Jumat, April 29

Satu Hal yang Hanya Ada di Alquran yang Tidak Dimiliki Kitab Lain

Satu Hal yang Hanya Ada di Al quran yang Tidak Dimiliki Kitab Lain

Satu Hal yang Hanya Ada di Al quran yang Tidak Dimiliki Kitab Lain

Siapa yang tidak mengenal  Al quran?  Al quran adalah kitab suci umat islam umat islam di seluruh dunia. Kitab yang menjadi pedoman bagi umat Islam di seluruh dunia. Masyarakat di dunia ini sifatnya heterogen, yaitu mempunyai keyakinan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Kitab Al quran adalah kitab suci bagi masyarakat yang menyakini agama Islam.

Kitab suci Al quran adalah kitab yang unik. Banyak perbedaan yang dimiliki kitab suci Al quran dengan kitab lain yang ada di dunia ini. Sebagai umat islam, saya mencoba untuk menulis salah satu hal yang menjadi pembeda antara kitab suci Al quran dengan kitab yang lain. Hal yang ingin saya bahas di sini adalah perbedaan kitab suci Alquan dengan kitab lain dari sisi fisik.

Hanya kitab suci Alquan yang penyajian fisiknya atau proses pecetakannya menampilkan bahasa aslinya. Walaupun ada ratusan terjemahan kitab suci Al quran di dunia ini, kita masih bisa menemukan tulisan atau bahasa aslinya dengan mudah. Kitab suci Al quran 1000 tahun yang lalu dengan yang sekarang tetap masih sama, walaupun bahasa terjemahan mengalami banyak perubahan. Mulai bahasa terjemahan “tjahaya” menjadi cahaya, bahasa asli kitab suci Al quran masih tetap sama.

Ketika orang indonesia dan orang afrika membaca kitab suci alquan, ketika dipertemukan akan mengalami persamaan. Dimanapun orang berasal, ketika membaca kitab suci Al quran, pasti meghasilkan suara yang padu.

Hal ini berbeda dengan kitab suci lain selain kitab suci Al quran. Ketika kitab suci yang lain di baca dari berbagai negara tidak akan menghasilkan suara yang padu. Al quran menyatukan seluruh umat islam diseluruh umat islam di dunia. Memang tidak sepadan, tetapi “Bhinneka Tunggal Ika” nya umat islam adalah kitab suci Al quran.

Demikian artikel kami yang membahas tentang satu hal yang hanya ada di Al quran yang tidak dimiliki kitab lain. Semoga artikel kami tentang satu hal yang hanya ada di Al quran yang tidak dimiliki kitab lain bermanfaat. Kami mohon maaf jika ada kesalahan, semoga pembaca berkenan memberi masukan jika ada kesalahan dalam tulisan kami.
Selasa, April 26

Apa Saja Peran Nilai dan Norma dalam Masyarakat ?

Peran Nilai dan Norma dalam Masyarakat

Peran Nilai dan Norma dalam Masyarakat

Peran nilai dan norma dalam masyarakat merupakan materi yang berisi antara perpaduan nilai dan norma sosial. Peran nilai dan norma dalam masyarakat sangat penting karena memberikan stabilitas kehidupan. Coba bayangkan jika suatu daerah tidak terdapat suatu nilai dan norma sosial yang berlaku, pastilah daerah tersebut akan mengalami kekacauan dan pola kehidupannya akan mengalami penyimpangan. Misalnya, di daerah Papua di mana daerah tersebut belum mampu melembagakan suatu norma, akibatnya masyarakat di sana tidak tahu bagaimana cara berpakaian yang sopan di depan umum, bagaimana cara mereka mengikat tali perkawinan yang suci sesuai agama, dan bagaimana mereka bersosialisasi dengan damai. Jadi peran nilai dan norma sosial dalam masyarakat sangat penting.

(Baca artikel lengkap lain tentang : Pengertian Nilai Sosial)

Peran nilai dan norma sosial dalam masyarakat secara umum adalah untuk mengatur pola kehidupan masyarakat agar pola perilaku yang ditunjukkan seimbang, tidak merugikan, serta tidak menimbulkan ketidakadilan. Dalam masyarakat yang modern saat ini memang sangat dibutuhkan peran dari nilai dan norma sosial. Nilai dan norma sosial digunakan agar masyarakat modern tidak berlaku sekehendak hatinya. Secara lebih rinci peran nilai dan norma dalam masyarakat adalah :

1. Peran nilai dan norma sebagai petunjuk perilaku yang benar

Peran nilai dan norma dalam masyarakat menjadi rel dari perilaku yang harus dibuat oleh setiap masyarakat. Perilaku yang kompleks dalam masyarakat akan menimbulkan variasi-variasi dalam pencapaian kebutuhan hidup. Akibatnya masyarakat akan berlaku sekehendak hatinya tanpa memandang kepentingan-kepentingan orang lain, sehingga terjadi ketidakseimbangan yang menimbulkan benturan-benturan antar individu dalam masyarakat menimbulkan konflik sosial. Untuk mengantisipasi hal ini, maka masyarakat membentuk  nilai dan norma agar dijadikan petunjuk dalam perilaku yang sudah disepakati oleh anggota masyarakat.

