosial berasal dari daya guna fungsional yang diakui dan diberikan masyarakat kepada segala kreasi manusia yang disebut kebudayaan. Sumber nilai sosial itu terletak di luar orang atau barang yang dihargai itu. Sumber nilai sosial terletak di dalam masyarakat itu sendiri, sejauh masyarakat mengetahui dan mengalami kegunaan atau jasa-jasa orang dan barang tersebut. Sumber nilai sosial yang terletak di luar orang atau benda yang bernilai itu disebut sumber ekstrinsik.

Selain sumber nilai sosial yang ekstrinsik, ada pula sumber nilai sosial intrinsik. Pada masyarakat sebagian terdapat golongan manusia yang sejak lahir belum pernah menunjukkan jasa bagi masyarakat. Mereka para penyandang cacat tubuh, mental, dan yatim piatu. Mereka disebut orang-orang yang tidak mempunyai daya guna fungsional bagi masyarakat, tetapi ternyata ada anggota masyarakat mau menyisihkan waktu dan uang bagi mereka, mengasuh, dan merawat mereka. Kesediaan sejumlah orang untuk mengasuh mereka sama sekali tidak didasarkan pada daya guna fungsional yang praktis tidak mereka miliki, melainkan pada nilai harkat dan martabat manusia. Dapat dikatakan bahwa nilai intrinsik dari nilai sosial adalah harkat dan martabat manusia itu sendiri.

 Ciri-ciri, Tolak Ukur, Sumber, dan Jenis Nilai Sosial

Mutu dan nilai manusia diakui lebih tinggi dari pada makhluk-makhluk lain karena manusia merupakan makhluk yang berpribadi. Manusia mempunyai hak-hak azasi yang tidak dapat dilanggar, tetapi harus dihormati dan dijunjung tinggi. Manusia berhak dilindungi undang-undang, bila manusia terlantar dan menderita, ia mempunyai hak untuk mendapat pertolongan dari sesama manusia. Di dalam masyarakat, nasional maupun internasional, banyak ditemukan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia, seperti diskriminasi, perbudakan, dan perang.

Demikian penjelasan singkat tentang nilai sosial yang meliputi ciri-ciri nilai sosial, tolak ukur nilai sosial, sumber nilai sosial, dan jenis nilai sosial. Semoga artikel kami yang membahas tentang nilai sosial yang meliputi ciri-ciri nilai sosial, tolak ukur nilai sosial, sumber nilai sosial, dan jenis nilai sosial bermanfaat untuk para pembaca.

Pengertian Nilai Sosial Lengkap

Apa itu pengertian nilai sosial? Anda tentu pernah mendengar orang berkata “Orang itu baik, barang itu berharga, barang itu bernilai”. Sesuatu dikatakan berharga, bernilai atau baik jika hal itu berguna bagi orang lain. Jika kita akan membahas mengenai nilai, kita awali dengan pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu kondisi itu bisa terjadi. Misalnya, mengapa orang rela mati hanya untuk membela sukunya atau memperjuangkan tanah airnya? Jawabannya merujuk pada hakikat keinginan luhur yang dicita-citakan oleh orang atau masyarakat tersebut. Nilai sosial dalam sosiologi bersifat abstrak karena nilai tidak dapat dikenali dengan pancaindra. Nilai hanya dapat ditangkap melalui benda atau tingkah laku yang mengandung nilai itu sendiri. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang pengertian nilai sosial.

Pengertian Nilai Sosial

Nilai (value) mengacu pada pertimbangan terhadap suatu tindakan, benda, cara untuk mengambil keputusan apakah sesuatu yang bernilai itu benar (mempunyai nilai kebenaran), indah (nilai keindahan/estetik), dan religius (nilai ketuhanan).

Pengertian nilai sosial adalah penghargaan yang diberikan masyarakat terhadap sesuatu yang dianggap baik, luhur, pantas dan mempunyai daya guna fungsional bagi masyarakat. Kegiatan menolong orang lain dianggap pantas dan berguna, maka kegiatan tersebut diterima sebagai sesuatu yang bernilai atau berharga. (Baca juga : Ciri-ciri, Tolak Ukur, Sumber, dan Jenis Nilai Sosial)

Pengertian nilai sosial dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain pengertian nilai sosial menurut Prof. Dr. Notonegoro, pengertian nilai sosial menurut Robert M. Z. Lawang, pengertian nilai sosial menurut Woods, pengertian nilai sosial menurut C. Kluckhohn, dan pengertian nilai sosial menurut Walter G. Everett. Berikut ini pendapat beberapa ahli sosiologi tentang pengertian nilai sosial.

a. Pengertian nilai sosial menurut Prof. Dr. Notonegoro
Prof. Dr. Notonegoro, membagi nilai menjadi tiga macam, yaitu nilai material, nilai vital,dan nilai kerohanian. Penjelasan nilai menurut Prof. Dr. Notonegoro yaitu sebagai berikut.
1)  Nilai material
Nilai material adalah segala sesuatu yang berguna bagi jasmani/unsur fisik manusia.
2)  Nilai vital
Nilai vital adalah segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan aktivitas.
3)  Nilai kerohanian
Nilai kerohanian adalah segala sesuatu yang berguna bagi batin (rohani) manusia. Nilai kerohanian manusia dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
a)  nilai kebenaran adalah nilai yang bersumber pada unsur akal manusia;
b)  nilai keindahan adalah nilai yang bersumber pada perasaan manusia (nilai estetika);
c)  nilai moral (kebaikan) adalah nilai yang bersumber pada unsur kehendak atau kemauan (karsa dan etika);
d)  nilai religius adalah nilai ketuhanan yang tertinggi, yang sifatnya mutlak dan abadi.

b.  Pengertian nilai sosial menurut Robert M. Z. Lawang
Menurut M. Z. Lawang, pengertian nilai sosial adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, pantas, berharga dan memengaruhi perilaku sosial dari orang yang memiliki nilai itu.

c. Pengertian nilai sosial menurut Woods
Menurut Woods pengertian nilai sosial merupakan petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam  kehidupan sehari-hari.

d.  Pengertian nilai sosial menurut C. Kluckhohn
Menurut Kluckhohn, semua nilai kebudayaan pada dasarnya mencakup:
1)  nilai mengenai hakikat hidup manusia;
2)  nilai mengenai hakikat karya manusia;
3)  nilai mengenai hakikat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu;
4)  nilai mengenai hakikat hubungan manusia dengan alam;
5)  nilai mengenai hakikat hubungan manusia dengan sesamanya.

e. Pengertian nilai sosial menurut Walter G. Everett
Menurut Walter G. Everett, nilai sosial dibagi menjadi lima bagian sebagai berikut.
1)  Nilai-nilai ekonomi (economic values)
Nilai-nilai ekonomi (economic values) yaitu nilai-nilai yang berhubungan dengan sistem ekonomi. Hal ini berarti nilai-nilai tersebut mengikuti harga pasar.
2)  Nilai-nilai rekreasi (recreation values)
Nilai-nilai rekreasi (recreation values) yaitu nilai-nilai permainan pada waktu senggang, sehingga memberikan sumbangan untuk menyejahterakan kehidupan maupun memberikan kesegaran jasmani dan rohani.
3)  Nilai-nilai perserikatan (association values)
Nilai-nilai perserikatan (association values) yaitu nilai-nilai yang meliputi berbagai bentuk perserikatan manusia dan persahabatan kehidupan keluarga, sampai dengan tingkat internasional.
4)  Nilai-nilai kejasmanian (body values)
Nilai-nilai kejasmanian (body values) yaitu nilai-nilai yang berhubungan dengan kondisi jasmani seseorang.
5)  Nilai-nilai watak (character values)
Nilai-nilai watak (character values) nilai yang meliputi semua tantangan, kesalahan pribadi dan sosial termasuk keadilan, kesediaan menolong, kesukaan pada kebenaran, dan kesediaan mengontrol diri.
(Baca juga : Macam-macam Nilai Sosial dan Fungsi Nilai Sosial)

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dirumuskan bahwa pengertian nilai sosial adalah petunjuk secara sosial terhadap objek-objek, baik bersifat material maupun nonmaterial. Dengan susunan ini nilai harga diri masing-masing yang diukur dan ditempatkan dalam suatu struktur berdasarkan ranking yang ada dalam masyarakat tertentu sifatnya abstrak. Apabila sikap dan perasaan tentang nilai sosial diikat bersama dalam suatu sistem, disebut sebagai sistem nilai sosial.

