Organisasi Pergerakan Nasional Indische Partij (IP)

 Organisasi Pergerakan Nasional  Indische Partij (IP)


Organisasi Pergerakan Nasional  Indische Partij (IP)

A.     Indische Partij (IP) Sebagai Salah Satu dari Organisasi Pergerakan Nasional

Indische Partij (IP). Indische Partij (IP) itu apa? Indische Partij (IP) untuk apa dipelajari? Mengapa nama organisasi Indische Partij (IP) menggunakan istilah asing? Pada awal abad ke-20, di Nusantara muncul berbagai kelompok dan organisasi yang memiliki konsep nasionalisme yaitu organisasi pergerakan kemerdekaan Indonesia antara lain : Budi Utomo (BU), Sarekat Dagang Islam (kemudian menjadi Sarekat Islam), Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Nasional Indonesia (PNI), Indische Partij (IP), Perhimpunan Indonesia, Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI), Partai Indonesia Raya (Parindra), Gabungan Politik Indonesia (Gapi), Gerakan dan Organisasi Pemuda, Organisasi Kepanduan, Gerakan Wanita, dan organisasi lainnya.. Munculnya organisasi-organisasi itu mendanai fase perubahan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Kalau sebelumnya berupa perlawanan fisik kedaerahan menjadi pergerakan nasional yang bersifat modern. Organisasi-organisasi itu mengusung tujuan yang sama, yakni untuk lepas dari penjajahan. Indische Partij (IP) merupakan bagian dari organisasi pergerakan nasional.

Indische Partij (IP) merupakan salah satu organisasi pergerakan nasional. Indische Partij (IP) merupakan organisasi pergerakan yang berdasarkan faktor keturunan. Indische Partij (IP) didirikan oleh orang-orang keturunan Indo-Belanda atau campuran (Belanda-Pribumi). Indische Partij (IP) sangat penting kita pelajari agar pengetahuan dan nasionalisme kita bertambah. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang organisasi Indische Partij (IP). Berikut secara singkat uraian tentang organisasi Indische Partij (IP).

B.     Lahirnya Indische Partij (IP)

Lahirnya Indische Partij (IP). Indische Partij merupakan organisasi politik yang anggota-anggotanya berasal dari keturunan campuran Belanda-pribumi (Indo-Belanda) dan orang asli pribumi. Munculnya organisasi Indische Partij (IP) karena adanya sejumlah golongan orang Indo-Belanda yang dianggap lebih rendah kedudukannya dari pada orang Belanda asli. Secara hukum mereka itu masuk dalam bangsa kelas I, karena kedudukan ayahnya yang orang Belanda. Namun demikian secara sosial karena ibunya orang pribumi mereka anggap lebih rendah oleh golongan Belanda. Sejumlah orang dari golongan Indo Belanda itu kemudian mendirikan perkumpulan Indische Bond (1898). E.F.E Douwes Dekker yang kemudian berganti nama Dr. Danudirjo Setiabudhi berkeinginan untuk melanjutkan Indische Bond sebagai organisasi politik yang kuat. Keinginan Douwes Dekker itu semakin menguat saat ia bertemu dengan dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat atau dikenal dengan Ki Hajar Dewantoro. Mereka kemudian dikenal dengan “Tiga Serangkai”.

Douwes Dekker adalah cucu Eduard Douwes Dekker atau Multatuli, seorang penulis Max Havelaar yang membela petani Banten dalam masa Tanam Paksa. Ia seorang campuran ayah Belanda dan ibunya Indo. Pengalaman hidupnya itulah yang menjiwai gerak politiknya. Kedekatannya dengan buruh perkebunan kopi, saat ia menjadi pengawas perkebunan di Jawa, yang menjadi alasan pemerintah Kolonial Belanda untuk memecatnya. Kondisi itulah yang mendorong dia untuk mendirikan organisasi yang bertujuan untuk mendapatkan kemerdekaan bagi Indie (istilah Indonesia pada waktu itu). Bersama-sama dengan Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo maka dibentuklah Indische Partij (IP) pada tahun 1912.