2. Peran nilai dan norma sebagai pengatur sistem dalam masyarakat

Setiap masyarakat pasti memiliki sistem dalam kehidupannya untuk memenuhi kebutuhan pokok. Sistem ini dibuat untuk memudahkan masyarakat agar kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi secara normal. Karena sistem adalah serangkaian perilaku yang terstruktur dan sistematis, maka dibentuklah tatanan nilai dan norma. Hal ini dilakukan agar masyarakat terus berjalan pada sistem yang sudah disepakati, sehingga keseimbangan hidup dalam masyarakat tercipta.

3. Peran nilai dan norma sebagai pelindung bagi mereka yang lemah

Masyarakat pada umumnya terdiri dari beberapa komponen yang saling melengkapi. Secara alamiah komponen tersebut tersusun sedemikian rupa yang melembaga pada suatu kehidupan masyarakat. Sehingga variasi dari pola perilaku mengikuti komponen yan terbentuk dan terdiri dari peran dan status dari masyarakat. Karena setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda maka komponen masyarakat tersebut membentuk struktur sosial yang vertikal, akibatnya ada segolongan individu yang menjadi pemimpin maupun menjadi penjahat. Untuk melindungi ketidaknyamanan dari pemimpin yang sewenang-wenang maupun dari penjahat yang merugikan dan meresahkan, maka masyarakat secara kolektif membentuk nilai dan norma.

4. Peran nilai dan norma sebagai Khasanah Budaya Masyarakat

Dalam konteks ini nilai dan norma yang ada di depan masyarakat berperan sebagai etos budaya masyarakat yang memberikan ciri khusus bagi masyarakat tersebut. Bentuk kebudayaan dalam masyarakat memiliki keragaman tersendiri. Keragaman tersebut berasal dari nilai dan norma yang ada dalam masyarakat tersebut.

Demikian penjelasan singkat tentang peran nilai dan norma dalam masyarakat yang terdiri dari peran nilai dan norma sebagai petunjuk perilaku yang benar, peran nilai dan norma sebagai pengatur sistem dalam masyarakat, peran nilai dan norma sebagai pelindung bagi mereka yang lemah, peran nilai dan norma sebagai khasanah budaya masyarakat. Semoga artikel kami yang membahas tentang peran nilai dan norma dalam masyarakat yang terdiri dari peran nilai dan norma sebagai petunjuk perilaku yang benar, peran nilai dan norma sebagai pengatur sistem dalam masyarakat, peran nilai dan norma sebagai pelindung bagi mereka yang lemah, peran nilai dan norma sebagai khasanah budaya masyarakat bermanfaat untuk para pembaca.

Macam-macam atau Jenis-jenis Norma Sosial

Macam-macam atau Jenis-jenis Norma Sosial

Macam-macam atau Jenis-jenis Norma Sosial

Macam-macam atau jenis norma sosial. Dilihat dari resmi tidaknya norma tersebut dan ditilik dari kekuatan sanksinya, macam-macam atau jenis norma sosial dibedakan dua macam, yaitu norma tidak resmi dan norma resmi, dan norma utama. Adapun norma utama di bedakan menjadi beberapa macam, yaitu norma kelaziman, norma hukum, norma kesusilaan, norma agama, norma kesopanan, dan mode. Berikut penjelasan tentang macam-macam norma sosial atau jenis-jenis norma sosial.

(Baca artikel lengkap lain tentang : Pengertian Norma Sosial dan Fungsi Norma Sosial)

a. Norma Tidak Resmi dan Norma Resmi

Macam-macam atau jenis-jenis norma sosial yang pertama yaitu norma sosial dari sudut pandang norma tidak resmi dan norma resmi. Berikut penjelasan tentang norma sosial resmi dan norma sosial tidak resmi.
1) Norma Tidak Resmi (Nonformal)
Norma tidak resmi ialah patokan yang dirumuskan secara tidak jelas di masyarakat dan pelaksanaannya tidak diwajibkan bagi warga yang bersangkutan. Norma tidak resmi tumbuh dari kebiasaan bertindak yang seragam dan diterima oleh masyarakat. Meskipun tidak diwajibkan, tetapi semua anggota sadar, bahwa patokan tidak resmi itu harus ditaati dan mempunyai kekuatan memaksa yang lebih besar daripada patokan resmi. Patokan norma tidak resmi dijumpai dalam kelompok primer seperti keluarga, kumpulan tidak resmi, dan paguyuban.