Wujud nilai sosial dalam kehidupan itu merupakan sesuatu yang berharga sebab dapat membedakan yang benar dan yang salah, yang indah dan yang tidak indah, dan yang baik dan yang buruk. Wujud nilai sosial dalam masyarakat berupa penghargaan, hukuman, pujian, dan sebagainya. Sumber dari nilai tersebut adalah hal-hal yang berhubungan dalam masyarakat.

Pada prinsipnya nilai dari seseorang dapat dipelajari sejak masa kanak-kanak melalui proses sosiologi, dan dapat dipelajari melalui pengalaman hidup sehari-hari. Pengalaman hidup ini ada yang tertanam dalam diri anggota masyarakat, tetapi ada pula yang bersifat sementara.

 Pengertian Nilai Sosial

Pengalaman ini sering bertukar, kalau ada pengalaman baru yang dapat memberikan kepuasan yang lebih besar mereka menyusun asumsi bahwa apa yang benar dan penting itu merupakan sesuatu yang abstrak, dan sering tidak disadari. Pengalaman itu dapat ditularkan oleh orang seorang atau grup lain dalam masyarakat dengan tingkat intensitas yang beraneka ragam. Penularan ini merupakan faktor penting dalam pembentukan pribadi seseorang di masyarakat.

Demikian penjelasan singkat tentang pengertian nilai sosial dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain pengertian nilai sosial menurut Prof. Dr. Notonegoro, pengertian nilai sosial menurut Robert M. Z. Lawang, pengertian nilai sosial menurut Woods, pengertian nilai sosial menurut C. Kluckhohn, dan pengertian nilai sosial menurut Walter G. Everett. Semoga artikel kami yang membahas tentang pengertian nilai sosial dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain pengertian nilai sosial menurut Prof. Dr. Notonegoro, pengertian nilai sosial menurut Robert M. Z. Lawang, pengertian nilai sosial menurut Woods, pengertian nilai sosial menurut C. Kluckhohn, dan pengertian nilai sosial menurut Walter G. Everett bermanfaat untuk para pembaca.

Sunday, April 24

Pendekatan, Fungsi, Tujuan, Metode Penelitian, dan Perspektif Sosiologi

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang pendekatan sosiologi, fungsi sosiologi, tujuan sosiologi, metode  penelitian sosiologi, dan perspektif sosiologi. Berikut ini penjelasan tentang pendekatan sosiologi, fungsi sosiologi, tujuan sosiologi, metode  penelitian sosiologi, dan perspektif sosiologi. (Baca artikel juga : Pengertian sosiologi menurut para ahli)

1. Pendekatan Sosiologi

Dilihat dari segi pendekatan sosiologi menurut Drs. Kuswantoada dua ciri khas pendekatan sosiologi, yaitu pendekatan komparatif dan pendekatan holistik. Berikut penjelasan tentang pendekatan sosiologi.

a. Pendekatan Komparatif
Pendekatan komparatif yaitu pendekatan sosiologi yang melihat manusia dengan pandangan yang luas, tidak hanya masyarakat yang terisolasi atau hanya dalam tradisi sosial tertentu saja. Ciri-ciri pendekatan sosiologi komparatif, antara lain:
1)  berusaha mengenali persamaan-persamaan dan perbedaanperbedaan sampai kepada  generalisasi;
2)  berusaha memberikan uraian keterangan ilmiah yang dapat diterima;
3)  membanding-bandingkan antarmasyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain, termasuk tradisi satu dengan tradisi yang lain dalam seluruh ruang dan waktu; dan
4)  memberikan uraian tentang variasi bentuk-bentuk sosial dan mencatat asal-usul serta perkembangan manusia dengan adat-istiadatnya, mencakup dimensi waktu.

b. Pendekatan Holistik
Pendekatan holistik yaitu suatu pendekatan sosiologi yang berdasarkan pendapat bahwa masyarakat itu dapat diselidiki sebagai keseluruhan, sebagai unit-unit yang bersifat fungsional, atau sebagai sistem-sistem tertentu. Sosiologi mencoba mencakup keseluruhan ruang lingkup dari segala sesuatu yang berhubungan dengan kemanusiaan sampai kepada generalisasi-generalisasi.
Secara khusus pendekatan holistik dalam sosiologi mempunyai dua aspek primer sebagai berikut.
1)  Mencoba meninjau kebudayaan manusia sebagai jaringan tunggal yang saling berkaitan, sebagai kesatuan yang teratur, dan sebagai keseluruhan yang berfungsi. Di dalamnya semua bagian saling berhubungan sebagai komponen suatu sistem. Suatu kejadian yang terjadi pada komponen yang satu akan berpengaruh pada struktur dan kerja secara keseluruhan.
2)  Mempelajari ciri-ciri biologis dan ciri-ciri sosial budaya dari spesiesspesies. Evolusi fisik manusia dan evolusi budaya tidak dipandang tanpa berkait-kaitan untuk mendapatkan pemahaman yang tepat.

2. Fungsi dan Tujuan Mempelajari Sosiologi

Mempelajari sosiologi mempunyai beberapa fungsi. Ada empat fungsi mempelajari sosiologi, yaitu sebagai berikut.
a. Dengan mempelajari sosiologi, kita akan dapat melihat dengan lebih jelas siapa diri kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota kelompok atau masyarakat.
b. Sosiologi membantu kita untuk mampu mengkaji tempat kita di masyarakat, serta dapat melihat budaya lain yang belum kita ketahui.
c. Dengan bantuan sosiologi, kita akan semakin memahami pula norma, tradisi, keyakinan, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lain, dan memahami perbedaan-perbedaan yang ada tanpa hal itu menjadi alasan untuk timbulnya konflik di antara anggota masyarakat yang berbeda.
d. Kita sebagai generasi penerus, mempelajari sosiologi membuat kita lebih tanggap, kritis, dan rasional menghadapi gejala-gejala sosial masyarakat yang makin kompleks dewasa ini, serta mampu mengambil sikap dan tindakan yang tepat dan akurat terhadap setiap situasi sosial yang kita hadapi sehari-hari. (Baca juga : Sejarah Lahirnya Ilmu Sosiologi)

3. Metode Penelitian Sosiologi

Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa pada dasarnya terdapat dua jenis metode atau teknik yang dipergunakan dalam sosiologi, yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Berikut penjelasan tentang metode penelitian sosiologi.
a. Metode Kualitatif
Mengutamakan hasil pengamatan yang sukar diukur dengan angka-angka atau ukuran-ukuran yang matematis, meskipun kejadiankejadian itu nyata ada  di masyarakat.
Yang termasuk metode kualitatif sebagai berikut
1) Metode komparatif
Metode komparatif yaitu metode pengamatan dengan membandingkan bermacam-macam masyarakat dan bidang-bidangnya untuk memperoleh perbedaan dan persamaan sebagai petunjuk tentang perilaku masyarakat pertanian Indonesia pada masa lalu dan masa yang akan datang.
2) Metode historis
Metode historis yaitu metode pengamatan yang menganalisis peristiwa-peristiwa dalam masa silam untuk merumuskan prinsipprinsip umum (secara makro).
3) Metode studi kasus
Metode studi kasus yaitu metode pengamatan tentang suatu keadaan, kelompok, masyarakat setempat, lembaga-lembaga maupun individu-individu.

b. Metode Kuantitatif
Mengutamakan bahan-bahan keterangan dengan angka-angka sehingga gejala-gejala yang diteliti dapat diukur dengan menggunakan skala, indeks, tabel, dan formula. Termasuk dalam metode ini adalah metode statistik di mana gejala-gejala masyarakat dianalisis.