C.     Perjuangan Indische Partij (IP)

Perjuangan Indische Partij (IP). Keinginan Indische Partij (IP) untuk mewujudkan cita-citanya itu mendapat respon positif dari masyarakat saat itu. Keanggotaan Indische Partij (IP) berkembang dengan pesat. Sebagai seorang koresponden surat kabar de Locomotiefdi Semarang, kemudian harian Soerabajasch Handelsblad, Bataviaasch Nieuwsblad, dan akhirnya di majalah Het Tijdschrift dan surat kabar De Expres, Douwes Dekker dengan mudah dapat mengutarakan gagasannya. Ia berpendapat hanya melalui kesatuan aksi melawan kolonial dapat mengubah sistem yang berlaku. Ia juga berpendapat bahwa setiap gerakan politik haruslah mempunyai tujuan akhir, yaitu kemerdekaan. Pendapat itulah yang kemudian ditulis dalam Het Tijdschriftdan De Expres.

Kedekatan Douwes Dekker dengan pelajar STOVIA di Jakarta membuka peluang bagi pemuda terpelajar saat itu untuk menuangkan gagasan-gagasan mereka dalam surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad, saat ia menjadi redaktur surat kabar itu. Pengaruh Budi utomo juga mendasari jiwa Douwes Dekker saat ia melakukan propaganda ke seluruh Jawa dari tanggal 15 September hingga 3 Oktober 1912. Dalam perjalanannya itu ia menyelenggarakan rapat-rapat dengan elit lokal di Yogjakarta, Surakarta, Madiun, Surabaya, Tegal, Semarang, Pekalongan, dan Cirebon. Dalam pertemuannya dengan para tokoh elit Budi Utomo itu Douwes Dekker mengajak membangkitkan semangat golongan bumiputera untuk menentang penjajah. Kunjungannnya itu menghasilkan tanggapan positif di kota-kota yang dikunjunginya. Dari itulah Indische Partij (IP) kemudian mendirikan 30 cabang dengan jumlah anggota 730 orang. Kemudian terus bertambah hingga mencapai 6000 orang yang terdiri dari orang Indo dan bumiputera.

Dalam Anggaran Dasar Indische Partij (IP) disebutkan, untuk membangun patriotisme Bangsa Hindia kepada tanah airnya yang telah memberikan lapangan hidup, dan menganjurkan kerjasama untuk persamaan ketatanegaraan guna memajukan tanah air Hindia dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka.

D.     Melemahnya Indische Partij (IP)

Bagi pemerintah kolonial keberhasilan Indische Partij (IP) mendapat simpatisan dari masyarakat merupakan suatu yang berbahaya. Organisasi Indische Partij (IP) kemudian dinyatakan sebagai organisasi terlarang dan berbahaya (pertengahan 1913). Pemimpin organisasi Indische Partij (IP)  kemudian ditangkap dan dibuang. Douwes Dekker diasingkan ke Timor, Kupang. Cipto Mangunkusumo dibuang ke Bkamu. Suwardi Suryaningrat dibuang ke Bangka. Tiga Serangkai itu kemudian dibuang ke Negeri Belanda. Pembuangan Tiga Serangkai itu membawa dampak luas, tidak saja di Hindia Belanda, akan tetapi juga di Negara Belanda. Di Hindia Belanda, keberadaan mereka semakin mendorong bumiputera untuk memperjuangkan hak-haknya. Sementara di Negeri Belanda menjadi perdebatan politik di kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Belanda tentang pergerakan rakyat Indonesia.

Karena alasan kesehatan, pada 1914 Cipto Mangunkusumo dipulangkan ke Indonesia. Douwes Dekker dipulangkan pada 1917 dan Ki Hajar Dewantoro dipulangkan pada 1918. Setelah Indische Partij (IP) dibubarkan dan pimpinan Indische Partij (IP)  menjalankan pembuangan organisasi itu kemudian bernama Insulinde. Namun organisasi Indische Partij (IP)  kurang mendapat sambutan dari masyarakat. Kemudian tahun 1919 Indische Partij (IP) berganti nama menjadi Nationaal Indische Partij (NIP). Ki Hajar Dewantoro kemudian mendirikan Perguruan Taman Siswa (1922), sebagai badan perjuangan kebudayaan dan perjuangan politik.

Walaupun Indische Partij (IP) sudah mengalami kemunduran, tetapi perjuangan bangsa Indonesia untuk terbebas dari praktik kolonialisme masih terus berlangsung. Indische Partij (IP) mungkin sudah runtuh, tetapi setelah itu bermunculan organisasi-organisasi lain. Demikian artikel kami tentang Indische Partij (IP). Semoga artikel kami tentang Indische Partij (IP) bermanfaat bagi para pembaca.

Artikel Terkait

Silahkan Dibagikan

Selanjutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »

Silahkan berkomentar . . EmoticonEmoticon