2) Norma Resmi (Formal)
Norma resmi ialah patokan yang dirumuskan dan diwajibkan dengan jelas dan tegas oleh yang berwenang kepada semua warga masyarakat. Keseluruhan norma resmi ini merupakan suatu tubuh hukum yang dimiliki masyarakat modern. Jalan untuk memperkenalkan kaidah formal/peraturan-peraturan yang telah dibuat haru disebarluaskan. Pembuatan peraturan tersebut tidak semata-mata didasarkan pada kebiasaan yang sudah ada, tetapi lebih sesuai dengan prinsip susila (etika) dan prinsip ”baik dan buruk”. Dari sumber moral itu dibuatlah perundang-undangan, keputusan, peraturan, dan sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan rasional yang masak mengenai tujuan yang hendak dicapai dan faktor-faktor yang dapat menghalangi keberhasilannya

Dalam masyarakat yang sudah maju, sebagian patokan (norma) resmi dijabarkan dalam suatu kompleks peraturan hukum. Masyarakat adat diubah menjadi masyarakat hukum. Kebutuhan akan peraturan hukum tidak dapat dihindari oleh negara, lembaga kepartaian, ekonomi, lalu lintas, dan sebagainya. Seluruh hukum positif/tertulis diperlukan demi terciptanya keseragaman bertindak bagi semua anggota masyarakat modern.

(Baca artikel lengkap lain tentang : Peran Nilai dan Norma dalam Masyarakat)

b. Norma-norma Utama

Berdasarkan daya mengikat dan sanksi yang tersedia bagi para pelanggarnya, norma sosial utama dibagi atas enam golongan, yaitu norma kelaziman, norma hukum, norma kesusilaan, norma agama, norma kesopanan, dan mode. Berikut penjelasan tentang norma utama yng meliputi norma kelaziman, norma hukum, norma kesusilaan, norma agama, norma kesopanan, dan mode
1) Norma Kelaziman/Folkways
Norma kelaziman, yaitu norma yang diikuti tanpa berpikir panjang, melainkan hanya didasarkan atas tradisi atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Folkways ini, lebih luas dari Custom. Custom, yaitu cara-cara bertindak yang telah diterima oleh masyarakat, misalnya: cara mengangkat topi, cara duduk, cara makan, cara-cara peminangan, dan lain-lainnya. Volkways dan Custom keduanya tidak memerlukan sanksi (ancaman hukuman untuk berlakunya). Biasanya orang-orang yang menyimpang dari kelaziman dianggap aneh, gila, ditertawakan, diejek, dan lain-lainnya. Misalnya: cara makan, minum, berpakaian, bersepatu, berbicara, tertawa, menerima tamu, memberi salam, dan sebagainya. Kesemuanya mengikuti contoh-contoh Volkwaysatau Custom. Penyimpangan terhadap norma kelaziman tersebut tidak mendatangkan kekacauan.

2) Norma Hukum
Norma hukum, yaitu norma yang berasal dari pemerintah berupa peraturan, instruksi, ketetapan, keputusan, dan undang-undang. Norma hukum dapat  dibedakan menjadi 2 macam.
a)  Norma hukum yang tertulis
Norma hukum yang tertulis misalnya: hukum pidana dan hukum perdata.
b)  Norma hukum yang tidak tertulis
Norma hukum yang tidak tertulis misalnya: hukum adat. Adanya aturan-aturan ini, kepada orang yang melanggarnya akan mendapat sanksi atau hukuman.

3) Norma Kesusilaan/Mores
Norma kesusilaan, yaitu norma yang berasal dari kebiasaan yang dibuat manusia sebagai anggota masyarakat misalnya sopan santun dan tingkah laku.

Norma kesusilaan biasanya dihubungkan dengan keyakinan keagamaan. Barang siapa melanggar kesusilaan, biasanya tidak ada hukumnya secara langsung. Si pelanggar biasanya diisolir (diasingkan) oleh masyarakat dan menjadi pembicaraan masyarakat.

Masyarakat biasanya mengamat-amati kepada anggota-anggotanya, apakah ada yang menyimpang dari norma kesusilaan atau tidak. Bila ternyata ada penyimpangan norma kesusilaan maka mereka berani melancarkan ejekan-ejekan, sindiran-sindiran, atau memaksa dan mengusir orang itu untuk meninggalkan tempat tinggalnya. Tindakan-tindakan masyarakat yang demikian itu disebut social pressure(social control).

4) Norma Agama
Norma agama, yaitu norma yang berasal dari Tuhan, berisi perintah, larangan, dan anjuran yang menyangkut hubungan antarmanusia, dan hubungan  manusia dengan Tuhan. Norma agama berfungsi sebagai petunjuk dan pegangan hidup bagi umat manusia yang berasal dari Tuhan yang berisikan perintah dan larangan. Pelanggaran terhadap norma agama mendapatkan sanksi dosa dan di masukkan ke dalam neraka ketika di akhirat nanti.

5) Norma Kesopanan
Norma kesopanan, yaitu norma yang berasal dari hati nurani tiap manusia dalam masyarakat. Wujud norma kesopanan itu berupa aturan dan kebiasaan yang dilakukan manusia sebagai anggota masyarakat agar dipandang baik, tertib, dan menghargai sesamanya. Contoh norma kesopanan yaitu berpakaian rapi, berlaku jujur, dan sebagainya.

