Son Guku Dideportasi dari Indonesia

Son Guku Dideportasi dari Indonesia

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang lahir pada era 80-90an, nama Son Goku pasti sudah tidak asing lagi. Iya, Son Goku adalah salah tokoh utama dalam serial kartun Dragon Ball, anime Jepang yang dikarang oleh Akira Toriyama dari tahun 1984 sampai 1995. Di Indonesia, film tersebut tayang pertama kali di Stasiun TV Indosiar yang tayang pada tahun 90an sampai tahun 200an. Pada tahun 2015, serial film kartun tersebut ditayangkan lagi oleh Global TV.

Pada penayangan yang pertama oleh Indosiar pada tahun 90an, Film tersebut sangat digandrungi oleh anak-anak. Anak-anak banyak melakukan pengorbanan hanya untuk menonton film tersebut yang hanya berdurasi 30 menit di hari  minggu. Anak-anak dulu sering nonton bareng karena masih jarang orang yang memiliki TV. Ada banyak sekali nilai-nilai positif yang bisa dipetik dari film Dragon Ball, di antaranya adalah . . .

1.      Son Goku adalah orang terkuat di dunia, dia tetap tidak berkeinginan untuk menguasai Dunia.
2.      Son Goku adalah orang terkuat di dunia, dia tetap tidak berani dengan perempuan, khususnya istrerinya.
3.      Son Goku tidak tertarik dengan uang yang melimpah ataupun pagkat. Dia hanya tertarik dengan hobinya yaitu bertarung.
4.      Son Goku selalu memberi harapan maaf kepada musuh-musuhnya.
5.      Ungkapan orang-orang penggemar sinetron yang bilang bahwa Dragon Ball mengajarkan kekerasan tidak semuanya benar. Anak-anak penggemar film Son Goku sebagian besar menjadi pribadi yang baik , misalnya saya dan teman-teman.
6.      Para penggemar anime cenderung lebih kooperatif untuk  diajak bekerja sama. Hal ini terbukti dengan adanya perkumpulan penggemar film Dragon Ball di banyak  tempat.

Akan tetapi sungguh disayangkan. Kedatangan film Dragon Ball untuk kedua kalinya melalui Global TV tidak tidak seperti kedatangan yang pertama. Walaupun animo penggemar dan rating tinggi, tidaklah cukup kuat untuk membuat film tersebt bertahan lama di Indonesia. Melalui Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), film tersebut tidak boleh ditayangkan karena mengandung kekerasan yang berpotensi ditiru oleh anak-anak yang menyaksikannya. Orang tua yang over protektif  khawatir dan takut anak-anak mereka akan meniru adegan kekerasan yang ada di film tersebut.

Para penggemar film tersebut banyak yang kecewa dengan keputusan dari KPI. Hal ini memang beralasan kuat. Sebagai pembanding, kenapa film atau sinetron yang mengajarkan kedengkian, kesombongan, dendam, emosional, ketidaksopanan, dan tidak layak untuk siswa sekolah diperbolehkan tayang akan tetapi film kartun Dragon Ball tidak diperbolehkan tayang.

Bagikan Artikel

Selanjutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »

Silahkan berkomentar . . EmoticonEmoticon