Industri Ukir Terancam Hilang

Industri Ukir Terancam Hilang













JEPARA – Industri ukir di Jepara yang selama 15 tahun menjadi pilar utama Produk Domestik Regional Brutto (PDRB) terancam menghilang.

Dari sejumlah lini, industri ini kalah segalanya. Hal itu dikemukakan dosen Fakultas Sains dan Teknologi Unisnu Jepara, Sutarya dalam pertemuan Forum Koordinasi Informasi dan Kehumasan Kabupaten (FKIK) Jepara, Selasa (3/11) di Pendapa Kabupaten Jepara. Anggota FKIK diingatkan tentang kelemahan dan ancaman industri kerajinan ukir, bahkan industri mebel secara umum.

Dalam paparannya, Sutarya yang juga dikenal sebagai penggiat seni ukir Jepara ini menegaskan, sejumlah permasalahan yang ada dalam industri ini yakni mengenai tingkat efisiensi dan produktifitas yang rendah, belum adanya standar ekspor, lemahnya penjulan langsung, rendahnya SDM di bidang manajerial, kurangnya promosi dan serta lamban menggapi isu-isu internasional.

Di samping itu, Jepara juga menghadapi ancaman kemungkinan boikot produk kayu tropis serta munculnya pesaing baru seperti Vietnam, Malaysia dan China. Tradisi banting harga, penerapan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan harga kayu yang selalu naik tiap dua hingga tiga tahun juga merupakan ancaman kongkrit.

Meski Jepara memiliki kekuatan mulai tenaga kerja yang didukung dengan adanya lembaga pendidikan dengan jurusan ukir, pola home industri, dan pengakuan hak kekayaan intelektual dari indikasi geografis untuk mebel ukir, tapi dengan ketika permasalah dan kelemahan tidak mendapat solusi, maka tetap akan jatuh.

Optimistis

Dengan adanya respon untuk menanggapi masalah itu, Sutarya optimistis peluang Jepara masÏh cukup besar karena iklim usaha dan budaya sangat mendukung.

Terlebih lagi pengelolaan usaha jenis home industri lebih luwes sesuaikan dengan permintaan pasar. ”Kita harus segera melakukan langkah-langkah konkrit untuk melestarikan ukir serta menjaga agar tidak di tinggalkan oleh generasi muda,” tandasnya.

Ketua Lembaga Pelestari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara Hadi Priyanto, yang sekaligus ketua FKIK Jepara berharap agar pelestarian mebel ukir menjadi keinginan dan tekat bersama. Sementara Gunardi anggota FKIK Kecamatan Kembang mengusulkan agar semua kantor dan tugu batas kota dan pagarpagar kantor dilengkapi dengan ornamen ukiran.

Candra, anggota FKIK dari Unsur Kodim 0719 meminta agar upah tenaga ukir harus diperhatikan. ”Jangan sampai perajin trampil kita pindah keluar daerah atau bahkan keluar negeri,” tegas Candra. (adp-89)

sumber : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/industri-ukir-terancam-hilang/

Silahkan Dibagikan

Selanjutnya
« Prev Post
First

Silahkan berkomentar . . EmoticonEmoticon