6) Mode (Fashion)
Mode biasanya dilakukan dengan meniru atau iseng saja. Biasanya mode ini di dalam masyarakat berkembangnya sangat baru. Cita-cita dan konsepsi baru itu mempunyai dasar yang lebih dalam dan mencerminkan perubahan kemasyarakatan. Gaya umumnya dapat kita amati di bidang seni rupa, seni suara, literatur, arsitektur bangunan, dekorasi rumah, dan lain-lain cepat. Pada dasarnya orang mengikuti mode untuk mempertinggi gengsi menurut pandangan pribadi masing-masing.
Contoh: Mode rambut, mode celana, mode pakaian mini, mode tarian, mode rumah, mode lagu, mode mobil, mode sepeda motor, dan lain-lain.

Masyarakat kadang-kadang senang meniru cara dan gaya hidup yang digunakan orang lain. Dari segi mental, kadang-kadang kita belum siap menerimanya. Akhirnya, terjadilah cultural lag(kesenjangan budaya).
Contoh: Di kota banyak didirikan tempat rekreasi atau tempat peristirahatan yang menyediakan hiburan dengan suasana alam. Dalam kenyataannya masyarakat belum memahami bahwa kebersihan merupakan bagian dari keindahan alam tempat rekreasi itu sehingga mereka membuang sampah di sembarang tempat, ada yang corat-coret.

Mode berbeda dengan gaya (style) walaupun keduanya berhubungan. Mode banyak dipengaruhi oleh gaya. Gaya merupakan penjelmaan dari cita-cita dan konsep keindahan baru serta teknologi.

Demikian penjelasan singkat tentang macam-macam atau jenis-jenis norma sosial yang terdiri dari norma tidak resmi dan norma resmi, dan norma  utama yang dibagi atas enam golongan, yaitu norma kelaziman, norma hukum, norma kesusilaan, norma agama, norma kesopanan, dan mode. Semoga artikel kami yang membahas tentang macam-macam atau jenis-jenis norma sosial yang terdiri dari norma tidak resmi dan norma resmi, dan norma  utama yang dibagi atas enam golongan, yaitu norma kelaziman, norma hukum, norma kesusilaan, norma agama, norma kesopanan, dan mode bermanfaat untuk para pembaca.

Pengertian Norma Sosial dan Fungsi Norma Sosial

Pengertian Norma Sosial dan Fungsi Norma Sosial

Pengertian Norma Sosial dan Fungsi Norma Sosial

1.      Pengertian Norma Sosial

Norma adalah aturan-aturan yang dilengkapi dengan sanksi-sanksi kepada orang yang melanggarnya. Atau dikatakan seperangkat tatanan baik yang tertulis maupun tidak tertulis, yang berlaku, dan merupakan pedoman sehari-hari dalam masyarakat. Dalam pelaksanaan, norma berlaku di segala bidang kehidupan misalnya kesenian, keagamaan, adatistiadat, dan  pendidikan.

Norma sosial dibuat oleh manusia agar nilai-nilai sosial yang ada dapat dipatuhi dan dilaksanakan oleh semua warga masyarakat. Apabila di dalam masyarakat telah menjalankan norma sosial yang berisi nilai-nilai maka di dalam masyarakat akan tercipta suatu tata hubungan yang harmonis tanpa adanya pelanggaran terhadap hak-hak setiap individu dalam masyarakat.

Jadi, dapat ditegaskan bahwa norma sosial adalah aturan-aturan dengan sanksi-sanksi sebagai pedoman untuk melangsungkan hubungan sosial dalam masyarakat yang berisi perintah, larangan, anjuran agar seseorang dapat bertingkah laku yang pantas guna menciptakan ketertiban, keteraturan, dan kedamaian dalam bermasyarakat.

(Baca artikel lengkap lain tentang : Macam-macam/Jenis-jenis Norma Sosial)

Di dalam masyarakat norma-norma sosial yang ada mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Ada norma sosial yang berdaya ikat lemah, sedang, maupun kuat. Umumnya, anggota masyarakat tidak berani melanggar norma yang berdaya ikat kuat. Untuk dapat membedakan kekuatan mengikat norma-norma tersebut, dikenal empat pengertian norma, yaitu sebagai berikut.

a. Pengertian Norma sebagai Cara (Usage)

Proses interaksi yang terus menerus akan melahirkan pola tertentu yang disebut cara (usage). Cara (usage) adalah suatu bentuk perbuatan tertentu yang dilakukan individu dalam suatu masyarakat tetapi tidak secara terus-menerus. Sanksi yang diberikan hanya berupa celaan. Norma ini mempunyai kekuatan yang lemah dibanding norma lain. Misalnya, bersendawa dengan keras di kelas, berpakaian seragam yang seksi ke sekolah, dan lain-lain.

b. Pengertian Norma sebagai Kebiasaan (Folkways)

Kebiasaan (folkways) adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulangulang dengan cara  yang sama. Hal ini juga menunjukkan bahwa orang tersebut menyukai perbuatan itu. Sanksi terhadap pelanggaran norma ini berupa teguran, sindiran, dan dipergunjingkan. Sebagai contoh: berpamitan kepada orang tua ketika keluar rumah, memberikan salam ketika bertemu dengan orang yang dikenal, dan lain-lain.

c. Pengertian Norma sebagai Tata kelakuan (Mores)