Di samping metode-metode penelitian sosiologi di atas, masih ada beberapa metode penelitian sosiologi lain sebagai berikut.
a. Metode empiris
Metode empiris yaitu suatu metode yang mengutamakan keadaankeadaan nyata di  dalam masyarakat.
b. Metode rasional
Metode rasional yaitu suatu metode yang mengutamakan penalaran dan logika akal sehat untuk mencapai pengertian tentang masalah kemasyarakatan.
c. Metode deduktif
Metode deduktif yaitu metode yang dimulai dari hal-hal yang berlaku umum untuk menarik kesimpulan yang khusus.
d. Metode induktif
Metode induktif yaitu metode yang mempelajari suatu gejala khusus untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum.
e. Metode fungsional
Metode fungsional yaitu metode yang dipergunakan untuk menilai kegunaan lembaga-lembaga sosial masyarakat dan struktur sosial masyarakat.

4. Perspektif Sosiologi dan Hubungan Sosiologi Dengan Ilmu Lain

Untuk mempelajari sesuatu di masyarakat sebaiknya dimulai dengan membuat asumsi tentang sifat-sifat objek yang akan dipelajari. Asumsi ini disebut perspektifatau paradigma, yaitu suatu cara memandang atau cara memahami gejala tertentu menurut keyakinan kita. Di dalam sosiologi terdapat beberapa perspektif, yaitu sebagai berikut.

Pendekatan, Fungsi, Tujuan, Metode  Penelitian, Dan Perspektif Sosiologi

a. Perspektif Interaksionis
Memusatkan perhatian terhadap interaksi antara individu dengan kelompok, terutama dengan menggunakan simbol-simbol, antara lain tanda, isyarat, dan kata-kata baik lisan maupun tulisan.
b. Perspektif Evolusionis
Paradigma utama dalam sosiologi yang memusatkan perhatian pada pola perubahan dan perkembangan yang muncul dalam masyarakat yang berbeda untuk mengetahui urutan umum yang ada.
c. Perspektif Fungsionalis
Melihat masyarakat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerja sama secara terorganisir dan memiliki seperangkat aturan dan nilai kelompok atau lembaga yang melaksanakan tugas tertentu secara terus-menerus sesuai dengan fungsinya yang dianut oleh sebagian besar anggotanya. Masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang stabil dengan kecenderungan ke arah keseimbangan, yaitu untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang.
d. Perspektif Konflik
Memandang adanya pertentangan antarkelas dan eksploitasi kelas di dalam masyarakat sebagai penggerak utama kekuatan-kekuatan dalam sejarah.

Demikian penjelasan singkat tentang pendekatan sosiologi, fungsi sosiologi, tujuan sosiologi, metode  penelitian sosiologi, dan perspektif sosiologi. Semoga artikel kami yang membahas tentang pendekatan sosiologi, fungsi sosiologi, tujuan sosiologi, metode  penelitian sosiologi, dan perspektif sosiologi bermanfaat untuk para pembaca.

Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Lain

Secara umum, sosiologi termasuk salah satu ilmu sosial yang mempelajari manusia, khususnya yang menyangkut perilaku manusia. Hubungan sosiologi dengan ilmu lain akan kita pelajari di sini. Dilihat dari penerapannya sosiologi dapat digolongkan menjadi ilmu pengetahuan murni sekaligus ilmu pengetahuan terapan.

1. Sosiologi disebut sebagai ilmu pengetahuan murni karena sosiologi bertujuan untuk menggambarkan dan membentuk pengetahuan secara abstrak guna mempertimbangkan mutunya.
2. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan terapan karena sosiologi bertujuan mencari cara-cara penggunaan pengetahuan ilmiah untuk memecahkan masalah praktis.

Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Lain

Berikut ini penjelasan hubungan sosiologi dengan ilmu lain yang meliputi hubungan sosiologi dengan ilmu antropologi, hubungan sosiologi dengan ilmu sejarah, hubungan sosiologi dengan ilmu politik, dan hubungan sosiologi dengan ilmu ekonomi. (Baca juga : Pengertian Sosiologi)

1. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Antropologi
Objek kajian sosiologi adalah masyarakat. Masyarakat selalu berkebudayaan. Masyarakat dan kebudayaan tidak sama, tetapi berhubungan sangat erat. Masyarakat menjadi kajian pokok sosiologi dan kebudayaan menjadi kajian pokok antropologi.

Hubungan sosiologi dengan antropologi jika diibaratkan sosiologi merupakan tanah untuk tumbuhnya kebudayaan. Kebudayaan selalu bercorak sesuai dengan masyarakat. Masyarakat berhubungan dengan susunan serta proses hubungan antara manusia dan golongan. Adapun kebudayaan berhubungan dengan isi/corak dari hubungan antara manusia dan golongan. Oleh karena itu baik masyarakat atau kebudayaan sangat penting bagi sosiologi dan antropologi. Hanya saja, penekanan keduanya berbeda.

2. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Sejarah
Salah satu metode yang digunakan dalam sosiologi adalah metode historis. Dalam hal ini para sosiolog selalu memberikan persoalan sejarah kepada ahli sejarah sehingga ilmu sejarah dipengaruhi oleh perkembangan sosiologi. Oleh karena itu, hubungan sosiologi dan ilmu sejarah mempunyai pengaruh timbal balik. Ilmu sosiologi dan ilmu sejarah mempelajari kejadian dan hubungan yang dialami masyarakat/manusia. Sejarah mempelajari peristiwa masa silam, sejak manusia mengenal peradaban. Peristiwa-peristiwa itu kemudian dihubungkan satu sama lain sehingga diperoleh gambaran menyeluruh pada masa lampau serta mencari sebab terjadinya atau memperkuat tersebut.

Selain itu, sosiologi juga memerhatikan masa silam, tetapi terbatas pada peristiwa yang merupakan proses kemasyarakatan dan timbul dari hubungan antarmanusia dalam situasi dan kondisi yang berbeda.

3. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Politik
Ilmu politik mempelajari satu sisi kehidupan masyarakat yang menyangkut soal kekuasaan meliputi upaya memperoleh kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, dan bagaimana menghambat penggunaan kekuasaan.

Istilah politik dalam hal ini berbeda dengan istilah politik yang digunakan sehari-hari, yaitu politik diartikan sebagai pembinaan kekuasaan negara yang bukan merupakan ilmu pengetahuan tetapi sebagai seni (art). Sosiologi memusatkan perhatiannya pada sisi masyarakat yang bersifat umum dan berusaha mendapatkan pola-pola umum darinya.

4. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Ekonomi
Ilmu ekonomi mempelajari usaha-usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan yang beraneka ragam dengan keterbatasan barang dan jasa yang tersedia. Misalnya ilmu ekonomi berusaha memecahkan persoalan yang timbul karenatidak seimbangnya  persediaan pangan dengan jumlah penduduk, serta mempelajari usaha menaikkan produksi guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Adapun sosiologi mempelajari unsur-unsur kemasyarakatan secara keseluruhan. Sosiologi mempelajari bagaimana manusia berinteraksi, bekerja sama, bersaing dalam upaya-upaya pemenuhan kebutuhan. (Baca juga : Tokoh Perintis Sosiologi)

 Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Lain

Demikian penjelasan singkat tentang hubungan sosiologi dengan ilmu lain yang meliputi hubungan sosiologi dengan ilmu antropologi, hubungan sosiologi dengan ilmu sejarah, hubungan sosiologi dengan ilmu politik, dan hubungan sosiologi dengan ilmu ekonomi. Semoga artikel kami yang membahas tentang hubungan sosiologi dengan ilmu lain yang meliputi hubungan sosiologi dengan ilmu antropologi, hubungan sosiologi dengan ilmu sejarah, hubungan sosiologi dengan ilmu politik, dan hubungan sosiologi dengan ilmu ekonomi bermanfaat untuk para pembaca.