Tata kelakuan (mores) adalah sekumpulan perbuatan yang mencerminkan sifat-sifat hidup dari sekelompok manusia yang dilakukan secara sadar guna melaksanakan pengawasan oleh kelompok terhadap anggota-anggotanya. Pelanggaran terhadap folkways (norma kebiasaan) akan dianggap aneh tetapi pelanggaran terhadap mores akan dikucilkan atau dikutuk oleh sebagian besar masyarakat. sebagai contoh: mempekerjakan anak dibawah umur, suka melakukan perampasan/pemalakan, suka bertindak kekerasan, dan lain-lain. Fungsi tata kelakuan (mores) adalah:
1)  Memberikan batasan pada perilaku individu dalam masyarakat tertentu.
2)  Mendorong seseorang agar sanggup menyesuaikan tindakantindakannya dengan tata  kelakukan yang berlaku di dalam kelompoknya.
3) Membentuk solidaritas antara anggota-anggota masyarakat dan sekaligus memberikan perlindungan terhadap keutuhan dan kerja sama antara anggota yang bergaul di dalam masyarakat.

d. Pengertian Norma sebagai Adat istiadat (Customs)

Tata kelakuan yang kekal dan kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat dapat mengikat menjadi adat istiadat (customs). Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya. Pelanggaran terhadap adat istiadat ini akan menerima sanksi yang keras dari anggota lainnya. Misalnya tradisi upacara adat tentang siklus hidup yang berhubungan pada suku-suku tertentu di Indonesia, ketika anak baru lahir, mulai menginjak tanah, mulai berjalan dan seterusnya sampai ia dewasa dan mati maka akan selalu diadakan upacara-upacara tertentu yang bersifat khusus.

Tetapi kadang-kadang pelanggaran terhadap norma adat tidak mempunyai akibat apa-apa misalnya upacara adat perkawinan suku Jawa seperti siraman tidak banyak masyarakat sekarang yang melakukannya karena biaya yang mahal dan telah bercampurnya dengan kebudayaan lain.

2.      Fungsi Norma Sosial

Norma sosial bagi manusia penting karena norma sosial berfungsi sebagai pedoman bertingkah laku dalam hidup bermasyarakat. Norma sosial memiliki fungsi sebagai berikut.
a. Fungsi norma sosial sebagai aturan atau pedoman tingkah laku dalam masyarakat.
b. Fungsi norma sosial sebagai alat untuk menertibkan dan menstabilkan kehidupan sosial.
c. Fungsi norma sosial sebagai sistem kontrol sosial dalam masyarakat.

Selan fungsi norma sosial yang telah disebutkan di atas, Selo Soemardjan juga mengemukakan tentang fungsi norma sosial di masyarakat. Menurut Selo Soemardjan, fungsi norma sosial yaitu sebagai Berikut
a.   Fungsi norma sosial sebagai pedoman hidup yang berlaku untuk semua warga masyarakat.
b.   Fungsi norma sosial pengikat setiap anggota masyarakat sehingga berakibat memberikan sanksi terhadap anggota masyarakat yang melanggarnya.

Dengan adanya norma sosial kita mengerti apa yang boleh kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan.

(Baca artikel lengkap lain tentang : Peran Nilai dan Norma dalam Masyarakat)

Demikian penjelasan singkat tentang norma sosial yang meliputi pengertian norma sosial dan fungsi norma sosial. Semoga artikel kami yang membahas tentang norma sosial yang meliputi pengertian norma sosial dan fungsi norma sosial bermanfaat untuk para pembaca.

Macam-macam Nilai Sosial dan Fungsi Nilai Sosial

Macam-macam Nilai Sosial dan Fungsi Nilai Sosial

Macam-macam Nilai Sosial dan Fungsi Nilai Sosial


Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang pengertian nilai sosial, ciri-ciri nilai sosial, dan sumber-sumber nilai sosial. Sekarang kita akan membahas tenatng macam-macam nilai sosial dan fungsi nilai sosial. Berikut penjelasan tentang macam-macam nilai sosial dan fungsi nilai sosial.

Macam-Macam Nilai Sosial

Macam-macam nilai sosial berdasarkan ciri sosialnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu nilai dominan dan nilai yang mendarah daging. Berikut ini merupakan macam-macam nilai sosial :
a. Nilai dominan
Nilai dominan yaitu nilai yang dianggap lebih penting dibandingkan nilai lainnya. Ukuran dominan atau tidaknya suatu nilai didasarkan pada hal-hal berikut ini.
1)  Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut
Contohnya: hampir semua orang/masyarakat menginginkan perubahan ke arah perbaikan di segala bidang kehidupan, seperti bidang politik, hukum, ekonomi dan sosial.
2)  Lamanya nilai itu digunakan
Contohnya: dari dulu sampai sekarang Kota Solo dan Yogyakarta selalu mengadakan tradisi sekaten untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. yang diadakan di alun-alun keraton dan di sekitar Masjid Agung.
3)  Tinggi rendahnya usaha yang memberlakukan nilai tersebut
Contohnya: menunaikan ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan umat Islam yang mampu. Oleh karena itu, umat Islam selalu berusaha sekuat tenaga untuk dapat melaksanakannya. Prestise/kebanggaan orang-orang yang menggunakan nilai dalam masyarakat. Contohnya: memiliki mobil mewah dan keluaran terakhir dapat memberikan kebanggaan/prestise tersendiri.

b. Nilai yang mendarah daging
Nilai yang mendarah daging yaitu nilai yang telah menjadi kepribadian dan kebiasaan. Seseorang melakukannya seringkali tanpa proses   berfikir atau pertimbangan lagi. Biasanya nilai tersebut telah tersosialisasi sejak seseorang masih kecil. Jika ia tidak melakukannya maka ia akan merasa malu bahkan merasa sangat bersalah. Contohnya: seorang guru melihat siswanya gagal dalam ujian akhir akan merasa telah gagal mendidiknya

Selain macam-macam nilai sosial yang disebutkan di atas, ada macam-macam nilai sosial lain. Beberapa macam nilai sosial  lainnya antara lain sebagai berikut.
a.   Nilai yang berhubungan dengan kebendaan (bersifat ekonomi).
Nilai ini diukur dari kedayagunaan usaha manusia untuk mencukupi kebutuhannya.
b.   Nilai yang berhubungan dengan kesehatan.
Nilai ini erat hubungannya dengan unsur biologis, manusia selalu berusaha agar sehat jiwa raganya.
c.   Nilai yang berhubungan dengan undang-undang atau peraturan negara.
Nilai ini merupakan pedoman bagi setiap warga negara agar mengetahui hak dan kewajibannya.
d.   Nilai yang berhubungan dengan pengetahuan.
Nilai pengetahuan mengutamakan dan mencari kebenaran sesuai konsep keilmuannya.
e.   Nilai yang berhubungan dengan agama atau kepercayaannya.
Nilai ini bersumber dari ajaran agama yang menjelaskan tentang sikap, perilaku, perbuatan, dan larangan bagi manusia.
f.    Nilai yang berhubungan dengan keindahan.
Nilai keindahan merupakan salah satu aspek kebudayaan, misalnya seni musik, seni tari, seni lukis, dan lain-lainnya

(Baca artikel lengkap lain tentang : Pengertian Nilai Sosial)

Fungsi Nilai Sosial

Dalam kenyataan sehari-hari, setiap manusia, kelompok, maupun masyarakat selalu dituntut untuk bersikap dan bertingkah laku berdasarkan nilai-nilai dasar (nilai budaya) yang merupakan pandangan hidup atau pedoman hidup yang dipilih secara selektif dari nilai-nilai yang ada. Contoh Pancasila sebagai dasar dan pandangan hidup bangsa merupakan kristalisasi nilai-nilai budaya luhur bangsa Indonesia.

Apabila dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari sangat sulit menentukan nilai budaya yang dianut oleh seseorang, kelompok, atau masyarakat. Hal ini terjadi sebab nilai budaya itu bersifat relatif. Menurut Kluckhohnsemua nilai dalam setiap kebudayaan pada dasarnya mencakup lima masalah pokok, yaitu sebagai berikut.
a.      Nilai Mengenai Hakikat Karya Manusia
Misalnya, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa manusia berkarya untuk mendapatkan nafkah, kedudukan, dan kehormatan.
b.      Nilai Mengenai Hakikat Hidup Manusia
Misalnya, ada yang memahami bahwa hidup itu buruk, hidup itu baik, dan hidup itu buruk, tetapi manusia wajib berikhtiar supaya hidup itu baik.
c.      Nilai Mengenai Hakikat Kedudukan Manusia Dalam Ruang dan Waktu Misalnya, ada yang berorientasi ke masa lalu, masa kini, dan masa depan.
d.      Nilai Mengenai Hakikat Hubungan Manusia Dengan Alam
Misalnya, ada yang beranggapan bahwa manusia tunduk kepada alam, menjaga keselarasan dengan alam, atau berhasrat menguasa alam.
e.      Nilai Mengenai Hakikat Manusia Dengan Sesamanya
Misalnya, ada yang berorientasi kepada sesama, ada yang berorientasi kepada atasan, dan ada yang mementingkan diri sendiri.

Nilai bagi manusia berfungsi sebagai landasan, alasan, atau motivasi dalam segala tingkah laku dan perbuatannya. Nilai mencerminkan kualitas pilihan tindakan dan pandangan hidup seseorang atau masyarakat. Sebuah interaksi sosial memerlukan pertimbangan nilai baik itu dalam mendapatkan hak maupun dalam menjalankan kewajiban. Dengan demikian, nilai mengandung standar normatif dalam perilaku individu maupun dalam masyarakat.
Adapun fungsi nilai sosial sebagai berikut.
a.      Fungsi nilai sosial sebagai alat untuk menentukan harga atau kelas sosial seseorang dalam struktur stratifikasi sosial. Misalnya kelompok ekonomi kaya (upper class), kelompok ekonomi menengah (middle class) dan kelompok masyarakat kelas rendah (lower class).
b.      Fungsi nilai sosial untuk mengarahkan masyarakat untuk berfikir dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat (berperilaku pantas).
c.      Fungsi nilai sosial untuk memotivasi atau memberi semangat pada manusia untuk mewujudkan dirinya dalam perilaku sesuai dengan yang diharapkan oleh peran-perannya dalam mencapai tujuan.
d.      Fungsi nilai sosial sebagai alat solidaritas atau pendorong masyarakat untuk saling bekerja sama untuk mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai sendiri.
e.      Fungsi nilai sosial sebagai pengawas, pembatas, pendorong dan penekan individu untuk selalu berbuat baik.