Objek Sosiologi, Orientasi Sosiologi, Ciri-ciri Sosiologi, dan Hakikat Sosiologi

Objek sosiologi, orientasi sosiologi, ciri-ciri sosiologi, dan hakikat sosiologi adalah materi selanjutnya yang akan kita pelajari tentang sosiologi. Berikut penjelasan tentang objek sosiologi, orientasi sosiologi, ciri-ciri sosiologi, dan hakikat sosiologi.

1. Objek Sosiologi

Objek Sosiologi ada dua macam, yaitu objek material dan objek formal. Berikut penjelasan tentang objek sosiologi.
a. Objek Material
Objek material sosiologi adalah kehidupan sosial, gejala-gejala, dan proses hubungan antarmanusia yang mempengaruhi kesatuan hidup manusia itu sendiri.
b. Objek Formal
Objek formal sosiologi, yaitu ditekankan pada manusia sebagai makhluk sosial atau masyarakat. Dengan demikian, objek formal sosiologi adalah hubungan antarmanusia serta proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.
(Baca juga: Pengertian Sosiologi Menurut Para Ahli)

2. Orientasi Sosiologi

Ada banyak orientasi sosiologi di masyarakat. Orientasi sosiologi di masyarakat meliputi hal-hal sebagai berikut.
a. Keluarga adalah soko gurudari kelompok masyarakat.
b. Kelangsungan hidup masyarakat memerlukan sejumlah ketentuan untuk mengatur tingkah laku manusia.
c. Kehidupan manusia banyak dipengaruhi oleh lembaga-lembaga sosial yang ada di sekelilingnya, dan harus mampu menyesuaikan diri dengan lembaga-lembaga tersebut.
d. Individu, keluarga, dan masyarakat mempunyai kecenderungan untuk mengklasifikasikan dirinya secara sosial menurut keturunan, tingkat kemakmuran, pendidikan, jabatan, keanggotaan kelompok, dan status sosial lainnya.
e. Adanya komunikasi dengan kebudayaan dan masyarakat lain akan menimbulkan perubahan-perubahan nilai budaya.
f. Kerja sama dan saling menghormati merupakan tuntutan kemanusiaan.
g. Realisasi kehidupan pribadi dibentuk melalui hubungannya dengan yang lain.
h. Perbuatan-perbuatan yang dapat diterima oleh suatu masyarakat dapat merupakan perbuatan yang tabu bagi masyarakat yang lain.
i. Migrasi atau perpindahan bangsa-bangsa menimbulkan percampuran budaya antarindividu dan antarkelompok.
j. Lingkungan sekitar baik fisik dan sosial akan mempengaruhi kehidupan manusia, dan manusia pun akan mempengaruhi lingkungannya.


3. Ciri-Ciri Sosiologi

Sosiologi merupakan salah satu cabang dari kelompok-kelompok ilmu sosial yang mempunyai sifat dan ciri-ciri tersendiri sebagai berikut.
a. Empiris, artinya ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif.
b. Teoretis, artinya suatu ilmu pengetahuan yang selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil pengamatan. Abstraksi tersebut merupakan kesimpulan logis yang bertujuan menjelaskan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori.
c. Komulatif, artinya disusun atas dasar teori-teori yang sudah ada atau memperbaiki, memperluas, serta memperkuat teori-teori yang lama.
b. No etis, artinya pembahasan suatu masalah tidak mempersoalkan buruk atau baik masalah tersebut, tetapi lebih bertujuan untuk menjelaskan masalah tersebut secara mendalam.

2. Hakikat Sosiologi

Hakikat sosiologi sebagai ilmu pengetahuan antara lain sebagai berikut.
a. Sosiologi adalah ilmu sosial, hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa sosiologi mempelajari atau berhubungan dengan gejala-gejala kemasyarakatan.
b. Dalam sosiologi objek yang dipelajari dibatasi pada apa yang terjadi sekarang dan bukan apa yang seharusnya terjadi pada saat ini. Oleh karena itu, sosiologi disebut pula ilmu pengetahuan normatif.
c. Dilihat dari segi penerapannya, sosiologi dapat digolongkan ke dalam ilmu pengetahuan murni (pure science) dan dapat pula menjadi ilmu terapan (applied science).
d. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan pengetahuan yang konkret. Artinya, yang menjadi perhatian adalah bentuk dan pola-pola peristiwa dalam masyarakat secara menyeluruh, bukan hanya peristiwa itu sendiri.
e. Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum manusia dan masyarakatnya. Sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi prinsip dan hukum-hukum umum dari interaksi manusia serta sifat, bentuk, isi dan struktur masyarakat.
f. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum, bukan khusus, artinya sosiologi mempelajari gejala-gejala umum yang ada pada interaksi antarmanusia.  (Baca juga : Tokoh Perintis Sosiologi)

Objek Sosiologi, Orientasi Sosiologi, Ciri-ciri Sosiologi, dan Hakikat Sosiologi

Demikian penjelasan singkat tentang sosiologi yang meliputi objek sosiologi, orientasi sosiologi, ciri-ciri sosiologi, dan hakikat sosiologi. Semoga artikel kami yang membahas tentang sosiologi yeng melipiti objek sosiologi, orientasi sosiologi, ciri-ciri sosiologi, dan hakikat sosiologi bermanfaat untuk para pembaca.

5 Tokoh Perintis Sosiologi - Lengkap

Setelah kita mengetahui tentang pengertian sosiologi, tentu kita perlu tahu juga tokoh-tokoh yang membidangi lahirnya ilmu sosioloogi. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang tokoh sosiologi. Ada banyak tokoh yang membidangi lahirnya ilmu sosiologi. Tokoh sosiologi antara lain Auguste Comte, Karl Marx, Emile Durkheim, Herbert Spencer, dan Max Weber. Tokoh perintis sosiologi tersebut akan kita bahas satu persatu. Berikut ini penjelasan tentang tokoh perintis sosiologi. (Baca juga : Pengertian Sosiologi Menurut 12 Ahli)

1. Tokoh Sosiologi Auguste Comte (1798 – 1857)

Tokoh sosiologi yang bernama Auguste Comte mendapat julukan sebagai bapak Sosiologi. Salah satu sumbangan pemikirannya terhadap sosiologi adalah tentang hukum kemajuan kebudayaan masyarakat yang dibagi menjadi tiga zaman yaitu: pertama, zaman teologis adalah zaman di mana masyarakatnya mempunyai kepercayaan magis, percaya pada roh, jimat serta agama, dunia bergerak menuju alam baka, menuju kepemujaan terhadap nenek moyang, menuju ke sebuah dunia di mana orang mati mengatur orang hidup. Kedua, zaman metafisika yaitu masa masyarakat di mana pemikiran manusia masih terbelenggu oleh konsep filosofis yang abstrak dan universal. Ketiga, zaman positivis yaitu masa di mana segala penjelasan gejala sosial maupun alam dilakukan dengan mengacu pada deskripsi ilmiah (hukum-hukum ilmiah).

Karena memperkenalkan metode positivis maka Comte dianggap sebagai perintis positivisme. Ciri-ciri metode positivis adalah objek yang dikaji berupa fakta, bermanfaat, dan mengarah pada kepastian serta kecermatan. Sumbangan pemikiran yang juga penting adalah pemikiran tentang agama baru yaitu agama humanitas yang mendasarkan pada kemanusiaan. Menurut Comte, intelektualitas yang dibangun manusia harus berdasarkan pada sebuah moralitas.

Bagi Comte, kesejahteraan, kebahagiaan dan kemajuan sosial tergantung pada perkembangan perasaan altruistik serta pelaksanaan tugas meningkatkan kemanusiaan sehingga masyarakat yang tertib, maju, dan modern dapat terwujud. Tetapi agama humanitas ini belum sempat dikhotbahkan oleh Comte sebagai agama baru bagi masyarakat dunia karena pada tahun 1957, Comte meninggal dunia.