Nilai memegang peranan penting dalam setiap kehidupan sebab nilainilai menjadi orientasi  dalam setiap tindakan melalui interaksi sosial. Nilai sosial itulah yang menjadi sumber dinamika masyarakat. Apabila nilai nilai sosial itu lenyap dari masyarakat maka seluruh kekuatan akan hilang.
Fungsi nilai dalam interaksi sosial sebagai berikut.
a.      Fungsi nilai sosial dalam mengatur cara-cara berpikir dan bertingkah laku secara ideal. Hal ini terjadi karena anggota masyarakat selalu dapat melihat cara bertindak dan bertingkah laku yang terbaik, dan dapat mempengaruhi dirinya sendiri.
b.      Fungsi nilai sosial untuk mengembangkan seperangkat alat yang siap dipakai untuk menetapkan harga sosial dari pribadi/grup. Nilai-nilai ini memungkinkan sistem stratifikasi dalam masyarakat.
c.      Fungsi nilai sosial sebagai alat pengawas dengan daya tahan dan daya mengikat tertentu. Mereka mendorong, menuntun, dan kadangkadang menekan  manusia untuk berbuat yang tidak baik.
d.      Fungsi nilai sosial sebagai alat solidaritas di kalangan anggota grup dan masyarakat.
e.      Fungsi nilai sosial sebagai penentu terakhir bagi manusia dalam memenuhi peranan-peranan sosialnya. Mereka menciptakan minat dan memberi semangat pada manusia untuk mewujudkan apa yang diminta dan diharapkan, menuju terciptanya cita-cita.

(Baca artikel lengkap lain tentang : Ciri-ciri, Tolak Ukur, Sumber, dan Jenis Nilai Sosial)

Demikian penjelasan singkat tentang nilai sosial yang meliputi macam-macam nilai sosial dan fungsi nilai sosial. Semoga artikel kami yang membahas tentang nilai sosial yang meliputi macam-macam nilai sosial dan fungsi nilai sosial bermanfaat untuk para pembaca.

Ciri-ciri, Tolak Ukur, Sumber, dan Jenis Nilai Sosial

 Ciri-ciri, Tolak Ukur, Sumber, dan Jenis Nilai Sosial


 Ciri-ciri, Tolak Ukur, Sumber, dan Jenis Nilai Sosial

Ciri-ciri nilai sosial, tolak ukur nilai sosial, sumber nilai sosial, dan jenis nilai sosial akan menjadi bahasan kita dalam artikel ini. Nilai merupakan tujuan yang ingin dicapai. Nilai sosial ditentukan berdasarkan ukuran, patokan, anggapan, dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat dalam suatu lingkungan kebudayaan tertentu tentang apa yang pantas, luhur, dan baik, yang berdaya guna fungsional demi kebaikan hidup bersama.

Sosiologi merumuskan nilai berdasarkan data yang ditemukan di dalam masyarakat. Data itu diangkat dari pengalaman orang banyak, baik dari masa lampau maupun masa sekarang. Anggota masyarakat tentu mengalami sendiri atau bersama-sama, daya guna, gotong-royong, musyawarah, jembatan layang, lalu lintas, taman hiburan, dan sebagainya. Mereka menghargainya, baik secara terang-terangan, maupun diam-diam. Penghargaan yang mereka berikan itulah yang disebut nilai sosial.

(Baca artikel lengkap lain tentang : Pengertian Nilai Sosial)

a. Ciri-ciri Nilai Sosial

Untuk lebih memahami nilai-nilai sosial, maka kalian perlu tahu ciri-ciri nilai sosial yang ada di masyarakat. Beberapa ciri-ciri nilai sosial sebagai berikut.
1.      Nilai sosial merupakan konstruksi masyarakat yang tercipta melalui interaksi di antara para anggota masyarakat. Nilai tercipta secara sosial bukan secara biologis atau bawaan sejak lahir.
2.      Nilai sosial dipelajari dan bukan bawaan lahir. Proses belajar dan pencapaian nilai-nilai itu sejak kanak-kanak melalui proses sosialisasi keluarga.
3.      Nilai sosial ditularkan dari suatu kelompok ke kelompok yang lain, melalui berbagai macam proses sosial. Bila nilai itu berwujud kebudayaan, dapat ditularkan melalui akulturasi, difusi, dan sebagainya.
4.      Nilai memuaskan manusia dan mengambil bagian dalam usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial. Nilai yang telah disetujui dan diterima secara sosial menjadi dasar tindakan dan tingkah laku, baik secara pribadi maupun secara kelompok, dan secara keseluruhan. Nilai juga membantu masyarakat agar dapat berfungsi baik. Sistem nilai sosial sangat penting untuk pemeliharaan kemakmuran dan kepuasan sosial bersama.
5.      Masing-masing nilai mempunyai efek yang berbeda terhadap orang perorangan dan masyarakat sebagai keseluruhan.
6.      Nilai dapat mempengaruhi pengembangan pribadi dalam masyarakat baik positif dan negatif.

b. Tolak Ukur Nilai Sosial

Tolak ukur nilai sosial, yaitu daya guna fungsional suatu nilai dan kesungguhan penghargaan, penerimaan, atau pengakuan yang diberikan oleh seluruh atau sebagian besar masyarakat terhadap nilai sosial tersebut.

Disebut daya guna fungsional, sebab setiap objek dihargai menurut fungsinya dalam struktur dan sistem masyarakat yang bersangkutan. Jadi, penghargaan yang diberikan berbeda-beda, tergantung pada besar kecilnya fungsi. Presiden mendapat nilai sosial lebih tinggi daripada menteri sebab fungsi presiden dinilai lebih tinggi daripada fungsi menteri. Candi Borobudur dan Candi Mendut mendapat nilai sosial yang berbeda. Candi Borobudur dihargai lebih tinggi sebab dinilai mempunyai nilai sosiokultural yang lebih besar daripada Candi Mendut, Borobudur dikenal orang di seluruh dunia.

Dari kehidupan sehari-hari ternyata masyarakat terus berubah. Oleh karena itu, tidak ada tolak ukur nilai sosial yang bersifat kekal yang ada dan dapat dibuat hanyalah tolak ukur nilai sosial sementara. Supaya tolak ukur nilai sosial  menjadi bersifat tetap, harus dipenuhi 2 syarat sebagai berikut.
1)  Penghargaan itu harus diberikan dan disetujui oleh seluruh atau sebagian besar anggota masyarakat, jadi bukan didasarkan atas keinginan penilaian individu.
2)  Tolak ukur itu harus diterima sungguh-sungguh oleh minimal sebagian besar masyarakat

Penghargaan dan kesungguhan penerimaan itu harus diketahui dan diukur berdasarkan kuantitas dan kualitas, pengorbanan yang dilakukan masyarakat. Untuk mempertahankan kelestarian tolak ukur itu, juga harus ada sanksi yang dikenakan apabila ada yang melanggar kesepakatan bersama. Di samping itu manusia juga dapat mengetahui intensitas penerimaan itu dari luapan emosi masyarakat, apabila ada tindakan yang akan menghancurkan.

(Baca artikel lengkap lain tentang : Macam-macam Nilai Sosial dan Fungsi Nilai Sosial)

c. Sumber-sumber Nilai Sosial

Sumber-sember nilai sosial berasal dari daya guna fungsional yang diakui dan diberikan masyarakat kepada segala kreasi manusia yang disebut kebudayaan. Sumber nilai sosial itu terletak di luar orang atau barang yang dihargai itu. Sumber nilai sosial terletak di dalam masyarakat itu sendiri, sejauh masyarakat mengetahui dan mengalami kegunaan atau jasa-jasa orang dan barang tersebut. Sumber nilai sosial yang terletak di luar orang atau benda yang bernilai itu disebut sumber ekstrinsik.

Selain sumber nilai sosial yang ekstrinsik, ada pula sumber nilai sosial intrinsik. Pada masyarakat sebagian terdapat golongan manusia yang sejak lahir belum pernah menunjukkan jasa bagi masyarakat. Mereka para penyandang cacat tubuh, mental, dan yatim piatu. Mereka disebut orang-orang yang tidak mempunyai daya guna fungsional bagi masyarakat, tetapi ternyata ada anggota masyarakat mau menyisihkan waktu dan uang bagi mereka, mengasuh, dan merawat mereka. Kesediaan sejumlah orang untuk mengasuh mereka sama sekali tidak didasarkan pada daya guna fungsional yang praktis tidak mereka miliki, melainkan pada nilai harkat dan martabat manusia. Dapat dikatakan bahwa nilai intrinsik dari nilai sosial adalah harkat dan martabat manusia itu sendiri.

Mutu dan nilai manusia diakui lebih tinggi dari pada makhluk-makhluk lain karena manusia   merupakan makhluk yang berpribadi. Manusia mempunyai hak-hak azasi yang tidak dapat dilanggar, tetapi harus dihormati dan dijunjung tinggi. Manusia berhak dilindungi undang-undang, bila manusia terlantar dan menderita, ia mempunyai hak untuk mendapat pertolongan dari sesama manusia. Di dalam masyarakat, nasional maupun internasional, banyak ditemukan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia, seperti diskriminasi, perbudakan, dan perang.

Demikian penjelasan singkat tentang nilai sosial yang meliputi ciri-ciri nilai sosial, tolak ukur nilai sosial, sumber  nilai sosial, dan jenis nilai sosial. Semoga artikel kami yang membahas tentang nilai sosial yang meliputi ciri-ciri nilai sosial, tolak ukur nilai sosial, sumber  nilai sosial, dan jenis nilai sosial bermanfaat untuk para pembaca.