Beberapa sumbangan penting Auguste Comte terhadap ilmu sosiologi antara lain sebagai berikut.
a. Auguste Comte mengatakan bahwa ilmu sosiologi harus didasarkan pada pengamatan, perbandingan, eksperimen, dan metode historis secara sistematik. Objek yang dikaji pun harus berupa fakta artinya bukan harapan atau prediksi. Jadi, harus objektif dan harus pula bermanfaat dan mengarah kepada kepastian dan kecermatan.

b. Auguste Comte mengatakan pula bahwa sosiologi merupakan ratu ilmu-ilmu sosial, dan menempati peringkat teratas dalam hierarki ilmu-ilmu sosial.

c. Auguste Comte membagi sosiologi ke dalam dua bagian besar, yaitu statika sosial yang mewakili stabilitas atau kemantapan, dan dinamika sosial yang mewakili perubahan.

d. Auguste Comte menyumbangkan pemikiran yang mendorong perkembangan sosiologi dalam bukunya Positive Philosophy yang dikenal dengan hukum kemajuan manusia atau hukum tiga jenjang.

Dalam menjelaskan gejala alam dan gejala sosial, menurut Comte, manusia akan melewati tiga jenjang berikut.
1) Jenjang I (jenjang teologi): segala sesuatu dijelaskan dengan mengacu kepada hal-hal yang bersifat adikodrati.
2) Jenjang II (jenjang metafisika): pada jenjang ini manusia memahami sesuatu dengan mengacu kepada kekuatan-kekuatan metafisik atau hal-hal yang abstrak.
3) Jenjang III (jenjang positif): gejala alam dan sosial dijelaskan dengan mengacu kepada deskripsi ilmiah (jenjang ilmiah).

2. Tokoh Sosiologi Karl Marx (1818 – 1883)

Karl Marx merupakan tokoh perintis sosiologi yang lahir di Jerman pada tahun 1818 dari kalangan keluarga rohaniawan Yahudi. Pada tahun 1814 mengakhiri studinya di Universitas Berlin. Karena pergaulannya dengan orang-orang yang dianggap radikal terpaksa mengurungkan niat untuk menjadi pengajar di Universitas dan menerjunkan diri ke kancah politik.

Sumbangan utama Marx bagi sosiologi terletak pada teorinya mengenai kelas sosial yang tertuang dalam tulisannya yang berjudul The Communist Manifest yang ditulis bersama Friedrich Engels. Marx berpandangan bahwa sejarah masyarakat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas. Menurut Marx perkembangan pembagian kerja dalam kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda, yaitu kelas borjuis (majikan) terdiri dari orang-orang yang menguasai alat produksi dan kelas proletar (buruh) yang tidak memiliki alat produksi dan modal sehingga menjadi kelas yang dieksploitasi oleh kelas borjuis (majikan).

Menurut Marx, suatu saat kelas proletar akan menyadari kepentingan bersama dengan melakukan pemberontakan dan menciptakan masyarakat tanpa kelas. Meskipun ramalan Marx tidak pernah terwujud tetapi pemikiran tentang stratifikasi dan konflik sosial tetap berpengaruh terhadap pemikiran perkembangan sosiologi khususnya terkait dengan kapitalisme.


3. Tokoh Sosiologi Emile Durkheim (1858 – 1917)

Merupakan seorang ilmuwan yang sangat produktif. Sebagai tokoh dalam sosiologi, Emoile Durkheim mempunyai karya utama, antara lain Rules of The Sociological Method, The Division of Labour in Society, Suicide, Moral Education, dan The Elementary Forms of The Religious Life. Durkheim melihat bahwa setiap masyarakat manusia memerlukan solidaritas dengan membedakan dua tipe utama solidaritas yaitu solidaritas mekanis yang merupakan tipe solidaritas yang didasarkan pada persamaan dan biasanya ditemui pada masyarakat sederhana dan solidaritas organis yang ditandai dengan adanya saling ketergantungan antarindividu atau kelompok lain, masyarakat tidak lagi memenuhi semua kebutuhannya sendiri.

Lambat laun pembagian kerja dalam masyarakat (munculnya diferensiasi, spesialisasi) semakin berkembang sehingga solidaritas mekanis berubah menjadi solidaritas organis. Pada masyarakat dengan solidaritas organis masing-masing anggota masyarakat tidak lagi dapat memenuhi semua kebutuhannya sendiri melainkan ditandai oleh saling ketergantungan yang besar dengan orang atau kelompok lain. Solidaritas organis merupakan suatu sistem terpadu yang terdiri atas bagian-bagian yang saling bergantung seperti bagian-bagian suatu organisme biologis. Berbeda dengan solidaritas mekanis yang didasarkan pada hati nurani kolektif maka solidaritas organis didasarkan pada akal dan hukum.

 Tokoh Perintis Sosiologi
Dalam pengembangan selanjutnya, Durkheim menggunakan lima metode untuk mempelajari sosiologi, yaitu:
a. Sosiologi harus bersifat ilmiah, di mana fenomena-fenomena sosial harus dipelajari secara objektif dan menunjukkan sifat kausalitasnya.
b. Sosiologi harus memperlihatkan karakteristik sendiri yang berbeda dengan ilmu-ilmu lain.
c. Menjelaskan kenormalan patologi.
d. Menjelaskan masalah sosial secara ‘sosial’ pula.
e. Mempergunakan metode komparatif secara sistematis. Metode tersebut telah diterapkan dalam sebuah penelitian tentang gejala bunuh diri yang melanda masyarakat Eropa saat itu dengan judul “Suicide”.

4. Tokoh Sosiologi Max Weber (1864 – 1920)

Max Weber lahir di Erfurt pada tahun 1864. Menyelesaikan studi di bidang hukum, ekonomi, sejarah, filsafat, teologi dan mengajar disiplin ilmu-ilmu tersebut di berbagai universitas di Jerman. Serta terus menerus menyebarluaskan terbentuknya ilmu sosiologi yang saat itu masih berusia muda.
Max Weber sebagai tokoh sosiologi mempunyai banyak karya. Karya penting dari Weber berjudul The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism yang berisi hubungan antara Etika Protestan dalam hal ini Sekte Kalvinisme dengan munculnya perkembangan kapitalisme. Menurut Weber, ajaran Kalvinisme mengharuskan umatnya untuk bekerja keras dengan harapan dapat menuntun mereka ke surga dengan syarat bahwa keuntungan dari hasil kerja keras tidak boleh untuk berfoya-foya atau bentuk konsumsi lainnya. Hidup sederhana dan melarang segala bentuk kemewahan menjadikan para penganut agama ini semakin makmur karena keuntungan yang dihasilkan ditanamkan kembali menjadi modal. Dari sinilah menurut Weber kapitalisme di Eropa berkembang pesat.
(Baca artikel lengkap lain tentang : Lahirnya Ilmu Sosiologi)

5. Herbert Spencer (1820 - 1903)

Herbert Spencer, orang Inggris, pada tahun 1876 mengetengahkan sebuah teori tentang ”evolusi sosial”, yang hingga kini masih dianut walaupun di sana-sini ada perubahan. la menerapkan secara analog teori Darwin mengenai ”teori evolusi” terhadap masyarakat manusia. la yakin bahwa masyarakat mengalami evolusi dari masyarakat primitif ke masyarakat industri.

Spencer membagi tiga aspek dalam proses evolusi, yaitu diferensiasi struktural, spesialisasi fungsional, dan integrasi yang meningkat. Lalu Spencer membagi stuktur-struktur, bagian-bagian, atau sistem-sistem yang timbul dalam evolusi masyarakat menjadi tiga.
a. Sistem pengatur, berfungsi untuk memelihara hubungan-hubungan dengan masyarakat lainnya dan mengatur hubungan-hubungan yang terjadi di antara anggotanya.
b. Sistem penopang, berfungsi untuk mencukupi keperluan-keperluan bagi ketahanan hidup anggota masyarakat.
c. Sistem pembagi, berfungsi untuk mengangkut barang-barang dari suatu sistem ke sistem lainnya.

Tahap-tahap dalam proses evolusi sosial dengan tipe-tipe masyarakat, dibagi oleh Spencer menjadi tiga bagian sebagai berikut.
a. Tipe Masyarakat Primitif
Pada masyarakat primitif dikatakan bahwa belum ada diferensiasi dan spesialisasi fungsional. Pembagian kerja masih sedikit. Hubungan kekuasaan belum jelas terlihat. Masyarakat dengan tipe ini sangat tergantung kepada lingkungan. Kerja sama sudah terjadi dengan spontan dan didukung oleh hubungan kekeluargaan.

b. Tipe Masyarakat Militan
Pada masyarakat militan ini, heterogenitas sudah mulai meningkat karena bertambahnya jumlah penduduk atau karena penaklukan. Hal yang penting ialah koordinasi tugas-tugas yang dikhususkan, dilakukan dengan paksaan. Cara ini memerlukan sistem-sistem atau bagian-bagian yang dapat mengatur dirinya sendiri. Kerja sama yang tidak sukarela ini dijamin keberlangsungannya oleh seorang pemimpin, kemudian oleh negara secara nasional. Pengendalian oleh negara terbatas pada produksi, distribusi, dan pada bidang-bidang kehidupan.

c. Tipe Masyarakat Industri
Pada masyarakat industri bercirikan suatu tingkat kompleksitas yang sangat tinggi, yang tidak lagi dikendalikan oleh kekuasaan negara. Sebagai penggantinya masyarakat mengendalikan diri sendiri, seperti hak menentukan diri sendiri, kerja sama sukarela, dan keseimbangan berbagai kepentingan. Kondisi ini mengakibatkan individualisasi yang ditandai dengan berkurangnya campur tangan pemerintah daerah.

Demikian penjelasan singkat tentang tokoh perintis sosiologi yaitu Auguste Comte, Karl Marx, Emile Durkheim, Herbert Spencer, dan Max Weber. Semoga artikel kami yang membahas tentang tokoh perintis sosiologi bermanfaat untuk para pembaca.

Sejarah Lahirnya Ilmu Sosiologi lengkap

Bagi kalian yang pernah duduk di bangku SMA pasti pernah mendengar cabang ilmu yang bernama sosiologi. Akan tetapi, apakah kalian pernah mengetahui bagaimana ilmu sosiologi lahir? Lahirnya ilmu sosiologi akan kita bahas pada artikel kita kali ini.

Lahirnya Ilmu Sosiologi

Pernahkah kalian membayangkan hidup dalam situasi dan kondisi masyarakat yang penuh dengan konflik? Apa yang akan kalian lakukan mengingat pada waktu itu tidak ada sesuatu dukungan apapun tentang sebuah konsep masyarakat. Hal ini memicu munculnya suatu ilmu yang dinamakan sosiologi. Pemikiran sosiologis berkembang manakala masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal-hal yang selama ini dianggap sebagai krisis sosial, maka mulailah orang berpikir tentang sosiologis.

Pemikiran terhadap konsep masyarakat yang lambat laun melahirkan ilmu yang dinamakan sosiologi itu pertama kali terjadi di Etopia. Adapun beberpa faktor pendorong lahirnya ilmu sosiologi adalah karena semakin meningkatnya perhatian terhadap masyarakat, serta adanya perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat, khususnya masyarakat Eropa. Pada saat itu ada tiga peristiwa atau perubahan besar yang akhirnya menjadi pemicu lahirnya masyarakat baru. Lahirnya ilmu sosiologi yaitu pada saat transisi menuju masyarakat baru tersebut, yakni pada abad ke-19. Adapun ketiga peristiwa besar yang mengisi lahirnya ilmu sosiologi itu antara lain:

1. Revolusi Politik (Revolusi Prancis)
Perubahan masyarakat yang terjadi selama revolusi politik sangat luar biasa baik bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya. Adanya semangat liberalisme muncul di segala bidang seperti penerapan dalam hukum dan undang-undang. Pembagian masyarakat perlahan-lahan terhapus dan semua diberikan hak yang sama dalam hukum.

2. Revolusi Ekonomi (Revolusi Industri)
Abad 18 merupakan saat terjadinya revolusi industri. Berkembangnya kapitalisme perdagangan, mekanisasi proses dalam pabrik, terciptanya unitunit produksi yang luas, terbentuknya kelas buruh, dan terjadinya urbanisasi merupakan manifestasi dari hiruk-pikuknya perekonomian. Struktur masyarakat mengalami perubahan dengan munculnya kelas buruh dan kelas majikan  dengan kelas majikan yang menguasai perekonomian semakin melemahkan kelas buruh sehingga muncul kekuatan-kekuatan buruh yang bersatu membentuk perserikatan.
(Baca juga : Pengertian Sosiologi Menurut 12 Ahli)

Menurut Aguste Comte perubahan-perubahan tersebut berdampak negatif, yatiu terjadinya konflik antar kelas dalam masyarakat. Comte melihat, setelah pecahnya revolusi Prancis masyarakat prancis dilanda konflik antar kelas. Konflik-konflik tersebut terjadi karena masyarakat tidak tahu bagaimana mengatasi perubahan akibat revolusi dan hukum-hukum apa saja yang dapat di pakai untuk mengatur tatanan sosial masyarakat.

Maka Comte menganjurkan supaya semua penelitian mengenai masyarakat ditingkatkan sebagai sebuah ilmu yang berdiri sendiri. Comte membayangkan suatu penemuan hukum-hukum yang dapat mengatur gejala-gejala sosial. Tetapi Auguste Comte belum dapat mengembangkan hukum-hukum sosial itu sebagai suatu ilmu tersendiri. Comte hanya memberi istilah untuk ilmu tersebut dengan sebutan sosiologi (Ilmu sosiologi).

Istilah sosiologi muncul pertama kali pada tahun 1839 pada keterangan sebuah paragraf dalam pelajaran ke-47 Cours de la Philosophie (Kuliah Filsafat) karya Auguste Comte. Tetapi sebelumnya Comte sempat menyebut ilmu pengetahuan ini dengan sebutan fisika sosial tetapi karena istilah ini sudah dipakai oleh Adolphe Quetelet dalam studi ilmu barunya yaitu tentang statistik kependudukan maka dengan berat hati Comte harus melepaskan nama fisika sosial dan merumuskan istilah baru yaitu sosiologi yang berasal dari bahasa Yunani yaitu  socius (masyarakat) dan logos (ilmu). Dengan harapan bahwa tujuan sosiologi adalah untuk menemukan hukum-hukum masyarakat dan menerapkan pengetahuan itu demi kepentingan pemerintahan kota yang baik.

Lahirnya ilmu sosiologi berada di tempat yang berbeda yaitu Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat yang kemudian melahirkan mazhab-mazhab yang menunjukkan adanya beberapa kemajuan intelektual yang secara radikal bertentangan. Mazhab Prancis ditandai dengan personalitas Emile Durkheim melalui pendekatan yang objektif dengan menggunakan model ilmu pengetahuan alam. Mazhab Jerman, membedakan antara ilmu pengetahuan alam dengan ilmu pengetahuan kejiwaan dalam penjelasan, serta cakupannya. Sedangkan di Amerika terkenal dengan Mazhab Chicago bertujuan untuk mengintervensi dan membahas permasalahan yang konkrit secara empiris dengan membangun laboratorium, melakukan penelitian sampai mempublikasikan buku-buku dan majalah.


 Lahirnya Ilmu Sosiologi

Dari tempat-tempat lahirnya ilmu Sosiologi tersebut memunculkan banyak tokoh perintis sosiologi dan mulai menggeluti ilmu pengetahuan ini dan melakukan banyak penelitian tentang sebuah masyarakat dan permasalahan sosialnya. Mereka mencoba mencari sebuah pemikiran yang murni sosiologi karena selama kurun waktu tersebut sosiologi masih banyak terpengaruh dari ilmu filsafat dan psikologi yang telah terlebih dahulu ada. (Baca juga : Tokoh Perintis Sosiologi)

Demikian penjelasan singkat tentang lahirnya ilmu sosiologi. Semoga artikel kami yang membahas tentang lahirnya ilmu sosiologi  bermanfaat untuk para pembaca.

2 Konsep Dasar Sosiologi yang Harus Diketahui

Kalian telah mempelajari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan dengan melihat metode-metode untuk mempelajari ilmu tersebut. Nah, di sini kalian akan diperkenalkan konsep dasar dari sosiologi sehingga kalian akan dapat memahami tentang realitas-realitas sosial yang ada. Konsep – konsep dasar sosiologi dapat dilihat dari dua aspek, yaitu masyarakat sebagai sistem sosial, dan kebudayaan sebagai hasil karya manusia. Untuk lebih mengetahui tentang konsep-konsep dasar sosiologi, berikut penjelasan tentang konsep dasar sosiologi.

a. Masyarakat Sebagai Sistem Sosial

Dari definisi secara umum, jelas terlihat bahwa sosiologi mempelajari masyarakat secara ilmiah dengan objek kajiannya adalah tentang kehidupan kelompok manusia beserta hasil interaksi sosial dari kehidupan kelompok manusia. Secara sederhana objek sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antarmanusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.

Apa yang kalian bayangkan tentang masyarakat? Sejak kecil kita telah hidup di dalam keluarga, mengadakan hubungan dengan orang tua, saudara, ataupun pembantu rumah tangga bila ada. Apakah keluarga merupakan masyarakat?

Dalam bahasa Inggris masyarakat dikenal dengan istilah society yang berasal dari kata Latin socius yang berarti kawan. Sedangkan masyarakat berasal dari bahasa Arab yaitu syarakat yang berarti ikut serta/ berpartisipasi. Untuk lebih jelasnya mengenai definisi masyarakat dapat diambil dari beberapa tokoh, antara lain:

1. Selo Soemardjan memberikan definisi masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
2. Ralp Linton mendefinisikan masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskannya dengan jelas.
3. Mac Iver dan Page menyebutkan masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang kerja sama antara berbaga kelompok dan penggolongan, dan pengawasan tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia.
4. Sedangkan menurut Gillin dan Gillin, masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

Dari beberapa definisi di atas, kalian dapat melihat bahwa masyarakat terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut.
1. Manusia yang hidup bersama.
2. Berinteraksi dalam waktu yang cukup lama.
3. Adanya kesadaran anggotanya sebagai satu kesatuan.
4. Suatu sistem kehidupan bersama yang menciptakan kebudayaan.
(Baca juga : Pengertian Sosiologi Menurut 12 Ahli)

Coba kalian bandingkan unsur-unsur masyarakat tersebut dengan pemikiran dari Marion Levy bahwa ada empat kriteria yang harus dipenuhi agar sebuah kelompok dapat disebut sebagai masyarakat:
1. Kemampuan bertahan yang melebihi masa hidup seorang anggotanya.
2. Perekrutan seluruh atau sebagian anggotanya melalui reproduksi atau kelahiran.
3. Adanya sistem tindakan utama yang bersifat swasembada.
4. Kesetiaan pada suatu sistem tindakan utama secara bersama-sama.

Selain itu seorang tokoh sosiologi modern, juga mencoba merumuskan kriteria bagi adanya masyarakat, yaitu suatu sistem sosial yang swasembada (self-subsistem), melebihi masa hidup individu normal, merekrut anggota secara reproduksi biologis serta melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya.

Ada juga tokoh sosiologi modern, Edwar Shils yang menekankan kriteria masyarakat pada aspek pemenuhan kebutuhan sendiri yang dibaginya dalam tiga komponen yaitu pengaturan, reproduksi sendiri, dan penciptaan diri.  Dari berbagai rumusan masyarakat tersebut dapat kalian artikan bahwa masyarakat secara sosiologis mempunyai makna khusus yang berbeda dengan penggunaan kata sehari-hari karena tidak semua kumpulan manusia di suatu tempat disebut masyarakat.

Masyarakat atau Society adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, hidup bersama-sama cukup lama, mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama, dan melakukan sebagian besar kegiatannya dalam kelompok tersebut.

Lantas mengapa masyarakat disebut sebagai sistem sosial? Sistem merupakan bagian-bagian yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Sedangkan sistem sosial itu terdiri dari tindakan-tindakan sosial yang dilakukan individu-individu sebagai anggota masyarakat yang saling berinteraksi satu sama yang lain sehingga terwujud keharmonisan dalam masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat disebut sebagai sistem sosial karena tidak hanya terdiri dari kumpulan individu saja tetapi individui-ndividu yang saling  mengadakan interaksi sosial. (Baca juga : Tokoh Perintis Sosiologi)


b. Kebudayaan sebagai Hasil Karya Manusia

Seperti kita tahu bahwa kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari kebudayaan. Kemajuan kehidupan manusia dilihat dari kebudayaannya. Setiap manusia mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda yang disebabkan oleh banyak faktor. Apa yang dilihat oleh orang dari suatu masyarakat tertentu mungkin akan tampak aneh bagi masyarakat lainnya. Misalnya, cara pakaian orang-orang Amerika atau Eropa tampak berbeda dengan cara pakaian orang-orang Asia. Coba kalian amati gaya bicara masyarakat Batak terdengar keras dan kasar berbeda dengan gaya bicara masyarakat Jawa khususnya Solo dan Yogyakarta yang lembut dan pelan? Bagaimana komentar kalian melihat hal tersebut? Atau ketika melihat masyarakat di Irian Jaya, yang masih menggunakan koteka saja?

Kata kebudayaan berasal dari kata bahasa sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata buddhi yang berarti budi atau akal, sehingga kebudayaan secara sederhana diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal. Dalam Bahasa Inggris kebudayaan disebut sebagai  culture yang berasal dari kata Latin colere artinya mengolah tanah atau bertani. Dari pengertian colere tersebut maka culture dapat diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah manusia. Beberapa ahli memberikan pengertian kebudayaan sebagai berikut.


 Konsep-konsep Dasar Sosiologi

1. E.B. Tylor
Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan kemampuankemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

2. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.

3. Koentjaraningrat
Koentjaraningrat menyatakan kebudayaan terbagi dalam tiga wujud, yaitu:
a. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya biasa disebut sistem budaya. Ini merupakan wujud ideal dari kebudayaan yang mempunyai ciri-ciri abstrak, tak dapat diraba, atau difoto. Misalnya, sebuah hasil pemikiran yang tertuang dalam buku atau artikel maka yang lokasi kebudayaannya ideal ada pada buku atau artikel tersebut.
b. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, disebut sistem sosial. Terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lain menurut waktu dan pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan.
c. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Ini jelas sekali karena merupakan kebudayaan fisik, dapat terlihat dan diraba, seperti Candi Borobudur.

Seperti dalam konsep masyarakat, menurut C. Kluckhon ada tujuh unsur kebudayaan yang biasa disebut cultural universals, meliputi:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia.
Unsur budaya ini terdiri dari alat-alat produksi, senjata, wadah, alat untuk menyalakan api, pakaian, perumahan.
2. Mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi.
Misalnya peternakan, pertanian, industri, nelayan, sistem konsumsi, sistem distribusi, sistem produksi.
3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan).
4. Bahasa baik lisan maupun tertulis.
5. Kesenian.
Kesenian berupa gagasan-gagasan, ciptaan, pikiran wujudnya dapat berupa benda-benda yang indah dna candi, kain tenun. Contoh: Seni rupa, seni suara, seni gerak.
6. Sistem pengetahuan.
Meliputi teknologi dan kepandaian dalam hal tertentu misalnya, pada masyarakat nelayan, ada pengetahuan tentang musim perpindahan ikan dan sebagainya.
7. Religi (sistem kepercayaan).
Sistem relegi berwujud sebagai sistem keyakinan dan gagasangagasan tentang tuhan, dewa-dewa, ruh-ruh halus dan surga juga upacara atau benda-benda suci serta religius.

Setiap kebudayaan yang diciptakan oleh manusia memiliki sifat hakikat yang sama, yaitu:
1. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia.
2. Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
3. Kebudayaan diperlukan manusia kemudian diwujudkan dalam tingkah lakunya.
4. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajibankewajiban, tindakan- tindakan yang diterima dan ditolak, tindakantindakan yang dilarang, dan tindakan-tindakan yang diizinkan.

Demikian penjelasan singkat tentang konsep – konsep dasar sosiologi yang dapat dilihat dari dua aspek, yaitu masyarakat sebagai sistem sosial, dan kebudayaan sebagai hasil karya manusia. Semoga artikel kami yang membahas tentang konsep-konsep dasar sosiologi menurut para ahli bermanfaat untuk para pembaca.

Pengertian Sosiologi Menurut 12 Ahli

Pengertian sosiologi akan jadi bahasan kita dalam artikel kali ini. Apa itu sosiologi? Sosiologi merupakan salah satu ilmu sosial yang berumur paling muda di antara ilmu sosial lainnya yang dikenalkan oleh Auguste Comte. Coba kalian bandingkan tahun lahirnya sosiologi dengan ilmu sosial lainnya seperti ekonomi, sejarah, geografi dan lain-lain. Benarkah sosiologi sebagai salah satu ilmu sosial yang paling muda umurnya?

Pengertian Sosiologi menurut 12 Ahli

Satu pertanyaan yang menarik adalah apa yang sebenarnya menjadi pokok pembahasan dalam sosiologi? Sebelumnya kalian telah melihat bahwa ilmu sosiologi muncul ketika terjadinya kekacauan-kekacauan dalam masyarakat dunia sehingga melahirkan tokoh-tokoh sosiologi. Maka pada bagian ini akan dijelaskan tentang pengertian sosiologi dari sudut pandang tokoh sosiologi klasik mulai Auguste Comte sampai tokoh sosiologi modern George Simmel. (Baca juga : Lahirnya Ilmu Sosiologi)

a. Pengertian Sosiologi Menurut Auguste Comte
Suatu pandangan menarik dari Comte adalah bahwa sosiologi menurutnya merupakan ratu ilmu-ilmu sosial. Dalam bayangannya mengenai hierarki ilmu, sosiologi menempati kedudukan teratas di atas astronomi, fisika, ilmu kimia, dan biologi. Menurut Comte, sosiologi adalah studi tentang Statika Sosial (social statics) dan dinamika sosial (social dynamics). Dalam hal ini statika sosial mewakili stabilitas, sedangkan dinamika mewakili perubahan. Dengan memakai analogi biologi, Comte menyatakan hubungan antara statika sosial dengan dinamika sosial dapat disamakan dengan hubungan antara anatomi dan fisiologi dan menganggap masyarakat seperti organisme hidup, artinya masyarakat dapat dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung satu sama lain. Akan tetapi pada akhirnya Comte tidak benar-benar mengembangkan pemikiran ini.

b. Pengertian Sosiologi Menurut Emile Durkheim
Menurut Emile Durkheim sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan mampu melakukan pemaksaan dari luar terhadap individu. Adapun ciri fakta sosial adalah:
1. Bersifat eksternal terhadap individu, artinya fakta sosial berada di luar individu.
2. Bersifat memaksa individu.
3. Bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam satu masyarakat.

c. Pengertian Sosiologi Menurut Max Weber
Sosiologi bagi Weber adalah ilmu pengetahuan tentang tindakan sosial. Masyarakat adalah produk dari tindakan individu-individu yang berbuat dalam kerangka fungsi nilai, motif, dan kalkulasi rasional. Secara jelas, sosiologi bagi Weber adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dengan cara melakukan interpretasi atas tindakan sosial. Bertitik tolak dari konsep dasar tentang tindakan sosial, Weber menyebutkan ada lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian ilmu sosiologi:
1. Tindakan manusia yang menurut si aktor mengandung makna yang subjektif.
2. Tindakan nyata dan yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subjektif.
3. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam.
4. Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu.
5. Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu.

d. Pengertian Sosiologi Menurut George Simmel
George Simmel mengemukakan bahwa sosiologi sebagai ilmu yang khusus dan independen yang mencakup permasalahan konsepsi masyarakat dan individu. Bentuk dan isi dari suatu interaksi timbal balik secara psikologis maupun sosiologis berkarakter abstrak yang mendasarkan pada realitas. Sosiologi sebagai suatu metode ilmiah yang mana kemampuannya dapat dipakai oleh ilmu-ilmu lain.

e. Pengertian Sosiologi Menurut Wright Mills
Satu pernyataan yang penting dari Mills adalah bahwa untuk dapat memahami apa yang terjadi di dunia maupun apa yang ada dalam diri sendiri manusia memerlukan apa yang dinamakan dengan sociological imagination(khayalan sosiologis). Pemikiran ini bertujuan untuk memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Untuk melakukannya diperlukan dua peralatan pokok yaitu personal troubles of millieu(gangguan pada lingkungan pergaulan bersifat pribadi) dan public issues of social structure(isu-isu umum tentang struktur sosial).
(Baca artikel : Tokoh-Tokoh Perintis Sosiologi)

f. Pengertian Sosiologi Menurut Peter Berger
Suatu konsep yang digeluti oleh Berger adalah ‘masalah sosiologis’. Suatu masalah sosiologis tidak sama dengan suatu masalah sosial karena masalah sosiologis menyangkut pemahaman terhadap interaksi sosial. Seorang ahli sosiologi dapat mempelajari pengangguran, kemiskinan, pelacuran (sering disebut masalah sosial), tetapi dapat pula mempelajari mengapa suatu kelompok masyarakat lebih berhasil meraih sukses daripada yang lain atau tentang kemajuan lainnya.

g. Pengertian Sosiologi Menurut Alex Inkeles
Inkeles menyebutkan bahwa sosiologi mempunyai tiga pokok bahasan yang khas yaitu hubungan sosial, institusi, dan masyarakat. Hubungan sosial merupakan ‘molekul’ kehidupan sosial. Hubungan sosial merupakan satuan analisis khas sosiologis. Sistem kompleks hubungan sosial itulah yang akan membentuk institusi. Menurut Inkeles, sosiologi tidak hanya membahas bagian-bagian tertentu masyarakat melainkan dapat pula mempelajari masyarakat itu sendiri sebagai satuan analisis.

h. Pengertian Sosiologi Menurut Pitirim Sorokin
Menurut Pitirim Sorokin, pengertian ilmu sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang :
1. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejalagejala sosial (misalnya, antara gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik, dan lain sebagainya).
2. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala-gejala nonsosial (misalnya, gejala geografis, biologis, dan sebagainya).
3. Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial.

Pengertian Sosiologi

i. Pengertian Sosiologi Menurut Roucek dan Warren
Pengertian sosiologi menurut Roucek dan Warren adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.

j. Pengertian Sosiologi Menurut William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff
Pengertian sosiologi menurut William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya adalah organisasi sosial.

k. Pengertian Sosiologi Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
Pengertian sosiologi menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan prosesproses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.

l. Pengertian Sosiologi Menurut J.A.A. Van Doorn dan C.J. Lammers
Pengertian sosiologi menurut J.A.A. Van Doorn dan C.J. Lammers adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

Demikian penjelasan singkat tentang pengertian sosiologi menurut para ahli. Semoga artikel kami yang membahas tentang pengertian sosiologi menurut para ahli bermanfaat untuk para pembaca.